IMF Pangkas Pertumbuhan Ekonomi Arab, Nyungsep karena Perang
Jakarta, CNBC Indonesia - Dana Moneter Internasional (IMF) telah memangkas tajam perkiraan pertumbuhan untuk Timur Tengah dan Asia Tengah pada tahun 2026. Perang yang sedang berlangsung telah menyebabkan perekonomian mengalami kemerosotan.
Dalam laporan World Economic Outlook terbarunya, Selasa (13/10/2026), IMF mengatakan perekonomian regional diproyeksikan mengalami kontraksi sebesar 0,3% dibandingkan dengan proyeksi pertumbuhan 1,9% enam bulan lalu.
Laporan tersebut mengutip penutupan Selat Hormuz yang lebih lama, dibandingkan dengan asumsi dasar dalam laporan bulan April dan memperkirakan pemulihan besar-besaran pada tahun 2027 berdasarkan perkiraan pembukaan kembali jalur air tersebut.
Sejak perang Timur Tengah dimulai pada akhir Februari dengan serangan AS-Israel terhadap Iran, Teheran telah berusaha untuk memaksakan kendali atas Selat Hormuz. Iran pun berulang kali menyerang kapal-kapal yang transit tanpa izin.
Amerika Serikat (AS) juga memberlakukan blokade balasan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, dan semakin banyak mengawal kapal-kapal sahabat mereka melalui jalur air tersebut.
Lebih lanjut, IMF menyebut sejumlah negara yang paling terkena dampak gangguan pengiriman dan produksi antara lain adalah Irak, Kuwait, Qatar dan Bahrain. Semuanya mengalami kerusakan pada instalasi minyak selama pertempuran tersebut.
Negara-negara tersebut diproyeksikan akan mengalami kontraksi ekonomi sebesar dua digit pada tahun 2026. Namun, IMF percaya bakal ada ekspansi sebesar dua digit pada tahun 2027 seiring dengan normalisasi produksi, ekspor, dan logistik.
Khusus Arab Saudi, PDB diperkirakan akan berkontraksi sebesar 3,3% tahun ini, sebelum kembali meningkat ke pertumbuhan 7,9% tahun depan. Tapi,perkiraan tersebut dibuat sebelum serangkaian serangan mematikan di bandara Riyadh yang dimulai pekan lalu.
Dana tersebut mencatat bahwa kerajaan yang merupakan eksportir minyak mentah terbesar di dunia itu, adalah salah satu negara yang paling sedikit terkena dampak di kawasan ini. IMF merujuk pada "perekonomian dengan rute ekspor yang lebih terdiversifikasi".
Arab Saudi telah memanfaatkan pipa minyak Timur-Barat untuk melewati selat Hormuz dan mengirim minyak mentah ke pantai Laut Merah. Namun, saluran pipa tersebut ditutup sementara pada bulan September setelah terkena serangan yang dituduh dilakukan oleh kelompok yang didukung Iran di Irak.
Sekutu Teheran di Yaman, Houthi, telah berulang kali menargetkan infrastruktur minyak Saudi dan kapal tankernya di Laut Merah sejak perang saudara mereka dengan pemerintah Yaman yang didukung Riyadh kembali terjadi pada bulan Juli.
Di sisi lain, Uni Emirat Arab (UEA), yang memiliki akses pesisir ke kedua sisi selat Hormuz, diperkirakan mengalami kontraksi ekonomi sebesar 3,9%. Oman adalah satu-satunya negara di kawasan Teluk yang diperkirakan akan mempertahankan pertumbuhan positif tahun ini, sebesar 2,4%.
IMF juga memproyeksikan prospek Iran mengalami kontraksi, dengan penurunan PDB sebesar 7,6% akibat perang, blokade, dan sanksi AS. Negara-negara Arab lainnya, kata pemberi pinjaman tersebut, diperkirakan akan tetap "relatif tangguh" dalam menghadapi guncangan harga energi dan pangan.