MARKET DATA

Hasil Belum Dirilis, Amran Beberkan Update Uji Lab Beras Fortifikasi

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
07 September 2026 14:38
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas Amran Sulaiman saat ditemui di Kemenko Pangan, Jakarta, Senin (7/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizki)
Foto: Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas Amran Sulaiman saat ditemui di Kemenko Pangan, Jakarta, Senin (7/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian (Mentan) sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman memberikan update terbaru terkait hasil pemeriksaan laboratorium beras fortifikasi yang sebelumnya ditemukan tidak sesuai standar.

Amran mengatakan, hasil pemeriksaan tersebut masih ditunggu. Saat ditanya mengenai kepastian kapan hasil uji laboratorium akan diumumkan, ia belum memberikan tanggal pasti.

"Ya berdoa. Tunggu," kata Amran saat ditemui di kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Senin (7/9/2026).

Ketika kembali ditanya mengenai kemungkinan adanya temuan baru atau perkembangan lebih lanjut dari hasil pemeriksaan beras fortifikasi, Amran meminta publik menunggu.

"Tunggu saja undangannya," tegasnya.

Adapun terkait rencana penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) khusus beras fortifikasi, pemerintah belum mengambil keputusan. Ia mengatakan kebijakan tersebut masih akan dikaji.

"Nanti kita kaji," tutur dia.

Sebelumnya, Amran mengungkap hasil pemeriksaan empat laboratorium menunjukkan lebih dari 90% beras fortifikasi yang diperiksa tidak sesuai standar.

Temuan itu disampaikan Amran dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen, Selasa (1/9/2026).

"Izin Bu, 90% itu tidak benar (tidak sesuai standar). Dulu, yang seperti ini dialihkan dari beras medium ke premium. Sekarang alhamdulillah ini sudah baik. Ternyata pindah kelakuan ini ke fortifikasi yang tidak ada vitaminnya, Bu. Nggak ada di dalamnya (kandungan vitamin)," kata Amran dalam rapat.

"Kita periksa pakai lab, beberapa lab, itu 4 lab, 90% tidak ada vitamin, hanya tulisannya saja. Nah ini tugas kami dengan penegak hukum, Satgas Pangan," sambungnya.

Bapanas juga mencatat dari pengawasan beras fortifikasi di seluruh Indonesia, sebanyak 27 dari 28 merek yang diperiksa berstatus Tidak Memenuhi Syarat (TMS). Hanya satu merek yang dinyatakan memenuhi syarat.

Persoalan ini menjadi perhatian karena beras tersebut dipasarkan menggunakan label fortifikasi, tetapi kandungan vitamin yang diklaim tidak ditemukan dalam pemeriksaan laboratorium.

"Nggak (ada kandungan vitaminnya), tulisan aja. Di-claim saja. Mereknya fortifikasi tapi tidak ada isinya. Jadi izin, Bu, nanti kami tindaklanjuti," tegas Amran.

Temuan tersebut juga berkaitan dengan perbedaan harga yang cukup tinggi. Bapanas mencatat harga rata-rata beras fortifikasi yang tidak memenuhi syarat mencapai Rp23.385 per kg, sedangkan beras pembanding berada di level Rp13.689 per kg.

Dengan selisih sekitar Rp9.695 per kg, Amran sebelumnya memperkirakan potensi kerugian konsumen dapat mencapai Rp89,19 triliun, dengan asumsi konsumsi beras nasional sebesar 9,2 juta ton per tahun.

"Ini swasta. Jadi ini beras swasta sebenarnya harganya Rp13.500-Rp14.000 per kg. Ini kan premium kita Rp14.900 (per kg). Ini dijual Rp40.000 (per kg) dengan label fortifikas," jelasnya.

Amran mengatakan, Bapanas masih menyusun laporan berdasarkan hasil pemeriksaan dari empat laboratorium. Saat itu, ia menyebut hasil pemeriksaan dari keempat laboratorium menunjukkan temuan yang sama.

"(Saat ini) sudah menyusun laporan. Sudah ada hasil dari empat lab yang memeriksa. Hasilnya sama. Yang tidak sesuai standar, yang ketentuan kita, itu 90% lebih," kata Amran ditemui usai rapat.

Hasil pemeriksaan tersebut selanjutnya akan direkap bersama data pendukung sebelum diserahkan kepada Satgas Pangan untuk ditindaklanjuti.

"Nanti kita setelah merekap baik-baik, menyusun laporannya dengan baik, baru serahkan ke Satgas Pangan," pungkasnya.

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Beras Jadi Penyumbang Inflasi Agustus 2026, Amran Tunjuk Penyebabnya


Most Popular
Features