Won Jadi Bintang Asia: Peso, Rupiah, Yuan - Ringgit Ambruk Berjamaah
Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (3/11/2026), seiring dolar AS yang kembali menguat tipis pagi ini.
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.20 WIB, tujuh dari 10 mata uang Asia yang dipantau melemah terhadap dolar AS. Hanya tiga mata uang yang mampu bertahan di zona hijau.
Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam pagi ini. Won naik 0,38% ke posisi KRW1.341/US$.
Baht Thailand menyusul dengan penguatan 0,09%, sementara yen Jepang naik tipis 0,02%.
Sebaliknya, peso Filipina mengalami tekanan paling dalam setelah melemah 0,47% ke PHP63,444/US$.
Yuan China juga tertekan cukup dalam dengan pelemahan 0,33%, disusul ringgit Malaysia yang turun 0,22% dan dolar Taiwan sebesar 0,19%.
Dolar Singapura terkoreksi 0,13%, sementara dong Vietnam turun 0,09%.
Rupiah juga masih berada di zona merah. Mata uang Garuda melemah tipis 0,03% ke posisi Rp18.145/US$.
Di tengah melemahnya mata uang Asia, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat 0,08% ke posisi 101,822. Pergerakan tersebut berbalik dari sehari sebelumnya ketika DXY turun 0,22% ke 101,76 dan sempat menyentuh 101,42, level terendah sejak 30 September.
Pelemahan dolar pada Senin terjadi bersamaan dengan anjloknya harga minyak dan turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Harga minyak mentah bahkan jatuh sekitar 7% setelah berlanjutnya pembicaraan antara pejabat Iran dan Qatar memunculkan harapan bahwa konflik di Timur Tengah dapat mereda dan gangguan pasokan energi berkurang.
Penurunan tajam harga minyak ikut meredakan kekhawatiran inflasi dan mengurangi sebagian daya tarik dolar AS yang sebelumnya mendapat dukungan dari tingginya harga energi.
"Secara umum yang kita lihat adalah pasar yang cukup tangguh. Minyak WTI kontrak Desember sempat menguji US$105 pada Jumat dan sekarang sudah berada di bawah US$100," ujar Marc Chandler, kepala strategi pasar Bannockburn Capital Markets, dikutip dari Reuters.
Menurut Chandler, kondisi pasar berubah cukup cepat setelah akhir pekan.
"Ketika masuk akhir pekan, semuanya terlihat buruk. Saham turun dan minyak berada di level tertinggi baru. Ketika pasar kembali dibuka, muncul semacam rasa lega bersama," ujarnya.
Namun, dolar AS mulai mendapat sedikit tenaga kembali pada Selasa pagi ketika pasar bersiap menghadapi agenda penting sepanjang pekan.
Pasar Menanti Pemilu Sela dan Data Tenaga Kerja AS
Perhatian utama investor tertuju pada pemilu sela AS pada Selasa waktu setempat. Hasil pemilu akan menentukan komposisi Kongres dan dapat memengaruhi arah kebijakan fiskal pemerintah AS ke depan.
Pasar juga menunggu serangkaian data tenaga kerja sepanjang pekan yang akan ditutup dengan laporan ketenagakerjaan Oktober pada Jumat.
Data tersebut akan menjadi salah satu petunjuk penting mengenai kekuatan ekonomi AS sekaligus arah suku bunga The Federal Reserve/The Fed.
Sinyal dari sektor manufaktur sejauh ini masih cukup kuat. Institute for Supply Management mencatat indeks aktivitas manufaktur AS meningkat menjadi 55,5 pada Oktober, dari 54,5 pada September.
Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur masih berada dalam fase ekspansi. Pada saat yang sama, harga input juga masih tinggi, sehingga kekhawatiran terhadap tekanan inflasi belum sepenuhnya hilang.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)