MARKET DATA

Pasar Asemka Bangkit dari Kubur, Ramai-Ramai Diserbu Reseller Online

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
09 September 2026 06:30
Pusat Grosir Asemka kini jadi 'Dapur' Bisnis Reseller, Jakarta, Selasa (8/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Foto: Pusat Grosir Asemka kini jadi 'Dapur' Bisnis Reseller, Jakarta, Selasa (8/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemandangan di Pusat Grosir Asemka, Jakarta Barat, kini terlihat berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Lorong-lorong pertokoan kembali dipenuhi pembeli yang berburu aksesori, mainan, hingga barang-barang yang sedang viral di media sosial.

Padahal, beberapa tahun lalu, pedagang di kawasan ini justru dibuat khawatir oleh perkembangan perdagangan online.

Pada September 2023, pedagang Asemka bahkan sempat mengeluhkan sepinya pembeli setelah marak penjualan online, khususnya melalui TikTok, semakin masif. Saat itu, pedagang mengaku omzetnya turun hingga 70%. Para pedagang juga mengeluhkan harga barang di platform online yang bisa lebih murah dibandingkan harga grosir di pasar fisik.

Namun, kondisi tersebut perlahan berubah.

Kini, TikTok dan media sosial yang dulu dianggap sebagai ancaman justru menjadi salah satu pintu masuk pembeli baru ke Asemka. Mereka datang bukan hanya untuk mencari barang kebutuhan pribadi, tetapi juga untuk menemukan produk yang bisa dijual kembali secara online.

Salah satu pedagang, Nina, yang ditemui CNBC Indonesia mengatakan kondisi Asemka mulai kembali ramai sekitar setahun terakhir. Menurutnya, perubahan itu terasa setelah banyak Generasi Z atau Gen Z membuat konten di media sosial terkait produk-produk yang dijual di Asemka.

Ia bahkan mengaku pernah melihat langsung bagaimana kondisi toko-toko di Asemka yang sebelumnya sepi kemudian kembali dipadati pembeli.

"Iya dulu sempat kan kita sepi, sampai ngadu ke Pak Zulhas ya dulu (Menteri Perdagangan) nya. Sekarang mulai ramai lagi sekitar setahun ini, pas banyak konten-konten di TikTok," kata Nina saat ditemui CNBC Indonesia di Pusat Grosir Asemka, Jakarta Barat, Selasa (8/9/2026).

Menurut dia, media sosial ikut mendorong orang datang langsung ke Asemka untuk mencari barang yang sedang tren. Produk yang viral di media sosial kemudian membuat calon reseller datang untuk melihat barang secara langsung dan mencari harga grosir.

Fenomena itu terlihat saat CNBC Indonesia menyusuri sejumlah toko di Asemka. Barang-barang yang dipajang tidak hanya berupa aksesori konvensional, tetapi juga produk yang mengikuti tren media sosial, seperti slime, squishy, gantungan karakter, blind box, hingga berbagai aksesori rambut.

Salah satu pedagang bahkan menyebut ada barang tertentu yang permintaannya melonjak setelah ramai di media sosial.

"Banyak Gen Z datang nyari barang yang viral. Jepitan bintang yang kayak Naykilla (penyanyi), itu paling banyak dicari sekarang," ujarnya.

Medsos Jadi Jalan Menemukan Supplier

Perubahan pola tersebut juga terlihat dari cerita para pengunjung Asemka. Amira, salah satu reseller bulu mata palsu, mengaku awalnya tidak datang ke Asemka untuk membuka bisnis. Ia justru mengetahui lokasi tersebut dari TikTok ketika sedang mencari bulu mata untuk keperluan pernikahan kakaknya.

"Ya saya tau awalnya dari TikTok, terus 3 bulan lalu itu mau nyari bulu mata buat nikahan kakak saya, eh ternyata saya malah dapat supplier yang oke, sekalian saja saya survey-survey, sampai sekarang saya sudah jualan bulu mata," kata Amira.

