Politisi Dipukuli hingga Tewas Usai Beri Edukasi Kesehatan Penting
Jakarta, CNBC Indonesia - Seorang tokoh senior partai berkuasa di Republik Demokratik Kongo (DRC) tewas setelah dipukuli massa. Ia sebelumnya muncul dalam sebuah program radio untuk mengedukasi masyarakat mengenai wabah Ebola yang tengah merebak di wilayah tersebut.
Dilansir Reuters, Selasa (29/9/2026), Marie-Celestin Karondwa, pelaksana tugas ketua komite eksekutif federal Partai Union for Democracy and Social Progress (UDPS) di Butembo, diserang setelah mengikuti siaran radio yang membahas langkah-langkah pencegahan Ebola. Butembo saat ini menjadi salah satu titik baru penyebaran wabah tersebut, menurut pernyataan federasi UDPS di kota itu.
Dalam pernyataannya, UDPS mengatakan Karondwa dipukuli oleh para penyerang. Barang-barang miliknya juga dirampas dan rumahnya dibakar. Ia kemudian meninggal akibat luka-luka yang dideritanya.
Belum diketahui siapa pelaku serangan tersebut, berapa jumlah mereka maupun motif di balik aksi kekerasan itu. Namun, UDPS menyebut Karondwa sebagai "korban tak bersalah karena telah membela posisi partai mengenai keberadaan penyakit virus Ebola ... dan ancaman yang ditimbulkannya terhadap masyarakat".
Kematian Karondwa terjadi ketika serangkaian serangan terhadap tenaga kesehatan dan pusat perawatan Ebola terus bermunculan. Para pakar menilai kekerasan tersebut dipicu oleh rumor, informasi keliru mengenai penyakit serta ketidakpercayaan terhadap petugas kesehatan yang menangani wabah.
Serangan-serangan itu sebelumnya telah memicu kekerasan, kerusuhan, kerusakan properti hingga terganggunya layanan penting bagi masyarakat.
Pada Sabtu, sekelompok pria bersenjata juga menyerang pos pemeriksaan untuk mencuci tangan di wilayah Beni yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian. Sedikitnya satu orang tewas dan beberapa lainnya terluka dalam serangan tersebut, menurut kelompok masyarakat sipil setempat.
Ebola pertama kali teridentifikasi pada 1976 di wilayah yang kini menjadi DRC. Penyakit akibat virus ini sangat menular dan kerap mematikan, serta dapat menyerang manusia maupun primata non-manusia. Penularannya terjadi melalui cairan tubuh atau benda yang telah terkontaminasi.
Ebola dapat menyebabkan kerusakan organ, gangguan pada pembuluh darah, hingga pendarahan hebat baik di dalam maupun di luar tubuh.
Wabah yang sedang berlangsung di DRC kali ini disebabkan oleh virus Bundibugyo, jenis Ebola yang tergolong langka. Hingga kini belum tersedia pengobatan maupun vaksin yang telah disetujui untuk jenis virus tersebut.
Wabah tersebut pertama kali diumumkan pada 15 Mei. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan DRC, sebanyak 8.067 orang telah terinfeksi dan 3.901 orang meninggal dunia. Kasus Ebola juga telah dikonfirmasi di tujuh provinsi.
Skala wabah kali ini disebut sebagai yang terbesar sekaligus paling mematikan dalam sejarah DRC. Secara global, jumlah tersebut hanya kalah dari wabah Ebola di Afrika Barat pada 2014-2016 yang menginfeksi lebih dari 28.600 orang dan menewaskan lebih dari 11.000 orang.
Namun, data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) menunjukkan laju wabah Ebola di DRC saat ini telah melampaui wabah di Afrika Barat tersebut.
Bulan lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa wabah di DRC berada di jalur untuk melampaui skala wabah Afrika Barat. Para ahli menyebut penyebaran penyakit diperparah oleh sejumlah faktor, termasuk konflik, pemangkasan bantuan serta serangan terhadap tenaga kesehatan dan fasilitas perawatan Ebola.
(luc/luc)