Ekspansi Keramik RI Rp 12 T Mandek dan 8.000 Loker Terancam, Ada Apa?
Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana investasi industri keramik nasional senilai Rp12 triliun terancam kehilangan momentum akibat ketidakpastian pasokan gas bumi. Kondisi ini bukan hanya menghambat pengembangan kapasitas pabrik, tetapi juga berpotensi mengubur peluang pembukaan ribuan lapangan kerja baru. Padahal, industri keramik sebelumnya telah menyiapkan ekspansi produksi secara bertahap hingga semester I-2028.
"Dengan kondisi demikian, industri masih bisa berdaya saing. Kenapa? Karena harga gas berada di average sekitar 8 sampai 8,5 US Dollar per MMBTU," ujar Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto kepada CNBC Indonesia, Jumat (16/10/2026).
Perhitungan investasi tersebut bergantung pada kepastian biaya energi dan volume pasokan yang dapat diterima perusahaan. Ketika kondisi di lapangan berbeda dari perhitungan awal, produsen menghadapi risiko biaya produksi yang lebih tinggi dan kesulitan menentukan kelayakan ekspansi.
Asaki sebelumnya memperkirakan peningkatan kapasitas produksi sebesar 110 juta meter persegi melalui investasi sekitar Rp12 triliun. Pengembangan tersebut direncanakan menyerap sekitar 7.000-8.000 tenaga kerja baru, sehingga ketidakpastian gas berpotensi memengaruhi rencana perekrutan tersebut.
"Namun harapan itu pupus di bulan September," kata Edy.
Persoalan pasokan gas yang muncul sejak September membuat rencana pengembangan industri kembali ditinjau. Perusahaan kini harus mempertimbangkan kondisi operasional yang belum stabil sebelum mengambil keputusan investasi jangka panjang.
Ilustrasi pabrik keramik lantai. (Dok. Pexels) Foto: Ilustrasi pabrik keramik lantai. (Dok. Pexels) |
Rencana ekspansi yang sebelumnya telah disiapkan kini tidak lagi bisa berjalan sesuai jadwal. Padahal, industri keramik masih melihat peluang pertumbuhan pasar yang cukup besar, baik melalui peningkatan konsumsi domestik maupun perluasan kapasitas produksi.
"Hari ini, selain yang terdampak karyawan yang dirumahkan, hari ini boleh dikatakan kembali bahwa rencana ekspansi tahap yang tadi saya sampaikan sampai 2028 ini kembali ke wait and see," ungkapnya.
Bukan hanya ekspansi tahap pertama yang terancam tertunda, Asaki juga memiliki rencana pengembangan lanjutan dengan tambahan kapasitas sekitar 120 juta meter persegi. Investasi tahap kedua tersebut diperkirakan membutuhkan dana Rp12 triliun-Rp15 triliun, dengan potensi peningkatan kapasitas industri keramik nasional hingga 850 juta-870 juta meter persegi.
Edy menilai, industri keramik memiliki kemampuan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan memperluas kesempatan kerja apabila didukung kepastian energi. Karena itu, penyelesaian persoalan pasokan gas menjadi penentu bagi keberlanjutan rencana investasi yang telah disusun pelaku industri.
"Kita hanya hari ini sisa satu PR aja, berikan kami gas dan kami akan siap untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di atas 6%," tegas Edy.
(fys/wur) [Gambas:Video CNBC]