Kantor Zulhas Ungkap Kondisi Terbaru Kesejahteraan Petani RI
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Koordinator Bidang Pangan mengungkapkan kondisi kesejahteraan petani Indonesia yang diklaim mengalami perbaikan. Hal ini tercermin dari kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) yang meningkat dibandingkan posisi 2024.
Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kemenko Pangan Widiastuti mengatakan, NTP petani pada 2024 tercatat sebesar 116%. Sementara saat ini angkanya telah mencapai 131,33%.
"Tapi kita perlu tahu dari tahun 2024 di mana NTP petani saat itu 116%, saat ini nilai tukar petani sudah 131,33%," kata Widiastuti dalam World Food Day CNBC Indonesia, Jumat (30/10/2026).
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan adanya peningkatan kondisi ekonomi petani. Bahkan, jika dibandingkan dengan pelaku sektor lain seperti nelayan dan peternak, NTP petani saat ini dinilai sudah cukup baik.
"Jadi sudah cukup meningkat dan ini dibandingkan dengan pelaku lain dalam hal ini ada nelayan, kemudian peternak, petani mempunyai NTP yang sudah cukup bagus," ujarnya.
Widiastuti menjelaskan, pemerintah turut menggunakan sejumlah indikator untuk mengevaluasi apakah inovasi dan mekanisasi pertanian benar-benar memberikan manfaat ekonomi bagi petani.
Evaluasi tersebut mencakup produktivitas hasil pertanian, biaya produksi, kebutuhan tenaga kerja, hingga keuntungan yang diperoleh petani setelah menerapkan inovasi.
"Evaluasi yang dilakukan, adanya satu inovasi tersebut ini seberapa menghasilkan efisiensi dan keuntungan untuk pelaku atau dalam hal ini adalah petani seperti itu," jelas dia.
Menurutnya, penggunaan teknologi dan mekanisasi dalam pertanian memang membutuhkan biaya. Karena itu, pemerintah perlu memastikan investasi tersebut sebanding dengan peningkatan produktivitas dan keuntungan yang diterima petani.
"Nah, ini yang kita juga akan melihat karena apakah yang didapat dengan petani itu menguntungkan atau memang bisa meningkatkan kesejahteraan petani," ungkap Widiastuti.
Lebih lanjut, ia menjelaskan NTP merupakan salah satu gambaran kondisi ekonomi petani. Dengan NTP sebesar 131,33, ia menyebut petani memiliki nilai penerimaan yang lebih tinggi dibandingkan pengeluaran yang tercermin dalam indeks tersebut.
"Di mana dengan 100% pekerjaan yang dilakukan dia bisa mendapatkan gain atau keuntungan sebesar 33%. Jadi keuntungan itu bersih," terang dia.
Ia menambahkan, evaluasi terhadap inovasi pertanian akan terus dilakukan untuk memastikan berbagai program pemerintah tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan petani.
"Jadi benar-benar feedback untuk kesejahteraannya itu dirasa," pungkasnya.
(dce)