Lupakan Boeing-Airbus, 'Raja Langit' China Resmi Meluncur ke Dunia
Jakarta, CNBC Indonesia - Pesawat jet penumpang C919 buatan China mencatat sejarah dengan menjalani penerbangan komersial internasional terjadwal pertamanya pada Rabu. Langkah ini menjadi tonggak penting bagi upaya Beijing menantang dominasi Boeing dan Airbus di pasar pesawat penumpang global.
Berdasarkan data FlightRadar24, pesawat yang dioperasikan Air China itu lepas landas dari Bandara Internasional Ibu Kota Beijing menuju Ulaanbaatar, Mongolia, sekitar pukul 15.00 waktu setempat. "Raja langit" dari China itu kemudian mendarat sekitar dua jam kemudian.
Rute Beijing-Ulaanbaatar tersebut dijadwalkan beroperasi setiap hari dan menjadi penerbangan pertama C919 ke luar wilayah China. Penerbangan ini sekaligus mempertegas ambisi Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC) untuk menjadi penantang Boeing asal Amerika Serikat (AS) dan Airbus asal Eropa.Â
Meski begitu, analis Mercator Institute for China Studies (MERICS), Andreas Mischer, menilai C919 masih menghadapi ketergantungan besar terhadap komponen asing. "Produksi jet penumpang berbadan sempit C919 milik COMAC masih sangat bergantung pada pemasok asing," tegas Mischer, seperti dikutip CNBC International, Kamis (13/8/2026).Â
Salah satu komponen yang diimpor antara lain mesin. Pesawat masih menggunakan mesin CFM International dari perusahaan patungan GE Aerospace AS dan Safran Aircraft Engines Prancis.
Sebenarnya C919 sendiri merupakan pesawat lorong tunggal (narrow-body) yang dapat mengangkut hingga 174 penumpang dan menyasar segmen yang sama dengan Boeing 737 MAX serta Airbus A320neo. Meski telah mengantongi pesanan dalam jumlah besar, terutama dari maskapai dan perusahaan penyewaan pesawat China, kemampuan produksi COMAC masih jauh di bawah dua raksasa industri tersebut.
Mischer mengatakan COMAC baru mengirimkan 32 unit C919 hingga akhir 2025, sementara Airbus mengirimkan sekitar 100 pesawat lorong tunggal ke China hanya sepanjang tahun yang sama. COMAC kemudian mengirimkan delapan C919 tambahan pada paruh pertama 2026, tetapi angka tersebut masih jauh dari target produksi 200 pesawat per tahun pada 2029.
Meski begitu, Mischer menilai C919 tetap merupakan pencapaian penting karena kemampuan mengintegrasikan berbagai komponen, sistem, dan perangkat lunak menjadi pesawat jet penumpang. Hal ini merupakan keahlian yang hanya dikuasai segelintir produsen di dunia, terutama Boeing dan Airbus.
Sementara itu, analis lain menilai, tantangan COMAC bukan hanya meningkatkan produksi. Tetapi juga, membangun kepercayaan maskapai dan memastikan dukungan operasional setelah pesawat mengudara.
"Laju pengembangan dan produksi COMAC terlalu lambat untuk dapat benar-benar bersaing dengan Boeing dan Airbus, meski C919 berpotensi menggerus penjualan kedua produsen tersebut di pasar China," kata analis penerbangan Rob Morris.
"Berapa banyak komponen yang dibutuhkan untuk membuat sebuah pesawat? Jawabannya adalah semuanya," ujar analis penerbangan lain, Richard Aboulafia dari AeroDynamic Advisory, menyebut rantai pasok juga menjadi persoalan besar.Â