MARKET DATA

Menperin Sarmuji Buka-bukaan Rencana Pacu Manufaktur RI

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
09 October 2026 14:05
Menteri Perindustrian M Sarmuji saat bertemu wartawan di Jakarta, Jumat (2/10/2026). (CNBC Indonesia/Damiana Cut E)
Foto: Menteri Perindustrian M Sarmuji saat bertemu wartawan di Jakarta, Jumat (2/10/2026). (CNBC Indonesia/Damiana Cut E)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah membidik peningkatan kontribusi industri manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional hingga 20% pada 2027. Target tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat peran manufaktur sebagai mesin pertumbuhan ekonomi sekaligus memperluas penyerapan tenaga kerja di Indonesia.

Saat ini, kontribusi industri terhadap PDB nasional masih berada di kisaran 19%. Peningkatan kontribusi tersebut membutuhkan penguatan daya saing, produktivitas, serta struktur industri yang mampu menghasilkan nilai tambah lebih besar di dalam negeri.

"Kontribusi industri kita itu sekitar 19% terhadap PDB nasional. Tentu kita ingin meningkat lagi, karena untuk ukuran negara yang mau menuju maju, angka 19% itu belum cukup untuk menjadi leverage, faktor bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan PDB secara keseluruhan," ujar Menteri Perindustrian Sarmuji dalam Manufacture Check CNBC Indonesia di kantornya Gedung Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Jakarta, Jumat (9/10/26).

Peningkatan kontribusi manufaktur juga berkaitan dengan kemampuan industri domestik memperluas kapasitas produksi dan menciptakan lapangan kerja. Penguatan industri tidak hanya membutuhkan peningkatan output, tetapi juga ekosistem usaha yang mendukung investasi dan pertumbuhan perusahaan manufaktur.

"Kita harus menciptakan satu ekosistem industri yang baik. Kementerian Perindustrian ada, tentu harus ada manfaat lebihnya bagi para industrialwan. Sektor-sektor industri harus merasakan manfaat dari keberadaan Kemenperin," kata Sarmuji.

Salah satu tantangan utama terletak pada struktur industri yang belum cukup dalam. Pengembangan manufaktur perlu mencakup tahapan produksi dari penyediaan bahan baku hingga barang jadi agar nilai tambah tidak berhenti pada kegiatan perakitan atau pengolahan tahap akhir.

Pemerintah juga perlu memperkuat keterkaitan antara industri utama dan industri pendukung. Pengembangan ekosistem baterai dan kendaraan listrik, misalnya, dapat membuka peluang bagi tumbuhnya industri komponen serta kegiatan manufaktur lain di dalam negeri.

"Saya tidak ingin industri kita itu layu sebelum matang. Di negara yang lain, di negara yang industrinya sudah maju, memang pertumbuhan sektor industri itu bisa stagnan, bahkan menurun. Tapi bukan karena lemah, karena sudah matang dan orientasi di sektor yang lain lebih besar, misalkan sektor jasa dan sebagainya," ujarnya.

Dalam jangka menengah, kontribusi manufaktur diharapkan terus meningkat seiring penguatan struktur industri dan investasi. Sasaran yang lebih tinggi membutuhkan kesinambungan kebijakan, peningkatan produktivitas, serta dukungan lintas sektor agar pertumbuhan industri dapat berlangsung secara berkelanjutan.

"Kalau bisa bertahap, mungkin 2027 bisa 20%, kalau 21%, itu menurut saya sudah improvement yang cukup bagus. Syukur-syukur bisa 25%. Sebenarnya sangat bagus kalau bisa sampai 30%, tapi sekarang mungkin belum waktunya," kata Sarmuji.

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Ternyata Industri RI Belum Sampai Puncak, Menperin Ingatkan Bahaya Ini


Most Popular
Features