China Siaga di Hadapan AS-Eropa, Muncul "Garis Merah" Ekonomi
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah China secara agresif mempertahankan kebijakan ekonominya yang lebih memprioritaskan dukungan pada industri tingkat tinggi ketimbang memacu konsumsi domestik. Sikap percaya diri Beijing ini ditunjukkan menjelang negosiasi perdagangan penting bersama Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE).
Mengutip laporan Reuters, Senin (3/8/2026), Presiden Xi Jinping dijadwalkan menggelar beberapa pertemuan tatap muka dengan Presiden AS Donald Trump tahun ini. Di sisi lain, Uni Eropa menetapkan tenggat waktu hingga Oktober bagi Beijing untuk menyelesaikan perselisihan terkait surplus perdagangan China yang telah menembus US$1 triliun (Rp18.000 ribu triliun).
Negara-negara Barat menilai model ekonomi China bersifat merkantilistik dan bertentangan dengan aturan perdagangan global. Prioritas Beijing pada sektor manufaktur ketimbang belanja rumah tangga dinilai membanjiri pasar global dengan produk murah, yang pada akhirnya menggerus industri lokal di negara-negara mitra dagangnya.
Tekanan Amerika Serikat melalui tarif impor di atas 100% sebelumnya sempat tertahan setelah China memanfaatkan posisi dominannya pada rantai pasok logam tanah jarang (rare earths). Sementara itu, Uni Eropa yang mencatatkan defisit perdagangan harian mencapai US$ 1,00 miliar mulai menerapkan kebijakan industri dan pengadaan domestik untuk melindungi pasarnya.
Kanselir Jerman Friedrich Merz bahkan secara terbuka mengkritik Beijing karena dinilai sengaja menjaga nilai tukar mata uangnya tetap rendah. Kendati demikian, laporan dari OECD dan Bank of Italy menunjukkan bahwa sekitar 75% pertumbuhan ekspor China dan penguasaan pangsa pasarnya sangat didorong oleh subsidi pemerintah serta kelemahan konsumsi domestik.
Kendati mendapat kritik, rapat jajaran tertinggi Partai Komunis China mengonfirmasi keberlanjutan arah kebijakan tersebut. Beijing memilih memberikan dukungan terarah pada industri ketimbang menggelontorkan stimulus berorientasi konsumen.
Kementerian Perdagangan China bahkan menolak keras tuduhan kelebihan kapasitas industri yang dilayangkan Barat melalui dokumen posisi resminya. Pihak kementerian menilai narasi kelebihan kapasitas tersebut memiliki cacat logika dan didasari oleh motif-motif tersembunyi.
Jurnal teoretis utama Partai Komunis, Qiushi, turut membela tingkat konsumsi domestik China yang rendah sebagai hasil yang dapat dibenarkan secara historis dari model pembangunan berbasis investasi. Namun, jurnal tersebut juga mengakui bahwa pembenaran historis bukan berarti pembenaran jangka panjang, sehingga penyesuaian model ekonomi tetap diperlukan secara bertahap.
Senior Economist Economist Intelligence Unit, Xu Tianchen, menilai sinyal tegas Beijing ini bertujuan agar negara lain memahami latar belakang kebijakan internalnya sekaligus mematok "garis merah".
"China memperjelas bahwa mereka tidak akan menerima tindakan atau aturan diskriminatif yang menyasar perusahaan maupun produk ekspornya," tuturnya.
Pemerintah China menegaskan bahwa produk ekspor mereka tidak hanya lebih murah, tetapi juga memiliki kualitas yang kian meningkat berkat investasi teknologi. Perdana Menteri Li Qiang merespons peringatan Barat mengenai skenario China shock 2.0-di mana manufaktur canggih China menggeser kompetitor Barat-dengan menggambarkan fenomena ini sebagai China opportunity 2.0 bagi ekonomi global.
"Argumentasi China kini disampaikan lebih sering dan formal karena bukti masalah ekonomi domestik sistemik yang berdampak pada seluruh dunia meningkat makin cepat," ujar Co-Founder Rhodium Group, Daniel Rosen.
(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]