Internasional

Qatar Bocorkan Update Terbaru Negosiasi AS-Iran, Dunia Bernapas Lega?

luc, CNBC Indonesia
Rabu, 05/08/2026 05:33 WIB
Foto: Ilustrasi bendera Amerika Serikat dan Iran. (iStockphoto/studiocasper)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harapan berakhirnya perang antara Amerika Serikat dan Iran kembali menguat setelah Qatar mengungkapkan adanya kemajuan dalam upaya mediasi yang melibatkan sejumlah negara. Pernyataan tersebut langsung mengguncang pasar energi global dan mendorong harga minyak dunia turun lebih dari 5%, di tengah ekspektasi bahwa jalur pelayaran vital Selat Hormuz dapat segera dibuka kembali.

Meski demikian, optimisme tersebut masih dibayangi perbedaan pandangan antara Washington dan Teheran. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pembicaraan dengan Iran telah dimulai, sementara pemerintah Iran membantah bahwa negosiasi dengan AS sedang berlangsung.

Harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan global jatuh lebih dari 5% setelah komentar dari Qatar pada Selasa (4/8/2026). Penurunan tersebut memperpanjang pelemahan tajam yang telah terjadi sehari sebelumnya, dipicu harapan bahwa kesepakatan dapat segera dicapai untuk memulihkan lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz yang saat ini masih diblokade.


Namun hingga kini, selat yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia itu masih praktis tertutup. Bahkan, sebuah kapal kembali menjadi sasaran serangan saat berusaha melintasi kawasan tersebut.

Pada Selasa, Trump dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon untuk membahas upaya mempersempit perbedaan antara Washington dan Teheran serta meningkatkan peluang tercapainya penyelesaian konflik yang bersifat permanen.

Menurut pernyataan Kantor Emir Qatar, Sheikh Tamim menegaskan pentingnya dialog dan kepatuhan terhadap Nota Kesepahaman AS-Iran yang disepakati pada pertengahan Juni, yang mengatur penghentian segera operasi militer.

Sebelumnya, Trump mengatakan pada Senin bahwa pembicaraan dengan Teheran telah dimulai dan Iran menghadapi "kesempatan terakhir" untuk mencapai kesepakatan.

Namun pejabat-pejabat Iran bersikeras bahwa tidak ada negosiasi dengan Amerika Serikat yang sedang berlangsung.

Pernyataan Trump tersebut muncul setelah keputusannya pada akhir pekan lalu membatalkan rencana serangan besar terhadap Iran. Trump menggambarkan serangan yang dibatalkannya itu sebagai "serangan besar-besaran".

Keputusan itu memperpanjang pola yang selama ini terlihat dalam pendekatan Trump, yakni mengancam tindakan militer besar sebelum akhirnya menarik diri dan kembali mengedepankan jalur diplomatik.

Di Teheran, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan pembicaraan dengan Oman mengenai lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz berlangsung positif dan masih berlanjut.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa pembahasan tersebut berfokus pada pembentukan jalur pelayaran yang aman.

Baghaei menambahkan bahwa rute yang sedang dinegosiasikan bertujuan menjamin hak-hak kedaulatan dan keamanan nasional Iran maupun Oman.

Sementara itu, sejumlah pejabat tinggi AS menunjukkan optimisme terhadap perkembangan diplomatik yang sedang berlangsung.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio sama-sama menyebut adanya kemajuan dalam pembicaraan yang bertujuan membuka kembali Selat Hormuz, jalur yang dalam kondisi normal mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

"Ada kemajuan yang telah dicapai dalam pembicaraan tersebut, tetapi belum ada keputusan akhir. Kami berharap hal itu dapat terwujud dalam waktu yang sangat dekat," kata Rubio, dilansir Reuters.

Senada dengan Rubio, Bessent mengatakan kesepakatan dengan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz dapat tercapai paling cepat pada Selasa atau Rabu.

Meski pembicaraan diplomatik menunjukkan perkembangan, ancaman terhadap pelayaran internasional masih tinggi.

Iran telah menghentikan sebagian besar lalu lintas melalui Selat Hormuz, sementara Washington tetap mempertahankan blokade terhadap pelayaran dan pelabuhan yang terkait dengan Iran.

Pada saat yang sama, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran juga memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi di Laut Merah, sehingga semakin mempersempit jalur ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah.

Badan keamanan maritim Inggris UK Maritime Trade Operations melaporkan bahwa sebuah kapal kargo terkena proyektil yang tidak diketahui asalnya di dekat Selat Hormuz, lepas pantai Oman.

Sumber-sumber maritim mengatakan kepada Reuters bahwa kapal tersebut merupakan kapal pengangkut curah kering atau dry bulk ship.

Seluruh awak meninggalkan kapal tersebut dan satu pelaut dilaporkan hilang.

Beberapa waktu kemudian, Menteri Perkapalan India Sarbananda Sonowal menulis di platform X bahwa sebuah proyektil menghantam dan menenggelamkan kapal India di dekat perairan Yaman.

Seluruh 14 orang yang berada di atas kapal itu berhasil diselamatkan oleh penjaga pantai Yaman.

Adapun Iran selama bertahun-tahun menuntut kendali atas selat tersebut, yang menurut Teheran seharusnya dikelola bersama Oman yang berada di seberang pantai.

Namun pekan lalu Iran menolak proposal Oman yang mengusulkan pengawasan bersama serta penerapan biaya sukarela bagi kapal-kapal yang melintas.

Seorang sumber senior Iran mengatakan Teheran menginginkan kendali penuh terhadap kapal-kapal yang memasuki selat dan kemampuan memantau lalu lintas kapal yang keluar, termasuk kewenangan melakukan intervensi jika dianggap perlu.

Apabila tuntutan tersebut dikabulkan, hal itu akan menjadi perubahan besar dalam keseimbangan kekuatan di Timur Tengah.

Selain itu, langkah tersebut juga akan menyulitkan Washington untuk mempertahankan argumen bahwa "Operasi Epic Fury" yang diluncurkan Trump bersama Israel pada Februari telah berhasil melemahkan musuh lamanya tersebut.

Analis Washington Institute Michael Knights mengatakan kemampuan Iran untuk mengganggu negara-negara kawasan dan ekonomi global masih menjadi kartu truf utama Teheran.

"Keunggulan terbesar mereka adalah kemampuan untuk merugikan negara-negara di kawasan serta mengguncang ekonomi global," ujar Knights.

 


(luc/luc)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Hormuz Ditutup, Terusan Panama Raup Cuan