Bocor! Netanyahu Diam-Diam Temui Pemimpin Muslim Arab, Bahas Hal Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu melakukan kunjungan rahasia ke Uni Emirat Arab (UEA) pada hari Minggu dan bertemu dengan Presiden Sheikh Mohammed bin Zayed. Kunjungan mendadak yang baru dikonfirmasi oleh kedua negara pada hari Senin ini didominasi oleh diskusi terkait Iran, sebuah arena di mana kedua negara diketahui telah memperdalam kerja samanya selama perang Iran saat ini.
Mengutip CNNÂ International, Selasa (29/9/2026), kantor berita negara UEA (WAM) membenarkan bahwa kedua pemimpin telah menggelar pertemuan tingkat tinggi untuk membahas hubungan bilateral beserta cara-cara untuk memperkuatnya. Di sisi lain, kantor PM Israel menyatakan bahwa pertemuan tersebut berfokus pada penguatan hubungan dan rentetan tantangan regional.
Kunjungan senyap ini turut dihadiri secara langsung oleh istri Netanyahu, kepala Dewan Keamanan Nasional, kepala Mossad, sekretaris militer, hingga penasihat politik pemerintah.
Perjalanan yang sangat langka ini terjadi tepat satu bulan sebelum pemilihan umum Israel pada 27 Oktober mendatang dan berlatar belakang memanasnya kontroversi politik internal. Sebelumnya, laporan investigasi dari Haaretz dan The New York Times menuduh bahwa Sheikh Mohammed sejatinya telah memperingatkan Netanyahu tentang operasi besar Hamas beberapa hari sebelum serangan 7 Oktober 2023 terjadi.
Secara terpisah, The Atlantic melaporkan bahwa kepala intelijen Mesir Abbas Kamel juga sempat terbang ke Israel pada 26 September 2023 guna memperingatkan bahwa Gaza akan segera meledak. The Wall Street Journal pada hari Minggu turut memperkuat narasi ini dengan melaporkan adanya tiga peringatan dari Mesir, di mana yang terakhir disalurkan langsung via telepon kepada Netanyahu hanya beberapa hari sebelum serangan.
Merespons gelombang pemberitaan tersebut, kantor Netanyahu telah berulang kali membantah menerima peringatan apa pun dan menepis laporan itu sebagai kebohongan yang sengaja dibuat-buat untuk merusaknya secara elektoral. Di pihak UEA, Kementerian Luar Negeri pada awal bulan ini menyatakan bahwa pihaknya tidak mengomentari spekulasi media namun sama sekali tidak menyangkal adanya panggilan telepon krusial tersebut.
"Bila diperlukan, semua intelijen yang relevan telah dan terus dikomunikasikan antara entitas yang relevan," paparnya.
Sebuah sumber Israel mengungkapkan bahwa kantor Netanyahu sejatinya sempat berusaha menekan UEA untuk menyangkal laporan tersebut, namun UEA hanya setuju untuk merilis pernyataan diplomatis tentang aktivitas berbagi intelijen. Dalam pernyataan resmi pada Senin mengenai perjalanan terbaru ini, baik Israel maupun UEA sama-sama bungkam dan tidak menyinggung isu peringatan 7 Oktober.
Sebagai balasan politis, Partai Likud pimpinan Netanyahu merilis pernyataan di akun X perdana menteri yang secara sepihak menuduh adanya campur tangan asing yang mencolok dalam pemilu Israel oleh politisi Palestina yang bermarkas di UEA, Mohammed Dahlan, tanpa menyertakan secuil pun bukti.
Kubu oposisi tentu saja langsung memanfaatkan laporan peringatan ini untuk memperbarui serangan masif atas kegagalan rezim Netanyahu. Gadi Eizenkot, yang saat ini memuncaki jajak pendapat sebagai penantang utama dalam pemilu mendatang, menegaskan pada hari Sabtu bahwa pengungkapan ini sudah sangat jelas dan fatal.
"Pengungkapan tentang peringatan tersebut tidak menyisakan ruang keraguan: Netanyahu memimpin, dengan kebutaan, kesombongan, dan ketidakbertanggungjawaban, Negara Israel menuju bencana terbesar dalam sejarahnya," katanya.
Jauh sebelum ini, tepatnya pada bulan Mei, kantor Netanyahu sempat mengeklaim bahwa sang perdana menteri telah mengunjungi UEA secara rahasia pada bulan Maret di masa-masa awal perang Iran dengan melabelinya sebagai terobosan bersejarah. Namun, kementerian luar negeri UEA kala itu membantah keras klaim tersebut karena dianggap sepenuhnya tidak berdasar.
Terlepas dari rentetan perselisihan narasi ini, Israel dilaporkan telah mengerahkan sistem pertahanan rudal Iron Dome andalannya ke UEA selama perang dan para pejabat Israel mengakui bahwa kerja sama keamanan kedua negara telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, meskipun Netanyahu faktanya tidak pernah melakukan kunjungan resmi yang diakui publik ke UEA.