MARKET DATA

Gen Z Jadi Reseller Online, Modal Segini ke Pasar Asemka Bisa Viral

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
09 September 2026 14:55
Penjual Melayani pembeli petasan di Pasar Asemka, Taman Sari, Jakarta, Kamis (28/12/2023).(CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Penjual Melayani pembeli petasan di Pasar Asemka, Taman Sari, Jakarta, Kamis (28/12/2023). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Memulai usaha tidak selalu membutuhkan modal besar. Di Pusat Grosir Asemka, Jakarta Barat, calon pelaku usaha bisa berburu barang grosiran yang sedang tren untuk kemudian dijual kembali melalui media sosial (medsos).

Salah satu pedagang, Nina, yang ditemui CNBC Indonesia di lokasi mengatakan tokonya membuka kesempatan bagi pembeli yang ingin menjadi reseller. Modal awal yang dibutuhkan mulai sekitar Rp2 juta.

"Kalau untuk jadi reseller di toko kami minimal Rp2 juta," ungkap Nina, Selasa (8/9/2026).

Setelah memenuhi minimum pembelian itu, reseller akan mendapatkan katalog produk yang dapat digunakan untuk berjualan kembali. Calon reseller pun tinggal memilih barang dari katalog, kemudian mengirimkan foto atau tangkapan layar produk kepada admin untuk dicarikan barangnya.

Untuk pembelian grosir, Nina mengatakan, harga juga akan menyesuaikan jumlah barang yang diambil. Pada produk tertentu, harga grosir berlaku mulai pembelian minimal tiga lusin atau 36 buah.

Adapun untuk harga, Nina menyebut barang yang dijual di tokonya beragam, mulai dari Rp17.000 per lusin, hingga Rp150.000 per lusin, tergantung jenis barangnya.

Menariknya, Nina mengatakan cukup banyak reseller yang datang merupakan anak muda atau Generasi Z. Mereka biasanya mencari barang yang tengah tren atau viral, untuk kemudian dipasarkan kembali secara online.

"Gen Z rata-rata," katanya saat ditanya mengenai profil pembeli yang menjadi reseller di tokonya.

Ia menilai, barang yang dicari pun mengikuti tren yang berkembang. Saat ini, misalnya, produk seperti gantungan kunci, gantungan boneka, gelang, slime, hingga berbagai aksesori menjadi beberapa barang yang diminati.

Skema tersebut membuat calon pengusaha tidak harus langsung memproduksi sendiri atau menumpuk stok dalam jumlah besar. Barang dapat dipilih sesuai tren, kemudian dipasarkan kembali melalui TikTok, marketplace, maupun media sosial.

Pusat Grosir Asemka kini jadi 'Dapur' Bisnis Reseller, Jakarta, Selasa (8/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)Pusat Grosir Asemka kini jadi 'Dapur' Bisnis Reseller, Jakarta, Selasa (8/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Pusat Grosir Asemka kini jadi 'Dapur' Bisnis Reseller, Jakarta, Selasa (8/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Jualan Slime Modal Rp500 Ribu

Salah satunya Teni, reseller squishy dan slime. Ia mulai berjualan sekitar dua bulan lalu setelah terkena PHK.

Teni mengaku, sebenarnya sudah mengenal Asemka sejak kecil dari orang tuanya. Namun, kondisi setelah kehilangan pekerjaan membuatnya mulai serius mencari barang yang bisa diputar menjadi sumber penghasilan.

Berbekal modal awal sekitar Rp500 ribu, Teni mencoba mengambil dua lusin slime. Tak disangka, barang tersebut laku karena kebetulan kembali ramai di pasaran.

"Kayaknya waktu itu saya modal Rp500 ribu, modal ambil dua lusin slime, nggak nyangka laku, karena ternyata hype lagi si slime itu," kata Teni.

Dari percobaan tersebut, usahanya terus berkembang. Dalam waktu sekitar dua bulan, Teni memperkirakan omzet penjualannya sudah mencapai jutaan.

"Yah 2 bulan ini ya berarti omset saya adah lah sudah jutaan ya, saya seminggu bisa dua kali ke sini buat ngecek barang," ujarnya.

Ia kini rutin mendatangi Asemka untuk melihat stok dan mencari barang baru. Jika sedang sibuk atau tak ada produk baru yang perlu dicek, Teni cukup meminta toko mengirimkan pesanannya.

Niat Cari Bulu Mata, Pulang Bawa Ide Usaha

Cerita lain datang dari Amira. Reseller bulu mata palsu itu justru mengenal Asemka dari TikTok.

Sekitar tiga bulan lalu, Amira awalnya hanya ingin mencari bulu mata untuk keperluan pernikahan kakaknya. Namun, setelah berkeliling dan menemukan supplier dengan harga yang cocok, ia melihat peluang untuk menjualnya kembali.

"Ya saya tahu awalnya dari TikTok, terus tiga bulan lalu itu mau nyari bulu mata buat nikahan kakak saya, eh ternyata saya malah dapat supplier yang oke, sekalian saja saya survey-survey sampai sekarang saya sudah jualan bulu mata," kata Amira.

Ia membeli bulu mata dengan harga sekitar Rp67.000-Rp120.000 per lusin. Barang tersebut kemudian dikemas kembali dan dijual dengan harga Rp25.000 per pack.

"Lumayan banget. Saya tinggal rebranding dikit, tapi sudah oke penjualan," ujarnya.

Berburu Barang yang Lagi Viral

Pantauan CNBC Indonesia di Asemka menunjukkan barang dagangan yang ditawarkan sangat beragam. Rak-rak toko dipenuhi aksesori rambut, gantungan kunci, gelang, slime, squishy, blind box, hingga berbagai produk kecantikan. Produk yang tengah viral menjadi salah satu yang paling cepat menarik perhatian pembeli.

Cerita Teni dan Amira memperlihatkan bagaimana barang-barang grosiran di Asemka bisa menjadi pintu masuk untuk mencoba usaha dengan modal terbatas. Apalagi, pedagang kini menyediakan skema reseller dan katalog produk yang memudahkan barang tersebut dipasarkan kembali secara online.

Bagi anak muda yang jeli membaca tren, barang yang sedang viral di media sosial tak hanya menjadi sesuatu untuk dibeli. Dari slime, squishy hingga bulu mata palsu, tren tersebut juga bisa diputar menjadi peluang usaha.

(wur) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Pasar Asemka Saksi Mata Warga RI Mengais Rezeki-Awalnya dari Bulu Mata


Most Popular
Features