Pasar Ini Dulu Ramai di Era Ahok Tapi Kini Sepi Bak Kuburan, Ada Apa?

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Rabu, 07/10/2026 13:20 WIB
Foto: Kondisi di dalam Pasar Nangka Bungur, Jakarta Pusat, nampak sepi dan banyak sekali kios yang tutup, Rabu (7/10/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dari luar, kawasan Pasar Nangka Bungur di Kemayoran, Jakarta Pusat, masih terlihat hidup. Lapak-lapak pedagang berjejer di sepanjang jalan, motor hilir mudik, sementara pembeli sesekali berhenti untuk mencari kebutuhan.

Namun, suasana berbeda terasa begitu masuk ke dalam pasar. Lorong-lorong yang diapit kios-kios justru tampak lengang. Pintu-pintu toko banyak yang tertutup dan hanya segelintir pedagang yang terlihat beraktivitas.

Jika dihitung dari kondisi yang terlihat saat CNBC Indonesia melakukan pantauan, hanya sekitar seperempat kios di dalam pasar yang tampak buka. Selebihnya seperti kehilangan aktivitas jual-beli yang biasanya menjadi denyut sebuah pasar tradisional.


Padahal 10 tahun lalu atau tepatnya tanggal 29 September 2016 lalu, Pasar Nangka Bungur ramai pedagang dan pembeli setelah diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Ahok bahkan meninjau pasar yang memiliki luas 1.523 meter persegi dengan 163 tempat usaha.

Tempat itu terbagi menjadi 127 tempat usaha dan 36 los. Pedagang pun saat itu ramai-ramai datang untuk mengisi kios dan los. Pembeli juga berdatangan ke pasar yang kondisinya lebih modern dan tentu saja bersih.

Sepinya bagian dalam pasar ternyata bukan tanpa alasan. Sejumlah pedagang yang ditemui CNBC Indonesia menyebut akses dan parkir yang sulit menjadi salah satu biang kerok pembeli enggan masuk ke dalam pasar.

Salah seorang pedagang yang berjualan di luar pasar, Sugi (nama samaran), mengatakan pembeli cenderung memilih berbelanja di luar karena lebih mudah menjangkau lapak pedagang.

"Di dalam sepi. Parkirnya susah, sempit, jadi nggak ada yang datang. Sepi, dagangan nggak laku," kata Sugi kepada CNBC Indonesia.

Menurutnya, kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama. Ia bahkan melihat semakin banyak pedagang yang akhirnya memilih keluar dari area pasar dan membuka lapak di pinggir jalan.

"Lumayan, sudah lama begini. Lupa sejak kapan, memang begini jualannya," ujarnya.

Sugi menegaskan, persoalan yang membuatnya memilih berjualan di luar bukan lantaran harga sewa kios di dalam pasar, melainkan karena akses yang sulit hingga lahan parkir yang sempit.

"Nggak juga (karena harga sewa kios), cuma karena sepi. Percuma kan sepi nggak ada yang beli, jadinya rugi," ucap dia.

Kondisi di dalam Pasar Nangka Bungur, Jakarta Pusat, nampak sepi dan banyak sekali kios yang tutup, Rabu (7/10/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Kondisi di dalam Pasar Nangka Bungur, Jakarta Pusat, nampak sepi dan banyak sekali kios yang tutup, Rabu (7/10/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Pembeli Tak Mau Ribet

Hal serupa disampaikan Tono (nama samaran), pedagang yang juga memilih berjualan di luar pasar. Menurutnya, salah satu penyebab bagian dalam pasar sepi adalah akses yang dianggap menyulitkan pembeli.

"Kurang tau, karena saya cuma lanjutin jualan di sini. Tapi yang pasti di dalam sepi. Orang mungkin malas ya ribet parkirnya, malas turun dari motor juga mungkin. Kalau di sini kan mereka bisa belanja sambil nangkring di motor," tuturnya.

Bagi Tono, berbelanja di lapak pinggir jalan membuat pembeli tidak perlu repot mencari tempat parkir maupun turun dari kendaraan. Mereka cukup berhenti di depan pedagang, membeli barang, kemudian melanjutkan perjalanan.

Pola tersebut bahkan ia ibaratkan seperti drive thru.

"Iya, kayak lagi beli makan di McDonald tuh, sambil nyetir belanjanya," ujar Tono.

Kondisi inilah yang kemudian membuat aktivitas perdagangan seolah bergeser keluar dari bangunan pasar. Pedagang mendapatkan pembeli yang lebih mudah menjangkau dagangan mereka, sementara pembeli juga tidak perlu repot masuk ke lorong pasar.

Ada yang Tetap Bertahan di Dalam

Meski banyak pedagang memilih keluar, masih ada pedagang yang bertahan membuka kios di dalam pasar. Reni (nama samaran), salah satunya. Ia mengakui kondisi di dalam pasar memang sangat sepi dibandingkan aktivitas perdagangan yang terlihat di luar.

"Iya sepi, gini sepi banget ya, kayak nggak ada kehidupan (aktivitas jual-beli)," kata Reni.

Namun, Reni memiliki alasan sendiri untuk tidak ikut memindahkan dagangannya ke pinggir jalan. Ia memilih bertahan di dalam karena sekaligus menjadikan kios sebagai tempat menyimpan barang dagangan.

"Soalnya saya sekalian taruh barang di sini, saya juga tutupnya sore. Jadi daripada ribet, kalau ngelapak di luar kan saya kudu (harus) benahin (merapikan) barangnya kalau pulang," tutur dia.

"Kalau di dalam saya cuma tinggal tutup (kiosnya) saja," lanjut Reni.

Soal omzet, Reni mengakui dagangannya mungkin tidak seramai pedagang yang memilih berjualan di luar. Namun, ia masih melihat celah pembeli pada waktu tertentu.

"Ya mungkin omset saya nggak sebesar yang dagang di luar. Tapi kan kalau misal yang di luar sudah tutup, kayak orang siang ke sore gitu nyari barang, saya masih buka," katanya.

Di luar pasar, lapak-lapak semi permanen kini justru menjadi titik yang lebih ramai. Pedagang memanfaatkan sisi jalan untuk mendekatkan dagangan kepada pembeli.

Namun, pilihan tersebut membawa konsekuensi lain. Lapak yang berdiri di tepian jalan, ditambah motor yang berhenti untuk berbelanja, membuat ruang gerak kendaraan dan pejalan kaki semakin terbatas.

Pada akhirnya, biang kerok sepinya bagian dalam Pasar Nangka Bungur bukan semata karena pedagang berhenti berjualan. Sebagian aktivitas justru berpindah ke luar karena pembeli merasa lebih praktis berbelanja dari pinggir jalan.


(wur)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Atasi Masalah Macet - Sampah Jakarta, DPR Dorong Perbaikan Ini