Pengusaha Keramik RI Ngadu ke Menperin Soal Gas, Ungkit Soal Vietnam
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri keramik nasional menghadapi tekanan akibat gangguan pasokan gas yang membuat biaya produksi meningkat. Kondisi ini berpotensi menghambat target Indonesia untuk menjadi produsen keramik terbesar keempat dunia, menggeser Vietnam.
Menteri Perindustrian (Menperin) M Sarmuji mengatakan, industri keramik nasional memiliki kemampuan memproduksi hampir seluruh jenis keramik. Namun, kepastian pasokan dan harga gas yang kompetitif masih menjadi persoalan yang perlu diselesaikan pemerintah.
"Misalkan tentang ketersediaan gas dengan harga industri yang bisa kompetitif, itu juga menjadi masalah yang harus kita koordinasikan," kata Sarmuji saat ditemui di kantornya, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Menurutnya, pemerintah akan memperjuangkan kepastian pasokan agar industri dapat memperkirakan proses produksi, sekaligus memastikan harga gas tetap kompetitif.
"Pertama, ada kepastian suplai gas supaya bisa memperkirakan proses produksinya. Kedua, tentu harga harus kompetitif yang masih bisa diambil oleh industri untuk tetap bisa berjalan," ujarnya.
Selain persoalan gas, pemerintah juga memperketat perlindungan industri keramik dalam negeri dari serbuan produk impor. Sarmuji menyebut produk keramik asal China telah dikenai bea masuk anti dumping (BMAD), sementara dugaan praktik serupa dari India akan diteliti lebih lanjut.
"Jadi kalau itu diteliti ternyata nanti mereka melakukan politik dumping, ya kita akan usulkan supaya mereka dikenai tarif sesuai dengan politik dumping yang mereka lakukan," tutur dia.
Sarmuji menegaskan, pemerintah hanya akan mempertimbangkan relaksasi impor untuk jenis keramik yang belum bisa diproduksi di dalam negeri.
"Produk yang memang bisa diproduksi dalam negeri, tentu kita akan proteksi semaksimal mungkin," ucapnya.
Di tengah upaya perlindungan tersebut, industri keramik Indonesia berhasil naik peringkat dari posisi ketujuh menjadi kelima sebagai produsen keramik terbesar dunia.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) Edy Suyanto mengungkapkan, gangguan pasokan gas sejak September hingga Oktober membuat harga gas yang dibayar industri meningkat menjadi rata-rata US$11 per MMBtu.
Padahal, berdasarkan Kepmen ESDM Nomor 281.K Tahun 2026, rata-rata harga gas bagi industri keramik penerima Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) diperkirakan berada di kisaran US$8-US$8,5 per MMBtu. Adapun volume yang dialokasikan baru memenuhi sekitar 73% dari total kebutuhan industri.
"Sehingga hari ini harga gas rata-rata yang harus kami bayar di bulan Oktober ini mencapai US$11 per MMBtu. (Angka) itu naik di atas 50% loh dari harga HGBT. Tentu itu akan mengusik dan mengganggu daya saing," kata Edy dalam kesempatan yang sama.
Dia menilai, regulasi yang telah diterbitkan pemerintah sebenarnya sudah memadai. Namun, implementasi dan pengawasan pasokan gas perlu diperkuat.
"Produk regulasinya sudah sangat baik, Kepmen ESDM 281.K Tahun 2026, hanya implementasinya saja yang perlu diawasi," ujarnya.
ASAKI pun mengusulkan tiga langkah, yakni mempercepat kewajiban pasokan gas untuk kebutuhan domestik atau Domestic Market Obligation (DMO), memberikan izin impor gas kepada PGN jika pasokan kurang, serta menaikkan prioritas industri keramik dalam alokasi gas.
Edy mengatakan, kenaikan peringkat industri keramik Indonesia tidak lepas dari kebijakan anti dumping dan pengetatan SNI impor yang membantu meningkatkan utilisasi produksi.
Kapasitas terpasang industri keramik nasional pada 2026 mencapai 686 juta meter persegi. ASAKI memperkirakan utilisasi meningkat dari 73% pada 2025 menjadi 75% pada 2026, setara produksi sekitar 510 juta meter persegi.
Jika pasokan gas lancar, Indonesia berpeluang menyalip Vietnam dan naik ke posisi keempat dunia.
"Sehingga tahun depan mungkin kita bukan nomor 5 nih, bisa nomor 4 dunia mengalahkan Vietnam," tuturnya.
Di sisi lain, ASAKI menyiapkan ekspansi tahap kedua pada 2026-2028 dengan tambahan kapasitas 110 juta meter persegi. Investasi yang disiapkan mencapai sekitar Rp12 triliun dan diperkirakan menyerap 7.000-7.500 tenaga kerja baru.
Karena itu, ASAKI menilai kepastian pasokan gas menjadi kunci agar ekspansi industri berjalan dan memberikan dampak ekonomi lebih luas.
"Hari ini kesimpulannya satu: berikan kami gas, kami akan ciptakan multiplier effect, kita akan serap tenaga kerja. Itu aja teman-teman," pungkas dia.
(wur)