Seperti RI, Negeri Arab Ini Juga Lagi Garap Proyek Gas Raksasa!
Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa minyak dan gas bumi asal Uni Emirat Arab (UEA) yakni ADNOC resmi menyetujui investasi sebesar US$ 6,2 miliar untuk pengembangan Ladang Gas Umm Shaif, salah satu proyek gas lepas pantai terbesar di negara tersebut.
Rencana UEA tersebut mengingatkan pada Indonesia yang tengah mengembangkan proyek gas raksasa Lapangan Abadi Blok Masela, yang juga diproyeksikan menjadi salah satu tulang punggung pasokan gas nasional.
Mengutip situs gulfnews, Selasa (21/7/2026), ADNOC menyebut keputusan investasi atau Final Investment Decision (FID) Pengembangan Lapangan Gas Umm Shaif dilakukan bersama mitra internasionalnya, yakni TotalEnergies, Eni, dan China National Petroleum Corporation (CNPC).
Produksi gas dari proyek tersebut ditargetkan mulai berlangsung pada 2030 dengan tambahan pasokan lebih dari 600 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD) beserta cairan gas terkait. Volume tersebut setara hampir 10% konsumsi gas harian UEA saat ini.
Perusahaan menyebut tambahan produksi dari ladang gas tersebut akan digunakan untuk memperkuat ketahanan energi domestik sekaligus memenuhi kebutuhan industri, termasuk sektor-sektor baru seperti pusat data dan pengembangan kecerdasan buatan (AI).
UEA sendiri diketahui memiliki cadangan gas terbesar ketujuh di dunia, memberikan ADNOC basis sumber daya yang substansial saat memperluas produksi dan membangun bisnis gas alam cairnya.
"ADNOC mempercepat strategi gas terintegrasinya untuk memanfaatkan sumber daya gas UEA yang melimpah dan memperluas platform LNG global kami, seiring meningkatnya permintaan gas alam dunia," ujar Menteri Perindustrian dan Teknologi Maju UEA sekaligus Direktur Pelaksana dan CEO ADNOC, Sultan Ahmed Al Jaber.
"Bersama dengan mitra internasional kami, kami membangun pengelolaan yang bertanggung jawab selama beberapa dekade atas ladang lepas pantai terlama di Abu Dhabi untuk membuka nilai berkelanjutan bagi UEA dan pelanggan kami," tambahnya.
Sebagaimana diketahui, di Indonesia, pemerintah juga tengah mengembangkan Lapangan Abadi Blok Masela di Maluku. Proyek yang dikelola oleh perusahaan asal Jepang melalui Inpex Masela Ltd ini diperkirakan membutuhkan investasi sekitar US$ 20,9 miliar atau sekitar Rp 355 triliun. Pemerintah Indonesia menargetkan setidaknya 60% gas dari Blok Masela ini bisa ditujukan untuk memenuhi kebutuhan domestik dan 40% sisanya diekspor.
Lapangan Abadi di Blok Masela adalah lapangan gas laut dalam dengan cadangan gas terbesar di Indonesia yang terletak sekitar 160 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena di Laut Arafura dengan kedalaman laut 400-800 meter. Adapun potensi gas dari Lapangan Abadi ini diperkirakan 6,97 triliun kaki kubik (TCF) gas.
Kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/ PSC) Masela yang ditandatangani pada 1998 lalu dan telah diperpanjang hingga 2055 ini berpotensi menghasilkan 9,5 MMTPA (juta metrik ton per tahun) LNG dan 150 MMSCFD (juta kaki kubik standar per hari) gas pipa. Selain itu, Lapangan Abadi diperkirakan dapat menghasilkan produksi kondensat sebesar 35.000 barel per hari.
Konsep pengembangan lapangan green field (lapangan migas baru) yang memiliki kompleksitas tinggi dan risiko besar mencakup pengeboran deepwater, fasilitas subsea, FPSO (Floating Production Storage and Offloading), dan onshore LNG plant akan menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi PHE serta mitra-mitranya untuk merealisasikannya. Selain itu pengembangan lapangan ini juga berpotensi menyerap hingga 10.000 tenaga kerja.
Blok Masela juga direncanakan akan menghasilkan clean LNG melalui penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) untuk mendukung program Pemerintah dalam mengurangi emisi karbon dan mendukung sustainability pada era transisi energi.
(ven/wia) Add
source on Google