Setelah menemukan supplier yang cocok, Amira kemudian mulai mengambil barang dari Asemka untuk dijual kembali. Ia menyebut modal pembelian bulu mata di sana berada di kisaran Rp67.000-Rp120.000 per lusin.

"Lumayan ya omzetnya, saya modal beli di sini itu kayak Rp67.000-Rp120.000 selusin, itu saya bisa jual lagi per pack nya jadi Rp25.000. Lumayan banget. Saya tinggal rebranding dikit, tapi sudah oke penjualan," ujarnya.

Cerita Amira menunjukkan perubahan fungsi media sosial bagi pasar grosir seperti Asemka. TikTok tidak lagi dipandang sebagai pembunuh para pedagang di Pusat Grosir Asemka, kini media sosial itu menjadi sarana bagi calon pelaku usaha untuk menemukan tempat mengambil barang.

Bagi Amira, satu video atau informasi di TikTok akhirnya membawanya ke Asemka, menemukan supplier, lalu memulai bisnis sendiri.

Pusat Grosir Asemka kini jadi 'Dapur' Bisnis Reseller, Jakarta, Selasa (8/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)Pusat Grosir Asemka kini jadi 'Dapur' Bisnis Reseller, Jakarta, Selasa (8/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Pusat Grosir Asemka kini jadi 'Dapur' Bisnis Reseller, Jakarta, Selasa (8/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Pengalaman serupa dialami Teni, reseller squishy dan slime. Berbeda dengan Amira, Teni sebenarnya sudah mengenal Asemka sejak kecil, dari cerita orang tuanya yang kerap berbelanja barang grosiran di kawasan tersebut.

Namun, ia baru coba mendatangi Asemka sekitar dua bulan lalu, setelah terkena PHK dan harus mencari sumber penghasilan baru.

"Tapi baru ya coba cari barang ke sini 2 bulanan lalu ya, pas habis kena PHK, itu muter otak, gimana caranya saya bisa bangun usaha tapi modal kecil," ujar Teni.

Dengan modal awal sekitar Rp500.000, ia kemudian mencoba mengambil dua lusin slime untuk dijual kembali. Di luar dugaan, barang tersebut justru laris karena slime kembali ramai diminati.

"Kayaknya waktu itu saya modal Rp500.000, modal ambil 2 lusin slime, nggak nyangka laku, karena ternyata hype lagi si slime itu," katanya.

Dalam waktu sekitar dua bulan, Teni mengaku omzet bisnisnya sudah mencapai jutaan. Ia bahkan bisa datang ke Asemka hingga dua kali dalam sepekan untuk mengecek barang-barang baru.

"Yah 2 bulan ini ya sudah jutaan, saya seminggu bisa dua kali ke sini buat ngecek barang," ujar Teni.

Dulu Jadi Ancaman, Kini Jadi Etalase

Perubahan tersebut membuat posisi Asemka terhadap perdagangan digital menjadi menarik. Pada 2023, pedagang mengeluhkan sepinya pembeli akibat maraknya live shopping melalui platform seperti TikTok. Pemerintah bahkan turun langsung ke Asemka setelah menerima keluhan pedagang mengenai dampak perdagangan online terhadap pasar fisik.

Kini, situasinya seperti berbalik. Media sosial memang tetap menjadi tempat transaksi dan promosi bagi banyak penjual online. Namun, bagi sebagian pelaku usaha kecil, platform tersebut justru menjadi etalase untuk mencari produk, sementara Asemka menjadi tempat untuk mendapatkan barang dengan harga grosir.

Pola itu terlihat dari aktivitas reseller yang datang ke Asemka. Mereka mencari barang yang sedang tren, membandingkan harga antar toko, mengambil stok dalam jumlah tertentu, lalu memasarkannya kembali melalui media sosial dan marketplace.

Dari yang sebelumnya merasa digempur perdagangan online, khususnya TikTok Shop, pedagang Asemka kini justru ikut menikmati efek dari tren yang lahir di platform tersebut.

(wur) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Pasar Asemka Ramai-Ramai Diserbu Reseller Online, Barang Ini Diburu


Most Popular
Features