MARKET DATA

Beras Jadi Penyumbang Inflasi Agustus 2026, Amran Tunjuk Penyebabnya

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
02 September 2026 14:55
Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman saat mengecek pusat benih di BRMP Padi Sukamandi, Subang, Jawa Barat, Rabu (2/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Foto: (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Subang, CNBC Indonesia - Beras kembali menjadi salah satu komoditas yang memberikan tekanan terhadap inflasi nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi inti Indonesia pada Agustus 2026 mencapai 2,92% secara tahunan (year on year/yoy), naik dari 2,17% pada Agustus 2025.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan komponen inflasi inti memberikan andil terbesar terhadap inflasi Agustus 2026.

"Inflasi inti secara tahunan 2,92%, dengan komponen ini andilnya terbesar, yakni 1,87%," kata Ateng dalam konferensi pers, Selasa (1/9/2026).

BPS mencatat sejumlah komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi inti pada Agustus 2026, di antaranya emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, pelumas atau oli mesin, hingga laptop atau notebook.

Sementara itu, pada komponen harga pangan bergejolak atau volatile food, BPS mencatat inflasi sebesar 4,06% yoy. Kenaikan harga daging ayam ras, beras, cabai rawit, daging sapi, dan cabai merah menjadi sejumlah pendorongnya.

Secara keseluruhan, inflasi Indonesia pada Agustus 2026 mencapai 3,19% yoy.

Menanggapi kembali masuknya beras sebagai salah satu penyumbang tekanan inflasi, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengatakan, pemerintah masih melakukan pengecekan untuk mengetahui penyebabnya. Dia menilai kenaikan tersebut tidak disebabkan oleh persoalan stok beras nasional.

"Kemarin salah satu kami cek ya,karena stok banyak kan, berarti bukan karena stok kan (inflasinya), karena beras banyak. Masalahnya adalah sementara kita selidiki," kata Amran saat ditemui di BRMP Padi Sukamandi, Subang, Jawa Barat, Rabu (2/9/2026).

Amran kemudian menyoroti persoalan beras fortifikasi yang menurutnya ditemukan tidak sesuai ketentuan. Dia menyebut berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, terdapat 90% beras fortifikasi yang diperiksa bermasalah.

"Sesuai hasil laboratorium, 90% yang kita cek beras fortifikasi melanggar," ujarnya.

Menurut dia, persoalan tersebut berpotensi membuat harga beras yang dijual kepada masyarakat jauh lebih tinggi dibandingkan harga beras biasa.

"Bayangkan, itu disampaikan beras fortifikasi ini bervitamin, ternyata tidak ada, dan dijual harga ada Rp56.000 (per kg) ada Rp42.000 (per kg), rata-ratanya Rp22.000 (per kg) dia jual," terang dia.

Amran menilai selisih harga tersebut sangat besar. Dia bahkan mengaitkannya dengan potensi tekanan terhadap inflasi apabila beras dengan harga tinggi tersebut beredar dalam jumlah besar.

"Katakanlah harga beras (medium) Rp13.000 (per kg) itu selisihnya dengan (beras fortifikasi yang dijual) Rp22.000 per kg. Jadi ini penipuan kan," kata Amran.

Dia pun meyakini penjualan beras dengan harga yang jauh lebih tinggi tersebut, menjadi salah satu faktor pendorong inflasi.

"Nah itu luar biasa menambah kan, harusnya harganya Rp13.500 (per kg), dia jual Rp40.000 (per kg). Menurut Anda menambah inflasi nggak? Penyumbang nggak? Nah itu (penyebabnya)," pungkasnya.

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article RI Waspada! Harga Beras & Minyak Goreng Terus Naik-Makin Menular


Most Popular
Features