10 Tahun Lalu Diresmikan Ahok, Pasar di Jakarta Ini Sepi Bak Kuburan
Jakarta, CNBC Indonesia - Tanggal 29 September 2016 lalu, Pasar Nangka Bungur, di Jalan Kalibaru Timur, Utan Panjang, Kemayoran, Jakarta Pusat. Kala itu, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok datang langsung untuk meresmikan.
Ahok mengenang pasar ini punya kenangan sebab sang ayah pernah tinggal di dekat sini.
"Saya senang dengan Pasar Nangka Bungur ini, karena ada tambahan tempat untuk menampung pedagang kaki lima (PKL)," kata Basuki saat meresmikan Pasar Nangka Bungur saat itu.
Ahok pun meninjau pasar yang memiliki luas 1.523 meter persegi dengan 163 tempat usaha. Tempat itu terbagi menjadi 127 tempat usaha dan 36 los. Pedagang pun saat itu ramai-ramai datang untuk mengisi kios dan los. Pembeli juga berdatangan ke pasar yang kondisinya lebih modern dan tentu saja bersih.
Namun itu cerita 10 tahun lalu. Kini kondisi Pasar Nangka Bungur sudah sepi bak kuburan.
Deretan pintu besi yang tertutup menyambut langkah ketika memasuki bagian dalam Pasar Nangka Bungur. Suara tawar-menawar yang biasanya menjadi warna sebuah pasar tradisional pun tak banyak terdengar.
Kondisi di dalam Pasar Nangka Bungur, Jakarta Pusat, nampak sepi dan banyak sekali kios yang tutup, Rabu (7/10/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Kondisi di dalam Pasar Nangka Bungur, Jakarta Pusat, nampak sepi dan banyak sekali kios yang tutup, Rabu (7/10/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) |
Di lorong-lorong pasar, hanya sebagian kecil pedagang yang masih membuka kiosnya. Jika dilihat sekilas, diperkirakan hanya sekitar seperempat kios yang masih beroperasi, sementara sebagian besar lainnya tampak tertutup.
Aktivitas perdagangan justru lebih mudah ditemui setelah keluar dari bangunan pasar. Di sepanjang jalan sekitar pasar, pedagang menggelar lapak dengan meja sederhana hingga bangunan semi permanen. Berbagai kebutuhan sehari-hari dijajakan di tepian jalan, berdampingan dengan sepeda motor yang terparkir dan kendaraan yang melintas.
Kondisi ini membuat ruas jalan di sekitar pasar menjadi semakin sempit. Pejalan kaki harus berbagi ruang dengan pengendara motor yang melintas di kawasan pasar. Tak jarang, keduanya harus saling menunggu ketika berpapasan di tengah padatnya aktivitas jual-beli.
Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia, kondisi tersebut membuat suasana di dalam dan luar Pasar Nangka Bungur terlihat kontras. Di dalam, lorong pasar relatif lengang dengan banyak kios tertutup. Sementara di luar, lapak pedagang justru memanjang mengikuti sisi jalan dan menjadi titik pembeli berbelanja.
Salah satu pedagang yang berjualan di luar pasar, Sugi (nama samaran), mengatakan dirinya memilih membuka lapak di luar karena pembeli di dalam pasar semakin sepi.
"Di dalam sepi. Parkirnya susah, sempit, jadi nggak ada yang datang. Sepi, dagangan jadi nggak laku," kata Sugi kepada CNBC Indonesia, Rabu (7/10/2026).
Ia pun mengakui kondisi berjualan di luar tersebut sudah berlangsung cukup lama.
"Lumayan, sudah lama begini. Lupa sejak kapan, memang begini jualannya," ujarnya.
Menurut Sugi, persoalannya bukan karena harga sewa kios yang mahal. Ia lebih mempertimbangkan ada tidaknya pembeli yang datang.
"Nggak juga (karena harga sewa mahal), cuma sepi. Percuma kan sepi nggak ada yang beli, jadinya rugi," tutur dia.
Belanja dari Atas Motor
Pedagang lain, Tono (nama samaran), juga memilih berjualan di luar pasar. Ia mengaku hanya meneruskan usaha yang sebelumnya dijalankan oleh kakaknya.
"Ya lumayan. Saya nerusin kakak saya saja ini. Kurang tau kenapa (memilih) jualan di luar. Dari dulu gini, saya nerusin saja," kata Tono.
Meski tidak mengetahui alasan awal pedagang memilih berjualan di luar, Tono melihat satu hal yang jelas, yakni kondisi di dalam pasar yang sepi. Akses parkir menjadi salah satu hal yang menurutnya membuat pembeli enggan masuk.
"Kurang tau, karena saya cuma lanjutin. Tapi yang pasti di dalam sepi. Orang mungkin malas ya ribet parkirnya, malas turun dari motor juga mungkin. Kalau di sini kan mereka bisa belanja sambil nangkring di motor," tuturnya.
Pola belanja di pinggir jalan itu bahkan ia ibaratkan seperti drive thru. Pembeli cukup menghentikan motor di depan lapak, memilih barang, lalu kembali melanjutkan perjalanan.
"Iya, kayak lagi beli makan di McDonald tuh, sambil nyetir belanjanya," ujar dia.
Namun, tidak semua pedagang memilih keluar. Beberapa masih bertahan di dalam pasar meski mengakui kondisi jual-beli cukup sepi.
Reni (nama samaran), salah satu pedagang yang masih membuka kios di dalam, menggambarkan suasana pasar saat ini memang sangat lengang, seperti tidak ada aktivitas jual-beli.
"Iya sepi, gini sepi banget ya, kayak nggak ada kehidupan (aktivitas jual-beli)," kata Reni.
Meski begitu, ia memilih tetap berjualan di dalam karena barang dagangannya memang disimpan di kios tersebut. Baginya, cara ini lebih praktis dibandingkan harus membawa dan membereskan barang setiap hari.
"Soalnya saya sekalian taruh barang di sini, saya juga tutupnya sore. Jadi daripada ribet, kalau ngelapak di luar kan saya kudu (harus) benahin (merapikan) barangnya kalau pulang," ujarnya.
"Kalau di dalam saya cuma tinggal tutup saja (kiosnya)," lanjut dia.
Soal omzet, Reni mengakui kemungkinan pendapatannya tidak sebesar pedagang yang berjualan di luar. Namun, ia melihat tetap ada keuntungan dari jam operasional yang lebih panjang.
"Ya mungkin omzet saya nggak sebesar yang dagang di luar. Tapi kan kalau misal yang di luar sudah tutup, kayak orang siang ke sore gitu nyari barang, saya masih buka," katanya.
Gambaran Pasar Nangka Bungur pun menjadi cerita tersendiri. Di dalam bangunan pasar, sebagian besar kios tertutup dan lorong terasa lengang. Sementara di luar, lapak-lapak justru tumbuh memenuhi tepian jalan.
Bagi sebagian pedagang, keluar dari pasar bukan sekadar pilihan tempat berjualan. Ada pembeli yang dianggap lebih mudah dijangkau ketika pedagang berada di pinggir jalan, meski konsekuensinya ruang publik di sekitar pasar ikut semakin padat.
(wur/wur) [Gambas:Video CNBC]