900 Buruh Keramik Terancam PHK, Bos Pengusaha Ungkap Penyebabnya
Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai menghantam industri keramik nasional di tengah persoalan pasokan gas bumi. Ribuan pekerja kini menghadapi ketidakpastian ketika produsen harus mengurangi kapasitas produksi akibat pasokan energi yang tidak mencukupi.
Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto mengungkapkan, dampak pembatasan gas sudah dirasakan oleh para pelaku industri. Sejumlah perusahaan mulai mengurangi kegiatan operasional untuk menyesuaikan produksi dengan ketersediaan energi.
"Sebagai informasi, per hari ini saya di sini, kami mendata dari teman-teman industri, ini sudah sekitar 1.400 karyawan terdampak, 500-an di bulan Juli lalu sudah di-PHK, ini sekitar 900 hari ini masih status perumahan karyawan," ujar Edy kepada CNBC Indonesia, Jumat (14/10/26).
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena industri keramik sebelumnya tengah berupaya memulihkan kinerja produksi sepanjang 2026. Namun, pembatasan gas yang berlanjut membuat perusahaan harus menghadapi risiko penurunan utilisasi pada periode yang seharusnya menjadi momentum peningkatan produksi.
Edy menyebut utilisasi industri keramik sempat mencapai 75% pada Januari-Agustus 2026, naik dari 73% pada tahun sebelumnya. Target awal tahun bahkan dipatok mencapai 78%-80%, sejalan dengan meningkatnya permintaan yang ditopang program pemerintah.
"Namun kalau kita lihat dengan kondisi hari ini, dengan pembatasan pemakaian gas, di bulan Oktober ini utilisasi sudah turun di bawah 70%. Nah, kalau ini berlanjut sampai akhir Desember, saya yakin di November-Desember ini akan turun lagi di bawah 70%. Mungkin hanya sekitar 60%," kata Edy.
Penurunan utilisasi tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap keuangan perusahaan. Jika produksi terus menyusut, ruang bagi industri untuk mempertahankan tenaga kerja juga semakin terbatas, terutama bagi pekerja yang saat ini masih berstatus dirumahkan.
Asaki telah menyampaikan persoalan tersebut kepada Kementerian Perindustrian pada pertengahan September. Namun, gangguan pasokan gas masih berlanjut pada Oktober, sehingga kepastian operasional industri belum sepenuhnya pulih.
"Nah, otomatis apa yang tadi saya sampaikan di awal bahwa ada 1.500 yang karyawan terdampak, nah, ini yang tadinya status masih dirumahkan, ini bisa berubah status jadi PHK. Nah, ini yang harus kita cegah," tegas Edy.
(dce)