Update Baru AS-Iran Negosiasi di Doha, Damai Total Perang Belum Pasti
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Iran dan Amerika Serikat (AS) resmi mengakhiri putaran perundingan tidak langsung mereka di Doha, Qatar, Rabu waktu setempat. Pertemuan tertutup tersebut berakhir tanpa ada tanda-tanda kemajuan nyata menuju perdamaian abadi.
Mengutip laporan sejumlah laman asing, Kamis (2/7/2026), negosiator dari kedua belah pihak sebenarnya telah menghabiskan waktu selama dua hari. Mereka berfokus membahas draf lalu lintas maritim di Selat Hormuz serta rencana pencairan dana asing milik Iran.
Pertemuan lanjutan dikonfirmasi baru akan digelar setelah prosesi pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei selesai. Kementerian Luar Negeri Qatar menyatakan bahwa jasad sang pemuka agama dijadwalkan dimakamkan pada tanggal 9 Juli mendatang.
"Diskusi Doha menghasilkan kemajuan positif pada isu-isu terkait memorandum yang menghentikan perang pada bulan Juni dan membangun hasil dari KTT di Swiss," tulis juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar di platform X.
Hal ini diamini delegasi Iran yang dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi. Ia menyatakan bahwa pembicaraan kini telah selesai namun enggan mengumumkan apakah mereka berhasil menjembatani perbedaan besar yang ada.
Sesi teknis ini dilaporkan tidak dihadiri oleh menantu Donald Trump, Jared Kushner, serta utusan utama AS Steve Witkoff. Padahal pihak Gedung Putih sebelumnya sempat menjanjikan kehadiran mereka untuk agenda pembicaraan tingkat tinggi.
Di Washington, Presiden AS Donald Trump justru mengeklaim kedua pihak membuat kemajuan terkait pembatasan program nuklir Iran. Isu nuklir ini merupakan alasan utama Trump meluncurkan serangan militer ke Teheran pada Februari lalu.
"Denuklirisasi Iran berjalan dengan baik. Mereka telah menjalani pertemuan yang sangat baik, dan kita akan lihat nanti," klaim Presiden Donald Trump kepada para wartawan.
Namun beberapa sumber internal mengungkapkan bahwa program nuklir sama sekali tidak dibahas dalam pertemuan teknis tersebut. Wakil Presiden AS JD Vance turut membenarkan bahwa masalah nuklir baru akan ditangani pada sesi berikutnya.
"Jelas, kami khawatir tentang masalah nuklir, kami akan mulai membicarakannya," ujar Wapres JD Vance kepada wartawan.
Siapa Mengendalikan Selat Hormuz?
Kesepakatan awal sebenarnya mewajibkan AS dan Iran mengizinkan dimulainya kembali pelayaran komersial melalui Selat Hormuz. Jalur maritim strategis ini mengelola seperlima minyak dan gas alam cair dunia sebelum konflik bersenjata pecah.
Walau lalu lintas kapal mulai pulih sebagian, status hukum kedaulatan perairan tersebut masih belum jelas. Bahkan kedua negara sempat saling serang akhir pekan lalu setelah Iran meluncurkan rudal ke sebuah kapal kargo asing.
Dua sumber senior Iran menyatakan Teheran bertekad memenangkan pengakuan internasional atas kendali penuh mereka di selat tersebut. Iran berencana memberlakukan tarif tol pelayaran mulai pertengahan Agustus setelah masa bebas tol berakhir.
"Saya pikir mereka telah melangkah jauh," kata Trump menanggapi perkembangan di Timur Tengah.
Komentar Trump pada hari Rabu dinilai sengaja dirancang untuk meredam kemungkinan kembalinya perang total dengan Iran. Dampaknya, harga minyak dunia langsung anjlok ke level terendah dalam empat bulan terakhir.
Media pemerintah Iran melaporkan sebuah kapal kontainer asing sempat kandas di perairan dangkal pada hari Rabu. Kapal tersebut dilaporkan keluar dari jalur pelayaran resmi yang telah ditentukan oleh otoritas Iran.
"Hormuz terus dibuka kembali tetapi prosesnya tidak merata, tidak terprediksi, dan tidak sepenuhnya transparan," jelas Vandana Hari, pendiri penyedia analisis pasar minyak Vanda Insights.
Sejumlah negara Eropa dilaporkan telah menawarkan bantuan operasional untuk membersihkan ranjau laut di selat tersebut. Namun pemerintah Jerman secara terbuka menyatakan tidak akan berpartisipasi dalam misi pembersihan itu.
Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius menyebut keengganan berpartisipasi ini dipicu oleh sikap politik Iran. Teheran dinilai tidak menunjukkan kemauan untuk bekerja sama secara terbuka dengan negara-negara Barat.
source on Google [Gambas:Video CNBC]