MARKET DATA
Internasional

Virus Mematikan Menyebar, Tim Pemakaman Jadi Sasaran Kemarahan Warga

tfa,  CNBC Indonesia
07 September 2026 21:30
Members of the Civil Protection, a local community-based team that works to help mitigate the spread of the Ebola virus and ensure burials happen safely and quickly, wearing personal protective equipment (PPE), handle a wooden coffin before loading t
Foto: Kongo (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)

Jakarta, CNBC Indonesia - Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) tidak hanya mengancam pasien dan tenaga medis. Tetapi juga para petugas yang menangani jenazah.

Di Provinsi Ituri, tim pemakaman harus bekerja di tengah kelelahan, ketakutan tertular, hingga kemarahan keluarga korban. Yuma Adolphe, salah satu anggota tim pemakaman, mengatakan tekanan pekerjaan semakin berat seiring meningkatnya jumlah korban.

"Sulit rasanya, tetapi kami berusaha memaksakan diri melampaui batas kemampuan kami," ujarnya kepada The Associated Press, dikutip Senin (7/9/2026).

Sejak wabah merebak pada pertengahan Mei, tim-tim kecil seperti yang dipimpin Adolphe dikerahkan ke sejumlah titik penyebaran untuk menggali kuburan, menyiapkan jenazah, hingga memastikan pemakaman berlangsung aman. Mereka menerima bayaran sekitar US$20 atau Rp352.000 per hari dan menjadi bagian dari pekerja garis depan yang berupaya menghentikan penularan.

Namun, tugas tersebut membuat mereka berhadapan langsung dengan keluarga korban yang tengah berduka. Jenazah pasien Ebola harus ditangani petugas terlatih karena virus masih dapat aktif setelah kematian, sehingga keluarga tidak bebas menyentuh atau melakukan seluruh ritual pemakaman sesuai tradisi mereka.

"Biasanya, jenazah diserahkan kepada pihak keluarga, yang kemudian dapat mengurusnya sesuai keinginan mereka dan adat istiadat Afrika kita," kata Adolphe menyebut larangan menjalankan sejumlah ritual menjadi sumber kesalahpahaman dan memicu kemarahan terhadap petugas.

Sejak Mei, petugas kesehatan dan tim pemakaman dilaporkan beberapa kali menghadapi serangan dari keluarga korban di wilayah pusat wabah. Penasihat gubernur militer Ituri untuk urusan kesehatan dan kemanusiaan, Jeanne Alasha, menegaskan bahwa tindakan menyerang petugas dapat dikenai sanksi hukum.

Kemarahan warga tercermin dalam pemakaman Justine Habineno, anggota paduan suara berusia 36 tahun yang meninggal akibat Ebola. Ibunya, Sofia Wanito, mengaku hanya diperbolehkan melihat jenazah dari jendela rumah sakit dan tidak dapat menyentuh peti mati.

"Dulu, kami tidak meninggal seperti ini. Saya bahkan tidak bisa menyelimutinya sendiri dan memberikan penghormatan terakhir," ujarnya.

Di tengah konflik bersenjata, pengungsian, lemahnya sistem kesehatan, dan pergerakan penduduk yang tinggi, pengendalian wabah semakin sulit. Anggota tim pemakaman lainnya, Benjamin Muhindo, mengatakan keluarganya khawatir dirinya membawa virus ke rumah, tetapi ia tetap menjalankan tugas.

"Kami bekerja di bawah tekanan dan terus-menerus berpacu dengan waktu," katanya.

"Kami tidak punya pilihan. Kami hadir di sini untuk melindungi masyarakat kami," tambahnya lagi.

(tfa/sef) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Wabah Mematikan di Negara Ini Kian Meluas, Menyebar di 6 Provinsi


Most Popular
Features