Perang AS-Iran Makin Gak Jelas, Trump Bilang Ini & Teheran Bilang Itu
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketidakpastian mengenai nasib perang Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim perundingan dengan Teheran sedang berlangsung. Namun, pemerintah Iran langsung membantah pernyataan tersebut.
Perbedaan pernyataan kedua negara muncul ketika ketegangan di Selat Hormuz masih tinggi. Jalur pelayaran strategis yang menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia itu kembali diwarnai insiden terhadap kapal dagang.
Mengutip Reuters, Selasa (5/8/2026), Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran telah berlangsung sejak Senin. Ia menyebut momen ini sebagai "kesempatan terakhir" bagi Teheran untuk mencapai kesepakatan.
"Mereka sedang berlangsung sekarang," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Trump menyebut pembicaraan dilakukan atas permintaan Iran. Ia sesumbar ini juga diminta sejumlah negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar.
"Ini adalah kesempatan terakhir bagi mereka (Iran) untuk menandatangani dokumen yang baik," ujarnya.
Pernyataan itu muncul hanya beberapa hari setelah Trump membatalkan rencana "serangan besar-besaran" terhadap Iran. Ia mengaku memilih memberi ruang bagi jalur diplomasi, melanjutkan pola yang sudah beberapa kali terjadi selama konflik lima bulan terakhir, yakni mengancam serangan militer sebelum akhirnya menundanya.
Namun, pemerintah Iran memberikan pernyataan yang bertolak belakang. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menegaskan tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung maupun agenda pertemuan dengan AS dalam waktu dekat.
Ia mengatakan seluruh negosiator Iran berada di dalam negeri, kecuali Menteri Luar Negeri (Menlu) Abbas Araqchi yang tengah menjalankan ibadah keagamaan di Irak. Menurut Baghaei, satu-satunya pembicaraan yang sedang dilakukan adalah dengan Oman terkait pengelolaan Selat Hormuz.
Sementara itu, di tengah saling bantah tersebut, situasi keamanan di Hormuz masih rapuh. Badan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan sebuah kapal kargo mengirim sinyal darurat setelah terkena proyektil yang belum diketahui asalnya di dekat pantai Oman, tidak jauh dari Selat Hormuz.
Data Kpler juga menunjukkan lalu lintas kapal melalui selat tersebut tetap rendah. Pada Senin hanya enam kapal yang melintas, terdiri atas tiga kapal tanker dan tiga kapal curah, turun dibandingkan tujuh kapal sehari sebelumnya.
Meski demikian, harapan bahwa ketegangan dapat mereda sempat mendorong harga minyak turun sekitar 7% ke kisaran US$83,77 per barel pada perdagangan Senin. Di saat yang sama, indeks saham Dow Jones ditutup pada rekor tertinggi.
"Iran memiliki keuntungan besar karena dapat memberikan tekanan kepada negara-negara kawasan dan perekonomian global," kata analis dari Washington Institute, Michael Knights.
Muka Dua
Dalam unggahan di Truth Social, Trump kembali menuduh kepemimpinan Iran bersikap "sangat bermuka dua". Ia mengklaim Iran telah meminta pertemuan dan pembicaraan lanjutan akan digelar dalam waktu dekat.
Trump juga kembali menegaskan Angkatan Laut AS menguasai sepenuhnya Selat Hormuz. Ia menulis "Tembok Baja Amerika Serikat!' Tidak ada yang bisa melewati Iran kecuali kami menginginkannya, dan tidak akan ada yang bisa lewat sampai tercapai kesepakatan atau penyerahan total".
Sejauh ini, Trump belum mencapai target yang diumumkannya sejak awal konflik. Meliputi menghentikan program nuklir Iran, membatasi kemampuan militer Teheran di kawasan, serta menciptakan kondisi yang dapat menggulingkan pemerintahan ulama di Iran.
(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]