PMI Manufaktur September Terbang ke 52,4 Kenapa RI Diminta Waspada?
Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja industri manufaktur nasional kembali menunjukkan geliat pada September 2026. Purchasing Manager Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global berada di level 52,4, kembali masuk zona ekspansif setelah sempat terkontraksi dalam beberapa bulan sebelumnya.
Pergerakan PMI Manufaktur sendiri cukup fluktuatif dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan sepanjang 2026, indeks sempat turun ke 49,1 pada April dan 46,9 pada Juni sebelum kembali berada di bawah level 50 pada Agustus dengan angka 49,8. Kondisi ini menunjukkan bahwa kinerja industri tidak selalu bergerak dalam satu arah, terutama ketika berhadapan dengan berbagai tekanan ekonomi.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai kondisi tersebut membuat kinerja manufaktur tidak tepat jika hanya diukur dari satu angka bulanan. Tren yang lebih panjang diperlukan untuk melihat apakah perubahan yang terjadi merupakan gejolak sementara atau mencerminkan perbaikan fundamental.
"Pertama yang perlu dipahami adalah bahwa kita tidak bisa menilai kinerja industri manufaktur hanya dengan melihat PMI manufaktur dalam satu bulan saja. Jadi melihat tren secara keseluruhan. Karena sebetulnya ada faktor fluktuasinya daripada kinerja satu sektor, termasuk juga industri manufaktur. Misalnya kemarin PMI manufaktur kontraksi dalam beberapa bulan, kemudian tiba-tiba ekspansi," kata Faisal kepada CNBC Indonesia, Senin (5/10/2026).
Jika ditarik lebih panjang, perjalanan manufaktur dalam tujuh tahun terakhir memang tidak lurus. Industri sempat mengalami tekanan sangat dalam ketika pandemi Covid-19 melanda, dengan PMI Manufaktur Indonesia pernah jatuh hingga 27,5. Setelah itu, sektor manufaktur relatif cepat bangkit dan dalam periode pascapandemi lebih sering berada di zona ekspansi, meski sesekali kembali tertekan.
Memasuki 2026, pola tersebut kembali terlihat. PMI Manufaktur sempat turun ke 49,1 pada April, kemudian 46,9 pada Juni dan 49,8 pada Agustus. Namun, pada September indeks kembali melompat ke 52,4. Pola naik-turun itu menunjukkan bahwa ekspansi yang terjadi perlu ditempatkan dalam konteks perjalanan industri selama beberapa tahun, bukan semata-mata dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
"Kalau kita baca PMI manufakturnya, ada faktor eksternal, ada faktor domestik yang memengaruhi. Dua-duanya dikatakan bahwa demand meningkat, baik itu di ekspor manufaktur yang berorientasi ekspor maupun juga dalam negeri. Ini sebetulnya positif," ujarnya.
Namun, ruang gerak industri belum sepenuhnya longgar. Sejumlah biaya produksi masih menghadapi tekanan, sementara kondisi pasar domestik juga belum memberikan dorongan yang benar-benar kuat. Situasi ini membuat pemulihan manufaktur masih harus dibaca secara hati-hati.
"Terus terang kalau melihat faktor yang memengaruhi ini kan sebetulnya belum terlalu konklusif, karena pada saat yang sama tekanan terhadap industri manufaktur masih kencang. Mulai dari kenaikan harga energi karena harga minyak dunia yang mengalami peningkatan. Belum juga pelemahan nilai tukar rupiah yang akan memengaruhi biaya produksi bagi industri-industri, terutama yang bergantung pada suplai bahan baku maupun barang modal dari luar negeri," jelas Faisal.
Ketergantungan terhadap bahan baku dan barang modal impor membuat perubahan nilai tukar menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati. Di sisi lain, tekanan biaya tersebut bertemu dengan kondisi konsumen domestik yang belum sepenuhnya pulih, terutama dari kelompok kelas menengah yang selama ini menjadi pasar penting bagi banyak produk manufaktur.
"Banyak sebetulnya industri-industri kita yang bergantung pada bahan baku dari luar dan pelemahan nilai tukar tentu saja akan berdampak pada mereka. Nah, pada saat yang sama juga kita melihat bagaimana daya beli dari kelas menengah yang menjadi konsumen utama dari industri, terutama industri manufaktur berorientasi dalam negeri. Nah, ini kan belum pulih sepenuhnya. Jadi saya melihat masih ada mix signal di sini," ungkapnya.
Faisal menilai kembalinya PMI Manufaktur ke zona ekspansi tetap menjadi kabar positif bagi sektor industri. Akan tetapi, ukuran keberhasilannya tidak berhenti pada naiknya indeks, melainkan juga harus terlihat dari dampaknya terhadap aktivitas ekonomi yang lebih luas, terutama kemampuan industri menciptakan lapangan kerja.
"Apapun, ekspansi PMI pada bulan September ini masih diharapkan menjadi sinyal baik bagi industri manufaktur kita. Tapi harus waspada juga ke depan karena tadi sumber tekanan itu masih relatif besar. Terutama juga nanti kaitannya bagaimana dampak dari ekspansi ini terhadap penyerapan tenaga kerja. Nah, ini yang tidak kalah penting terkait dengan kualitas daripada pertumbuhan sektor itu sendiri," pungkas Faisal.