MARKET DATA
Internasional

Trump Bakal Kumpulkan Pemimpin Arab & Negara Muslim di New York

sef,  CNBC Indonesia
17 September 2026 14:10
U.S. President Donald Trump boards Air Force One, as he travels to attend a campaign rally supporting Republican U.S. Senate candidate Michael Whatley in North Carolina, at Joint Base Andrews in Maryland, D.C., U.S., September 16, 2026. REUTERS/Kevin
Foto: REUTERS/Kevin Lamarque

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berencana bertemu dengan para pemimpin negara Teluk di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York Selasa depan. Hal ini dilakukan guna membahas langkah selanjutnya dalam perang dengan Iran.

Mengutip Axios, Kamis (17/9/2026), ada tiga sumber yang mengetahui hal ini. Laporan muncul di tengah macetnya upaya Washington untuk memulai kembali pembicaraan gencatan senjata dengan Iran sementara negara-negara Teluk menghadapi eskalasi serangan dari Teheran dan milisi Houthi yang bersekutu dengan pemerintahan Syiah dalam beberapa hari terakhir.

Menurut laporan tersebut, Trump diperkirakan akan bertemu dengan para pemimpin dari enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Oman. Namun, ada kemungkinan daftar tamu diperluas mencakup pemimpin Arab dan Muslim lain.

Disebutkan bagaimana Departemen Luar Negeri AS telah mengirimkan undangan awal pada hari Rabu. Diskusi tersebut akan berfokus pada usulan AS mengenai strategi pasca-konflik, seiring upaya Trump dan tim seniornya menyusun rencana yang diperkirakan baru akan rampung setelah pemilihan umum paruh waktu (pemilu sela) AS pada bulan November.

Dilaporkan juga bagaimana Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu juga ingin bertemu Trump di New York. Tapi hingga kini, belum ada pertemuan yang dijadwalkan.

Kemarin, Trump mengklaim bahwa Iran telah menghubungi Washington secara langsung dan ingin mencapai kesepakatan, seraya menggambarkan situasi konflik tersebut sudah mendekati akhir. "Mereka ingin membuat kesepakatan, dan kita lihat saja bagaimana hasilnya nanti," ujarnya kepada wartawan saat tiba di North Carolina.

Siaga Krisis Minyak?

Upaya diplomatik terbaru ini dilakukan di tengah beban ekonomi yang kian meningkat bagi negara-negara Teluk akibat konflik tersebut. Arab Saudi menutup Pipa Timur-Barat (East-West Pipeline), jaringan sangat strategis yang mengalirkan minyak mentah dari pantai timur kerajaan menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah, menyusul kerusakan akibat serangan pesawat nirawak (drone).

Harga minyak mentah sempat turun dari kenaikan sebelumnya pada hari Rabu setelah Arab Saudi dilaporkan mengatur pengiriman tambahan melalui pelabuhan Sohar di Oman dengan metode transfer antar-kapal (ship-to-ship transfer), sehingga meredakan kekhawatiran akan kekurangan pasokan yang berkepanjangan. Harga minyak mentah Brent turun ke level US$105,8 per barel sementara West Texas Intermediate (WTI) turun 0,22% menjadi US$102,14.

"Mungkin Iran bersedia melakukan negosiasi setelah pemilihan paruh waktu AS, namun keengganan yang terus berlanjut untuk terlibat secara diplomatik berisiko memperpanjang durasi konflik," ujar Kepala Strategi di Geopolitical Strategy, Michael Feller.

"Iran mungkin bersedia mencapai kesepakatan setelah pemilihan paruh waktu. Jika tidak, perang bisa berlanjut hingga akhir tahun 2028, atau bahkan lebih lama lagi," tambahnya.

"Salah satu hal yang dapat meredakan situasi adalah perbaikan Pipa Timur-Barat (East-West Pipeline)... meskipun stok di terminal ekspor akan habis jika jalur pipa tersebut tidak segera dipulihkan dalam hitungan hari," jelasnya lagi.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]
Next Article AS-Iran Masuk Babak Baru, Trump Batalkan Serangan Terbesar Sejak PD 2


Most Popular
Features