Pasar Asemka Kebanjiran Reseller Online, Begini Respons Mendag

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Rabu, 09/09/2026 20:00 WIB
Foto: Pusat Grosir Asemka kini jadi 'Dapur' Bisnis Reseller, Jakarta, Selasa (8/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso merespons perubahan perilaku berbelanja di Pasar Asemka, Jakarta barat. Pasar Asemka yang dulu sempat sepi efek perdagangan online kini justru kembali ramai diserbu para reseller online.

Budi memastikan perkembangan perdagangan digital yang sebelumnya sempat dikhawatirkan menggerus pasar fisik, kini justru mulai berjalan berdampingan dengan perdagangan offline.

Budi mengatakan, pemerintah akan mendorong pola perdagangan hybrid atau omnichannel, di mana pedagang tetap memiliki toko fisik tetapi sekaligus memanfaatkan kanal digital untuk berjualan.


"Nah kita kan, iya hybrid. Kan sering saya sampaikan kita itu kan ada omnichannel ya, hybrid. Jadi temen-temen itu selain Belanja online bukan berarti juga meninggalkan offlinenya. Jadi yang offline itu kan juga bisa jualan secara online. Dia punya tokonya, dia punya tempat, tetapi dia juga bisa online," kata Budi saat ditemui di kantornya, Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Menurutnya, model perdagangan tersebut tidak hanya berlaku bagi pedagang pasar tradisional atau pusat grosir. Pelaku usaha yang sepenuhnya berjualan secara online tanpa memiliki toko fisik juga menjadi bagian dari ekosistem tersebut.

"Ada yang online khusus, dia nggak punya tempat, kan juga banyak. Artinya nggak punya toko. Mungkin di rumah atau di gudangnya. Nah semuanya itu kita kombinasikan menjadi program hybrid. Termasuk yang di mal, department store kan sekarang banyak yang memakai program hybrid, omnichannel. Jadi dua-duanya kita dorong," ujarnya.

Pernyataan Budi ini menjadi relevan dengan perubahan yang terjadi di Pusat Grosir Asemka. Kawasan yang sempat terpukul oleh masifnya perdagangan online kini justru mulai mendapatkan pembeli baru dari ekosistem digital.

Barang-barang impor dari China dengan harga murah meriah di Pasar Asemka, Jakarta, Rabu (14/6/2023). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Barang-barang impor dari China dengan harga murah meriah di Pasar Asemka, Jakarta, Rabu (14/6/2023). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Salah satu pedagang Asemka, Nina, mengatakan kondisi pasar mulai kembali ramai sekitar setahun terakhir. Menurutnya, banyak konten di TikTok yang menampilkan produk-produk di Asemka ikut menarik pembeli, termasuk kalangan Generasi Z (Gen Z).

"Iya dulu sempat kan kita sepi, sampai ngadu ke Pak Zulhas ya dulu (Menteri Perdagangan) nya. Sekarang mulai ramai lagi sekitar setahun ini, pas banyak konten-konten di TikTok," kata Nina saat ditemui CNBC Indonesia di Pusat Grosir Asemka, Jakarta Barat, Selasa (8/9/2026).

Fenomena yang terjadi kini berbeda dengan kondisi pada 2023 lalu. Kala itu, pedagang Asemka sempat mengeluhkan sepinya pembeli akibat semakin masifnya penjualan online, terutama melalui TikTok. Omzet pedagang bahkan disebut turun hingga 70%.

Pedagang juga mengeluhkan persaingan harga karena sejumlah barang di platform online dapat dijual lebih murah dibandingkan harga grosir di pasar fisik.

Namun, perkembangan tersebut perlahan berbalik. Media sosial yang sebelumnya dianggap sebagai ancaman justru menjadi salah satu pintu masuk konsumen ke Asemka.

Produk yang viral di media sosial membuat calon pembeli datang ke Asemka untuk melihat barang secara langsung, sekaligus mencari harga grosir. Sebagian dari mereka bahkan datang dengan tujuan menjadi reseller dan kemudian menjual kembali barang tersebut melalui kanal online.

Saat CNBC Indonesia menyusuri kawasan Asemka, sejumlah toko terlihat menawarkan produk yang mengikuti tren media sosial, mulai dari slime, squishy, gantungan karakter, blind box, hingga berbagai aksesori rambut.

"Banyak Gen Z datang nyari barang yang viral. Jepitan bintang yang kayak Naykilla (penyanyi), itu paling banyak dicari sekarang," ujar salah satu pedagang.

Perubahan pola ini juga dirasakan oleh Amira, seorang reseller bulu mata palsu. Ia mengaku awalnya mengetahui Asemka dari TikTok ketika sedang mencari bulu mata untuk kebutuhan pernikahan kakaknya.

"Ya saya tau awalnya dari TikTok, terus 3 bulan lalu itu mau nyari bulu mata buat nikahan kakak saya, eh ternyata saya malah dapat supplier yang oke, sekalian saja saya survey-survey, sampai sekarang saya sudah jualan bulu mata," kata Amira.

Setelah menemukan pemasok di Asemka, Amira mulai mengambil barang untuk dijual kembali secara online. Ia menyebut modal pembelian bulu mata berada di kisaran Rp67.000-Rp120.000 per lusin.

"Lumayan ya omzetnya, saya modal beli di sini itu kayak Rp67.000-Rp120.000 selusin, itu saya bisa jual lagi per pack nya jadi Rp25.000. Lumayan banget. Saya tinggal rebranding dikit, tapi sudah oke penjualan," ujarnya.

Dengan demikian, pola yang terbentuk di Asemka kini bukan lagi semata-mata persaingan antara pasar fisik dan perdagangan digital. Pasar grosir justru menjadi sumber pasokan bagi pelaku usaha online, sementara media sosial berfungsi sebagai etalase yang mengarahkan calon reseller untuk datang mencari barang.

Di sisi lain, Mendag Budi belum memberikan angka pasti mengenai seberapa besar kontribusi reseller online terhadap perdagangan saat ini.

"Kalau angka-angkanya kita cek dulu ya, saya pastikan dulu," kata Budi.


(wur)
Saksikan video di bawah ini:

Video: ITERA Perkuat Ekosistem Riset & Teknologi Anak Bangsa