MARKET DATA

Negara ini Dilanda Wabah Ebola Terbesar, Korban Tewas Tembus 4.000

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
03 October 2026 21:00
A drone view of workers at the Ceca-20 cemetery, as aid agencies intensify efforts to contain an Ebola outbreak caused by the Bundibugyo virus, in Mungwalu, Djugu Territory of Ituri province, Democratic Republic of Congo, July 14, 2026. REUTERS/Grade
Foto: REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere

Jakarta, CNBC Indonesia - Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) semakin memburuk. Data pemerintah menunjukkan jumlah korban meninggal dunia akibat wabah tersebut telah menembus 4.000 orang.

Dilansir dari Reuters, wabah yang disebabkan oleh spesies Ebola Bundibugyo itu kini menjadi wabah Ebola terbesar sekaligus paling mematikan dalam sejarah Kongo. Jumlah korban meninggal telah melampaui wabah Ebola yang terjadi pada 2018-2020.

Berdasarkan data pemerintah yang dirilis Jumat (2/10/2026), jumlah kematian akibat wabah tersebut telah mencapai 4.018 orang. Sementara itu, total kasus terkonfirmasi telah mencapai 8.300 kasus yang tersebar di tujuh provinsi.

Lebih dari 2.000 pasien dilaporkan telah pulih dari penyakit tersebut. Namun, upaya untuk menghentikan penyebaran virus masih menghadapi tantangan besar.

Pemerintah Kongo dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada bulan lalu menyebut terdapat tanda-tanda bahwa penularan mulai melambat di sejumlah wilayah Provinsi Ituri. Wilayah tersebut merupakan lokasi awal munculnya wabah Ebola terbaru ini.

Meski demikian, penyebaran virus masih berlangsung cepat di wilayah timur Kongo, termasuk di Provinsi North Kivu.

Provinsi South Ubangi di bagian barat laut Kongo juga menjadi provinsi ketujuh yang menyatakan adanya wabah Ebola pada bulan lalu. Wabah di wilayah tersebut terdeteksi setelah seorang pria yang sebelumnya melakukan perjalanan dari Kongo bagian timur meninggal dunia akibat virus tersebut.

Dengan jumlah korban yang kini telah melampaui 4.000 orang, wabah Ebola terbaru di Kongo menjadi wabah Ebola paling mematikan di negara tersebut. Posisi ini membuatnya berada di urutan kedua setelah wabah Ebola Afrika Barat pada 2014-2016.

Wabah Ebola Afrika Barat tersebut menginfeksi lebih dari 28.600 orang dan menewaskan lebih dari 11.000 orang di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone.

Di tengah upaya penanganan wabah, berbagai lembaga bantuan terus meningkatkan langkah-langkah untuk membatasi penyebaran virus. Salah satunya dilakukan di pusat perawatan Ebola Kitatumba yang dikelola Médecins Sans Frontières (MSF) di Butembo, Provinsi North Kivu.

Dalam sebuah dokumentasi pada 23 September 2026, seorang pekerja yang mengenakan alat pelindung diri (APD) terlihat melakukan disinfeksi terhadap sebuah meja di pusat perawatan tersebut.

Wabah Ebola sendiri merupakan penyakit yang dapat menyebabkan demam, perdarahan dan berbagai komplikasi serius. Penanganan pasien serta pengendalian penularan membutuhkan fasilitas khusus dan prosedur perlindungan ketat bagi tenaga kesehatan maupun pekerja yang berada di pusat perawatan.

Pemerintah Kongo bersama organisasi internasional masih terus melakukan upaya untuk mengendalikan wabah, meskipun penyebaran di sejumlah wilayah masih menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Politisi Dipukuli hingga Tewas Usai Beri Edukasi Kesehatan Penting


Most Popular
Features