Kata-Kata Menperin Saat Pamer RI Kalahkan Negara Lebih Maju
Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja industri manufaktur Indonesia menunjukkan penguatan pada Oktober 2026. Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia mencapai level 54,0 berdasarkan survei S&P Global. Posisi ini menjadi salah satu yang tertinggi dibandingkan sejumlah negara industri di Asia, termasuk China, Jepang, dan Vietnam.
Menteri Perindustrian (Menperin) MÂ Sarmuji mengatakan capaian tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur nasional sedang berada dalam fase ekspansi. Sebagai informasi, PMI di atas 50 menunjukkan aktivitas industri mengalami ekspansi, sedangkan angka di bawah 50 menandakan kontraksi.
"Indeks PMI manufaktur kita pada bulan Oktober sebesar 54,0. Angka ini sangat besar karena kalau indikasinya 50 ke bawah itu kontraksi, kalau 50 ke atas itu fase ekspansi," kata Sarmuji dalam acara Krista Food Expo 2026 di PIK 2, Rabu (4/11/2026).
Jika dibandingkan dengan negara lain, PMI manufaktur Jepang pada Oktober 2026 tercatat 53,3, Vietnam 52,3, dan China 52,0. Sementara itu, Korea Selatan berada di level 51,3, Malaysia 51,0, dan Australia 49,6.
"Dan angka 54 ini lebih tinggi daripada angka negara-negara yang setara, bahkan lebih tinggi dari negara-negara yang lebih maju dari Indonesia," ujarnya.
Selain PMI manufaktur, penguatan aktivitas industri juga tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI). Pada Oktober 2026, IKI tercatat mencapai 53,77, menguat dibandingkan periode sebelumnya.
Sarmuji menyebut terdapat sejumlah indikator yang mendukung peningkatan kinerja manufaktur nasional. Di antaranya peningkatan pesanan baru dengan laju tercepat dalam lima tahun terakhir serta pertumbuhan pesanan ekspor baru yang mencatatkan rekor tertinggi sejak survei dilakukan.
"Hal yang hampir sama juga tercermin dalam indeks kepercayaan industri kita. Indeks kepercayaan industri pada bulan Oktober juga menguat pada level 53,77," kata Sarmuji.
Perkembangan tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan pelaku industri terhadap iklim usaha dan prospek manufaktur Indonesia. Momentum ekspansi perlu dimanfaatkan untuk mempercepat aktivitas produksi dan memperkuat daya saing industri nasional.
Pemerintah juga mendorong pelaku industri agar tidak terlena dengan indikator positif tersebut. Peningkatan produktivitas, investasi, inovasi, dan perluasan pasar tetap diperlukan agar pertumbuhan manufaktur dapat berlangsung secara berkelanjutan.
"Kita sebagai pelaku industri harus memanfaatkan momentum ekspansi ini untuk bekerja lebih cepat lagi, bekerja lebih hebat lagi menyampang seluruh indikator-indikator positif tadi itu kita miliki hari ini," tuturnya.