MARKET DATA

Makin Marak, Mendag Beri Pesan Tegas ke Produsen Beras Berlabel Khusus

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
27 August 2026 15:55
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso saat ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (27/8/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Foto: Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso saat ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (27/8/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tren beras dengan karakteristik khusus semakin marak di ritel modern. Selain beras medium dan premium, konsumen kini semakin mudah menemukan beras long grain, beras fortifikasi, hingga beras yang menyasar kebutuhan tertentu seperti diabetes.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso, menilai kehadiran berbagai jenis beras tersebut tidak serta-merta akan menggeser beras medium dan premium. Menurutnya, setiap kategori memiliki segmen pasar masing-masing.

"Ya saya pikir pasarnya beda ya, pangsanya berbeda. Makanya sekarang juga Bulog sudah menyediakan untuk beras premium dan medium ya. Saya pikir itu pangsanya berbeda," kata Budi saat ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (27/8/2026).

Budi mengatakan, keberadaan beras khusus merupakan bagian dari respons produsen terhadap kebutuhan konsumen yang semakin beragam. Selama produk tersebut memenuhi ketentuan yang berlaku, pelaku usaha tetap memiliki ruang untuk mengembangkan kategori produk sesuai permintaan pasar.

"Ya bukan semata-mata hanya untuk mengisi market ya, tapi kan namanya produsen itu kan kreatif, namanya orang jualan. Tetapi beras medium, beras premium tetap jalan. Silakan saja kalau itu kan sesuai, nggak melanggar aturan ya, sepanjang diikuti ya standarnya, sesuai dengan yang ditentukan. Jangan sampai juga nggak sesuai dengan apa yang dia sampaikan (pada label)," jelas dia.

Menurutnya, pemerintah juga memastikan beras medium dan premium tetap tersedia di ritel modern. Bulog saat ini memasok beras premium melalui merek Befood, sedangkan beras medium akan didorong melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

"Untuk beras premium di ritel modern kan sekarang dipasok oleh Bulog ya dengan merek Befood ya. Kemudian untuk yang medium nanti ada juga SPHP dari Bulog. Ya kita dorong terus untuk mengisi di ritel modern," kata Budi.


Di sisi lain, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Iqbal Shoffan Shofwan memberikan jawaban lebih terbuka ketika ditanya apakah tren beras khusus berpotensi menggeser beras medium maupun premium di ritel modern.

"Bisa iya (menggeser ketersediaan beras premium maupun medium di ritel modern), (tapi) bisa juga nggak ya," ujar Iqbal.

Iqbal menjelaskan, pengaturan beras secara umum, termasuk kategori premium dan medium, berada di bawah kewenangan Badan Pangan Nasional (Bapanas). Sementara untuk beras fortifikasi, terdapat standar yang harus dipenuhi oleh produk.

"Kalau beras itu kan diatur melalui Bapanas ya. Kemudian terkait standar, terutama beras fortifikasi kan juga sudah ada SNI-nya tuh. Untuk SNI beras itu kan sudah memang ada aturannya, kalau nggak salah dari BPOM atau Kementerian Pertanian. Terkait dengan pengaturan beras secara umum itu kan memang diatur oleh melalui Bapanas, apakah pendistribusiannya maupun pengkategoriannya premium, medium, mungkin akan berkembang dengan hal-hal lainnya," katanya.

Ritel: Semua Beras Punya Pasar

Sebelumnya, Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah juga menilai semakin banyaknya beras khusus tidak otomatis menghilangkan pasar beras medium dan premium.

Menurutnya, konsumen memiliki daya beli dan kebutuhan yang berbeda sehingga setiap produk memiliki kelas pasarnya masing-masing.

"Ya sebenarnya kalau anggota Hippindo mempunyai konsep ya, setiap market tuh punya kelas ya. Jadi ada beras yang (harus sesuai) HET (harga eceran tertinggi), ada beras yang memang mahal. Konsumen itu mempunyai daya beli masing-masing. Ya ada yang memang (mencari beras) organik misalnya," kata Budihardjo saat ditemui di Swissotel PIK Avenue, Jakarta, Rabu (26/8/2026).


Budihardjo menilai munculnya beras dengan karakteristik khusus merupakan respons terhadap permintaan pasar yang semakin spesifik. Ia mencontohkan konsumen dengan kebutuhan tertentu maupun warga negara asing yang tinggal di Jakarta.

"Sebenarnya kalau menggeser juga nggak, masing-masing punya market. Ada yang orangnya diabetes, ya kayak gitu-gitu yang penting begitu ngomong less sugar ya harus less sugar gitu, nggak boleh lain sama kemasannya. Jadi semua ada marketnya," jelasnya.

"Lebih menyesuaikan market yang ada saja gitu. Iya kan market sekarang juga terutama ini tadi kan banyak orang asing, daya beli juga di Jakarta jauh lebih tinggi. Nah orang asing kan bahkan orang Jepang ya dia maunya beras dari Jepang, ya itu harus dipenuhi oleh market kita ya," ujar dia.

Kendati pilihan beras semakin beragam, Budihardjo menekankan pentingnya pengawasan terhadap klaim produk. Menurutnya, informasi pada kemasan harus sesuai dengan isi produk yang dijual agar konsumen tidak dirugikan.

"Namun yang kami harapkan, sebagai sektor ritel kami kan bukan produsen, menjualnya harus sesuai. Kalau ngomongnya organik harus organik. Jadi itu adalah perlindungan konsumen. Karena pada waktu kami didatengin supplier atau pabrik, ya kami percaya dengan penawarannya. Kami mendukung pemerintah bila ada ketidakbenaran dalam kemasan atau produk itu ya harus ditindak," ujarnya.

Ia menambahkan, harga yang lebih tinggi pada beras khusus dapat diterima apabila memang terdapat kandungan atau komponen tambahan yang membuat produk tersebut berbeda dari beras biasa.

"Namun kalau sudah benar dan memang di situ sudah harganya lebih mahal karena di dalamnya kontennya mungkin ada vitaminnya atau ada apanya, (membuat) harus dijual lebih mahal, ya kami harapkan pemerintah dapat memberikan sesuai dengan harganya. Jadi harus seperti itu," sambung dia.

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Bukan Cuma Premium, Ritel Kini Dipenuhi Stok Beras Khusus-Fortifikasi


Most Popular
Features