Trump Mau Investasi Rp54,26 T di Proyek Mineral Kritis, Ini Alasannya
Washington, CNBC Indonesia - Pemerintah Amerika Serikat (AS) akan menginvestasikan US$3 miliar atau Rp 54,26 triliun (Rp 18.087/US$) untuk proyek mineral kritis dan baterai sebagai bagian dari upaya meningkatkan produksi dalam negeri sekaligus memperkuat ketahanan industri dan keamanan nasional. Hal tersebut disampaikan Presiden Donald Trump pada Jumat kemarin (8/8/2026).
"Kami sedang merebut kembali posisi Amerika yang semestinya sebagai negara adidaya mineral dunia," kata Trump di hadapan lebih dari 200 eksekutif pertambangan, akademisi, investor, dan pejabat pemerintah dalam sebuah diskusi meja bundar di Departemen Luar Negeri AS yang bertujuan mendukung industri pertambangan.
Dalam kesempatan itu, Trump mengumumkan sejumlah dukungan pendanaan untuk sektor mineral strategis. Salah satunya adalah pinjaman bersyarat senilai US$1,4 miliar dari Office of Strategic Capital (OSC) di bawah Departemen Pertahanan AS kepada Sila Nanotechnologies, perusahaan yang memproduksi komponen baterai lithium-ion.
OSC juga memberikan pinjaman bersyarat senilai US$400 juta kepada perusahaan tambang skandium Sunrise Energy Metals serta US$150 juta kepada pengembang magnet permanen Niron Magnetics.
Selain itu, Export-Import Bank of the United States akan menyalurkan pinjaman sebesar US$58 juta kepada Westwater Resources, Global Advanced Metals, dan 5E Advanced Materials.
"Mineral kritis adalah bahan baku kekuatan Amerika yang menjadi fondasi segala hal, mulai dari sistem persenjataan canggih hingga industri otomotif. Kami ingin produk-produk penting ini ditambang, diproses, dan diproduksi langsung di Amerika Serikat," ujar Trump.
Acara tersebut turut dihadiri Menteri Dalam Negeri Doug Burgum, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Perdagangan Howard Lutnick, serta pejabat Dewan Keamanan Nasional David Copley.
Kebutuhan Senjata Dorong Permintaan Mineral
Pemerintah AS membutuhkan pasokan mineral kritis untuk mengisi kembali persediaan senjata yang berkurang akibat konflik dengan Iran serta mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok yang didominasi Tiongkok.
Sejumlah pelaku industri bahkan membawa hadiah simbolis untuk Trump. Ketua perusahaan tambang laut dalam American Ocean Minerals, Tom Albanese, menyerahkan replika emas nodul mineral yang ingin ditambang perusahaannya dari dasar Samudra Pasifik.
Sementara itu, CEO perusahaan logam tanah jarang MP Materials, Jim Litinsky, memberikan magnet yang diproduksi untuk General Motors di pabrik perusahaan tersebut di Texas.
Turut hadir pula eksekutif dari Lithium Americas yang tengah membangun tambang lithium terbesar di AS, NioCorp yang mengembangkan tambang skandium untuk memasok kebutuhan kontraktor pertahanan Lockheed Martin, serta Energy Fuels yang memperoleh pinjaman bersyarat OSC senilai US$725 juta pada Juni lalu.
Pasukan AS diketahui telah menggunakan dalam jumlah besar rudal berpemandu presisi dan sistem pencegat pertahanan udara selama perang dengan Iran yang telah berlangsung selama lima bulan. Sejumlah pejabat pertahanan dan anggota parlemen AS memperingatkan bahwa pengisian kembali stok persenjataan tersebut dapat memakan waktu bertahun-tahun karena keterbatasan kapasitas produksi.
Mineral seperti logam tanah jarang (rare earths), tungsten, germanium, dan skandium merupakan komponen penting dalam pembuatan rudal presisi, pesawat tempur, kendaraan lapis baja, sensor inframerah, serta berbagai sistem persenjataan canggih lainnya.
Pemerintah Tambah Dana untuk Sekolah Pertambangan
Departemen Energi AS pada Jumat juga menggelar pertemuan dengan perwakilan dari 14 sekolah pertambangan terakreditasi di negara tersebut guna mendorong minat generasi muda berkarier di sektor pertambangan.
Pemerintah mengumumkan hibah senilai US$100 juta untuk memperkuat program pendidikan pertambangan dan menargetkan jumlah lulusan bidang tersebut meningkat dua kali lipat dalam dua tahun ke depan.
"Kita perlu melakukan perubahan sistemik agar mahasiswa terbaik di negara ini memiliki kesempatan lebih besar untuk terlibat dalam industri ini," kata Wakil Menteri Energi Audrey Robertson.
Selain itu, Pentagon juga mengalokasikan pendanaan sebesar US$80 juta untuk berbagai proyek di tiga sekolah pertambangan di AS.
Para pejabat AS menilai jaringan universitas pertambangan yang luas di Tiongkok menjadi salah satu faktor utama yang membuat negara tersebut mendominasi produksi mineral global.
Sejak kembali menjabat sebagai presiden, Trump telah meluncurkan program cadangan strategis mineral senilai US$12 miliar, memberikan dukungan investasi kepada perusahaan yang mengembangkan tambang dan fasilitas pemrosesan mineral di AS, serta berupaya mengurangi ketergantungan kontraktor pertahanan terhadap pasokan dari Tiongkok.
Pemerintah AS berpendapat intervensi negara diperlukan untuk mengimbangi puluhan tahun investasi besar-besaran yang dilakukan Tiongkok sehingga Beijing kini mendominasi penambangan dan pengolahan berbagai mineral strategis dunia.
Sementara itu, Pemerintah Australia menyambut baik pinjaman yang diberikan AS kepada Sunrise Energy Metals. Perusahaan tersebut saat ini tengah mengembangkan proyek tambang skandium di negara bagian New South Wales.
"Proyek Sunrise Scandium memiliki cadangan skandium terbesar dan berkadar tertinggi yang diketahui di dunia, dengan berbagai aplikasi penting untuk sektor kedirgantaraan, pertahanan, dan energi bersih," kata Menteri Sumber Daya Australia Madeleine King dalam pernyataannya.
(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]