MARKET DATA

Pasar Asemka Saksi Mata Warga RI Mengais Rezeki-Awalnya dari Bulu Mata

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
09 September 2026 08:10
Pusat Grosir Asemka kini jadi 'Dapur' Bisnis Reseller, Jakarta, Selasa (8/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Foto: Pusat Grosir Asemka kini jadi 'Dapur' Bisnis Reseller, Jakarta, Selasa (8/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Jakarta, CNBC Indonesia - TikTok awalnya hanya menjadi tempat Amira mencari bulu mata untuk kebutuhan pernikahan kakaknya. Namun, pencarian sederhana di media sosial itu justru membawanya ke Pusat Grosir Asemka, Jakarta Barat, dan berujung menjadi pintu masuk bagi bisnis barunya.

Amira mengaku pertama kali mengetahui Asemka dari TikTok. Saat itu, sekitar tiga bulan lalu, ia datang untuk mencari bulu mata. Alih-alih hanya membeli untuk keperluan pribadi, ia menemukan supplier yang dinilai cocok untuk dijadikan sumber barang dagangan.

"Ya saya tau awalnya dari TikTok, terus 3 bulan lalu itu mau nyari bulu mata buat nikahan kakak saya, eh ternyata saya malah dapat supplier yang oke, sekalian saja saya survei-survei, sampai sekarang saya sudah jualan bulu mata," kata Amira saat ditemui di lokasi, Selasa (8/9/2026).

Sejak saat itu, Asemka bukan lagi sekadar tempat belanja aksesori bagi Amira. Pasar grosir tersebut menjadi tempatnya mengambil stok sebelum produk dipasarkan kembali secara online.

Amira mengatakan, harga bulu mata yang didapatkannya di Asemka berkisar Rp67.000 hingga Rp120.000 per lusin. Barang tersebut kemudian dikemas dan dijual kembali dengan mereknya sendiri.

"Lumayan ya omzetnya, saya modal beli di sini itu kayak Rp67.000-Rp120.000 selusin, itu saya bisa jual lagi per pack nya jadi Rp25.000. Lumayan banget. Saya tinggal rebranding dikit, tapi sudah oke penjualan," ujarnya.

Cerita Amira menggambarkan perubahan peran Asemka di tengah masifnya perdagangan digital. Jika sebelumnya pembeli datang ke pasar untuk mencari barang, kini sebagian orang justru mengenal Asemka lebih dulu dari media sosial sebelum datang untuk mencari supplier.

Dulu Andalkan Pembeli Fisik

Perubahan itu terasa cukup besar bagi para pedagang Asemka. Beberapa tahun lalu, aktivitas perdagangan di kawasan tersebut masih sangat mengandalkan pembeli yang datang langsung ke toko.

Namun, perkembangan e-commerce dan media sosial sempat membuat kondisi pasar grosir tersebut tertekan.

Pada September 2023, pedagang Asemka sempat mengeluhkan anjloknya jumlah pembeli setelah maraknya penjualan online, termasuk melalui TikTok Shop, semakin masif. Salah satu pedagang kosmetik bahkan mengaku omzetnya turun hingga 70%.

Kini, kondisi tersebut mulai berbalik. Media sosial yang sebelumnya dianggap sebagai ancaman justru menjadi salah satu sumber kedatangan pembeli baru.

Salah satu pedagang Asemka, Nina, mengatakan perubahan itu mulai terasa sekitar setahun terakhir. Menurut dia, konten-konten Gen Z di TikTok mengenai produk yang dijual di Asemka ikut membuat kawasan tersebut kembali ramai.

"Iya dulu sempat kan kita sepi, sampai ngadu ke Pak Zulhas ya dulu (Menteri Perdagangan) nya. Sekarang mulai ramai lagi sekitar setahun ini, pas banyak konten-konten di TikTok," kata Nina.

Menurut Nina, orang yang datang kini tidak hanya membeli untuk konsumsi pribadi. Banyak pula yang mencari barang untuk dijual kembali secara online.

"Banyak Gen Z datang nyari barang yang viral. Jepitan bintang yang kayak Naykilla (penyanyi), itu paling banyak dicari sekarang," ujarnya.

Tempat Korban PHK Mengais Rezeki-Mengubah Nasib

Fenomena tersebut terlihat dari barang yang memenuhi toko-toko di Asemka. Selain aksesori dan mainan yang sudah lama menjadi produk utama, pedagang kini juga menyediakan berbagai barang yang mengikuti tren media sosial, mulai dari slime, squishy, gantungan karakter, blind box hingga aksesori rambut.

Perubahan serupa juga dialami Teni, reseller slime dan squishy. Ia sebenarnya sudah mengenal Asemka sejak kecil dari orang tuanya, tetapi baru kembali mencari barang di kawasan tersebut sekitar dua bulan lalu setelah terkena PHK.

"Tapi baru ya coba cari barang ke sini 2 bulanan lalu ya, pas habis kena PHK, itu muter otak, gimana caranya saya bisa bangun usaha tapi modal kecil," ujar Teni.

Dengan modal sekitar Rp500.000, Teni mengambil dua lusin slime untuk dijual kembali. Produk tersebut ternyata kembali diminati setelah ramai di media sosial.

"Kayaknya waktu itu saya modal Rp500.000, modal ambil 2 lusin slime, nggak nyangka laku, karena ternyata hype lagi si slime itu," katanya.

Dalam dua bulan, omzetnya sudah mencapai jutaan rupiah. Ia pun rutin kembali ke Asemka untuk mencari produk yang sedang tren.

"Yah 2 bulan ini ya sudah jutaan, saya seminggu bisa dua kali ke sini buat ngecek barang," ujar Teni.

Kondisi ini menunjukkan posisi Asemka kini tidak lagi semata-mata sebagai pasar fisik yang berhadapan dengan perdagangan online. Pasar grosir tersebut justru mulai menjadi etalase offline bagi tren yang lahir di dunia digital.

Konten viral di TikTok menarik orang datang ke Asemka. Di sisi lain, barang yang ditemukan di Asemka kembali dipasarkan melalui TikTok, marketplace, maupun media sosial lainnya.

Dengan pola tersebut, platform digital yang sempat dikhawatirkan akan mematikan pasar fisik justru kini ikut membawa calon reseller dan peluang usaha ke Asemka.

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Pasar Asemka Bangkit dari Kubur, Dipenuhi Pedagang dan Pembeli Musiman


Most Popular
Features