Rudal Anti-Kapal Iran Hantam AS, 8 Tentara Jadi Korban
Jakarta, CNBC Indonesia - Iran dilaporkan merudal kapal Amerika Serikat (AS). Disebut delapan marinir terluka ketika serangan dilancarkan rudal jelajah anti-kapal Iran, saat kapal AS tersebut yang melintas di Selat Hormuz.
Mengutip NBC News, Selasa (29/9/2026), laporan muncul Senin. Pejabat AS yang tidak disebut namanya mengatakan mereka yang terluka adalah tujuh personel tamtama dan satu perwira, meski tak menyebut waktu pasti kejadian.
Marinir-marinir ini sedang beroperasi sebagai bagian dari tim pendaratan ketika rudal tersebut menghantam. Laporan mengklaim para personel tersebut menderita menghirup asap dan kemungkinan mengalami cedera otak traumatis, namun tidak ada yang terluka serius.
Sumber NBC News juga mengatakan marinir tidak berada di kapal Angkatan Laut AS. Tetapi sayangnya, informan itu juga tidak mengidentifikasi jenis kapal yang diserang.
Pentagon tidak memberikan penjelasan atas insiden tersebut. Namun laporan sejumlah serangan sudah diterbitkan sejumlah laman sejak awal bulan ini.
Pekan lalu, jumlah tentara yang menjadi korban tewas di Operasi Luar Negeri AS tiba-tiba meningkat sebanyak 37 orang. Sejauh ini total 861 orang terluka karena konflik.
Awal bulan ini, Washington Post juga melaporkan bahwa setidaknya 22 anggota militer tewas di Timur Tengah sejak perang dimulai dengan Iran. Pada saat yang sama, Pentagon hanya melaporkan 18 orang.
Komando Pusat AS, CENTCOM memperkirakan biaya operasi militer AS di Iran memakan dana sekitar US$43,6 miliar (sekitar Rp 783,49 triliun). Namun angka tersebut belum termasuk potensi biaya multi-miliar dolar untuk memperbaiki fasilitas militer AS yang terkena serangan balasan.
Pembicaraan Baru Akhir Perang AS-Iran
Sementara itu, para pejabat AS dan Iran berbicara secara terpisah dengan mediator Senin. Ini menjadi upaya baru untuk mengakhiri perang tujuh bulan kedua negara.
Mengutip Reuters, pembicaraan fokus pada versi amandemen proposal tujuh hari yang diajukan Iran pekan lalu di sela-sela Majelis Umum PBB. Seorang pejabat yang mengetahui perundingan mengatakan ke laman itu.
Perang ini dimulai pada akhir Februari dengan serangan AS dan Israel terhadap Iran, yang menewaskan ribuan orang selama tujuh bulan dan mengejutkan pasar global karena saluran air penting untuk minyak masih tersumbat. AS dan Iran sebelumnya telah dua kali menyetujui gencatan senjata dalam perundingan perdamaian yang dimediasi, pada bulan April dan Juni. Perjanjian tersebut dengan cepat terurai.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi, yang tetap berada di New York setelah menghadiri Majelis Umum, mengatakan Iran diperkirakan akan menerima tanggapan AS terhadap proposal gencatan senjata terbaru dan persyaratannya untuk memulihkan lalu lintas maritim di Selat Hormuz. Laporan diberikan kantor berita negara IRNA.
"Jika Amerika mengklaim mereka sedang mencari kesepakatan atau solusi damai, kami telah mengajukan solusi tersebut," kata Araqchi.
Rencana tujuh hari Iran mencakup diakhirinya semua permusuhan di Iran dan Lebanon, pencairan aset Iran yang bernilai miliaran dolar, diakhirinya sanksi terhadap minyak Iran dan pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Iran kemudian akan mengizinkan pembukaan kembali Selat Hormuz, saluran penting bagi kapal tanker minyak, dan kedua belah pihak juga akan melanjutkan pembicaraan mengenai program nuklir Iran dan keinginan Trump untuk menyita atau menghilangkan uranium yang sangat diperkaya di negara tersebut.
Trump mengatakan pada hari Sabtu bahwa dia telah menolak usulan Iran, dengan mengatakan bahwa Iran menginginkan perjanjian yang cepat karena tekanan ekonomi yang melumpuhkan yang dialaminya. Namun, dia juga mengatakan kepada Axios pada hari Minggu bahwa dia mengharapkan negosiator AS untuk terlibat dalam pembicaraan lebih lanjut minggu ini.
Araqchi mengatakan pada hari Minggu bahwa para mediator belum secara resmi menyampaikan penolakan AS. Dikatakannya pula bahwa Iran sedang menunggu posisi definitif Washington sebelum memutuskan langkah selanjutnya.
"Persyaratan kami jelas, dan setiap langkah menuju pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada terpenuhinya persyaratan ini," katanya seraya menambahkan bahwa hanya solusi negosiasi yang dapat menyelesaikan kebuntuan tersebut.
(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]