Korea Selatan Bidik Peluang Kerja Sama Energi Nuklir dengan Indonesia
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Korea Selatan tengah melakukan pembahasan dengan Pemerintah Indonesia mengenai peluang kerja sama pengembangan energi nuklir.
Pengembangan ini Korsel anggap perlu dilakukan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan listrik yang bakal makin meningkat seiring makin berkembangnya industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence dan pembangunan pusat data (data center).
Konselor Menteri Bidang Ekonomi Kedutaan Besar Republik Korea di Indonesia Kim Chanwoo mengatakan kedua negara memang telah memiliki komitmen untuk kerja sama pengembangan energi nuklir.
Hal ini sebagaimana termaktub dalam Nota Kesepahaman tentang Kerja Sama Energi Bersih. Melalui kesepakatan ini, kedua negara berencana untuk memperluas kerja sama di bidang energi nuklir.
"Terdapat beberapa bidang potensial untuk kerja sama. Salah satunya adalah pengembangan energi nuklir. Oleh karena itu, terdapat potensi kerja sama di sektor ini, dan diskusi yang produktif sedang berlangsung dengan pihak Indonesia," ujar Kim Chanwoo dalam workshop Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea yang diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan Korea Foundation, dikutip Selasa (3/11/2026).
Kim menekankan, energi nuklir memang bukan termasuk energi terbarukan, tetapi berpotensi menjadi salah satu sumber untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Terlebih, kebutuhan listrik terus meningkat pada era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Peningkatan permintaan tersebut akan menuntut ketersediaan sumber energi, termasuk energi nuklir.
Dia mengatakan Korea Selatan memiliki pengalaman dan teknologi yang baik di bidang pengembangan energi nuklir, termasuk pengalaman mengekspor teknologi energi serta membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di luar negeri. Oleh karena itu, terdapat potensi kerja sama yang dapat dikembangkan dengan Indonesia.
Menyitir data World Nuclear Association, Korea Selatan saat ini memiliki 26 reaktor nuklir yang beroperasi dengan kapasitas pembangkit mencapai 25.609 megawatt electrical (MWe).
Selain itu, terdapat empat reaktor yang masih dalam tahap konstruksi dengan kapasitas 5.360 MWe. Sementara, dua reaktor dalam status penghentian operasi (shutdown) dengan kapasitas 1.239 MWe.
Selain itu, Kim mengatakan area kerja sama lain yang bisa dikembangkan adalah pengembangan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau carbon capture and storage (CCS). Indonesia dan Korea Selatan pun telah menandatangani nota kesepahaman tentang kerja sama mengenai CCS.
Menurut Kim, Indonesia memiliki potensi geologi untuk penyimpanan karbon yang menjadi sasaran Korea Selatan. Sementara itu, Korea Selatan memiliki teknologi industri kelas dunia, kapasitas manufaktur yang maju, investasi modal, serta rekam jejak dalam pelaksanaan proyek yang tepat waktu dan sesuai anggaran.
Berbagai keunggulan yang saling melengkapi ini akan memberikan peluang lebih besar bagi kedua negara untuk berkolaborasi di bidang tersebut.
Kedua negara juga telah membahas upaya mengembangkan kerja sama di bidang CCS. Namun, dia mengatakan kerja sama ini memerlukan banyak kajian dan penelitian teknis sebelum kedua negara melangkah lebih jauh ke tahap pelaksanaan proyek secara spesifik.
Dia mengatakan diskusi mengenai hal tersebut masih berlangsung. Banyak perusahaan yang tertarik untuk memanfaatkan besarnya potensi penyimpanan karbon yang dimiliki Indonesia.
Oleh karena itu, proyek tersebut Kim harap dapat diumumkan setelah pembahasan teknis internal antara kedua negara selesai dilakukan.
(arj/arj)