Survei Global: Konsumen RI Lebih Optimistis dari Warga Negara Kaya
Jakarta, CNBC Indonesia - Konsumen di sejumlah negara berkembang, termasuk Indonesia, ternyata lebih optimistis dibandingkan masyarakat di banyak negara maju terkaya di dunia.
Indonesia masuk dalam jajaran negara dengan tingkat kepercayaan konsumen tertinggi di dunia pada 2026. Bahkan, optimisme konsumen Tanah Air tercatat lebih tinggi dibandingkan seluruh negara anggota G7 yang disurvei, termasuk Amerika Serikat (AS), Jepang, dan Jerman.
Berdasarkan Global Consumer Confidence Index dari Ipsos edisi September 2026, Indonesia menempati peringkat keenam dari 30 negara dengan skor 52,9, melampaui rata-rata global sebesar 48,4.
Indeks tersebut disusun berdasarkan survei terhadap lebih dari 21.000 orang dewasa dengan mengukur pandangan masyarakat terhadap kondisi keuangan pribadi, lapangan pekerjaan, dan prospek ekonomi. Semakin tinggi skornya, semakin besar tingkat kepercayaan konsumen.
Indonesia Masuk Enam Besar Dunia
India memimpin daftar dengan skor 66,9, disusul Swedia sebesar 60,0. Malaysia berada di posisi ketiga dengan 54,8, diikuti Singapura 54,3 dan Thailand 53,1.
Tepat di bawah kelima negara tersebut, Indonesia menempati peringkat keenam dengan skor 52,9. Posisi ini menempatkan Indonesia di atas sejumlah negara dengan perekonomian besar, termasuk AS yang berada di peringkat ke-12 dengan skor 50,5.
Di kawasan Asia, Indonesia juga unggul jauh dibandingkan Korea Selatan yang mencatat skor 44,3 dan Jepang sebesar 39,4.
Tingginya posisi Indonesia sejalan dengan pola yang terlihat di sejumlah negara berkembang Asia. India, Malaysia, Thailand, dan Indonesia sama-sama mencatat tingkat kepercayaan konsumen lebih tinggi dibandingkan seluruh negara G7 dalam survei.
India bahkan menjadi negara dengan tingkat kepercayaan tertinggi di tengah pertumbuhan ekonominya yang pesat. Aktivitas manufaktur dan jasa yang berkembang serta meningkatnya belanja rumah tangga turut mendukung optimisme konsumen.
Survei terhadap masyarakat perkotaan India juga menunjukkan meningkatnya keyakinan terhadap keamanan pekerjaan dan kondisi keuangan pribadi, disertai keinginan lebih besar untuk melakukan pembelian bernilai tinggi dan investasi.
Kepercayaan Konsumen AS dan Jepang Masih Tertinggal
Berbeda dengan sejumlah negara Asia, tingkat kepercayaan konsumen di negara maju masih menghadapi tekanan. AS menjadi negara G7 dengan skor tertinggi sebesar 50,5, tetapi angkanya masih di bawah Indonesia maupun rata-rata beberapa negara berkembang lainnya.
Meski kepercayaan konsumen AS membaik pada September, kondisinya masih lebih lemah dibandingkan setahun sebelumnya. Salah satu tekanan berasal dari harga bensin yang melonjak 27,4% secara tahunan hingga Agustus 2026, jauh melampaui inflasi umum sebesar 3,4%.
Pada saat yang sama, rata-rata upah per jam setelah disesuaikan dengan inflasi turun 0,3% secara tahunan. Kondisi ini membatasi daya beli rumah tangga meskipun pandangan terhadap pasar tenaga kerja mulai membaik.
Sementara itu, Jepang berada di peringkat ke-28 dengan skor 39,4. Rendahnya kepercayaan konsumen di negara tersebut antara lain berkaitan dengan kenaikan harga kebutuhan pokok, terutama beras yang harganya meningkat dua kali lipat dari 2024 hingga 2025.
Kenaikan biaya transportasi dan kemasan turut menambah tekanan harga pangan. Meski pertumbuhan upah belakangan mulai melampaui inflasi, pemulihan daya beli masih menjadi faktor penting bagi perbaikan kepercayaan konsumen Jepang.
Hasil survei ini menunjukkan bahwa tingkat optimisme konsumen tidak selalu sejalan dengan besarnya perekonomian suatu negara. Indonesia bersama sejumlah negara Asia lainnya justru mencatat kepercayaan konsumen yang lebih tinggi dibandingkan banyak negara maju.
(mae/mae)