Bos Mazda Klaim Seluruh Mobilnya Sudah Siap Pakai BBM Baru E10
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Eurokars Motor Indonesia (EMI) menyatakan seluruh kendaraan Mazda yang dipasarkan saat ini telah kompatibel dengan bahan bakar E10. Belakangan pemerintah tengah memperluas pemanfaatan bahan bakar nabati sebagai bagian dari transisi energi.
Saat ini pemerintah tengah mendorong penggunaan bioetanol secara bertahap. Selain melanjutkan program biodiesel B50 untuk kendaraan diesel, pemerintah juga menyiapkan perluasan penggunaan bensin campuran bioetanol pada kendaraan bermesin bensin.
"Sekarang ini mobil Mazda kita semuanya ethanol 10 ya. Ethanol 10," kata Chief Operating Officer (COO) PT Eurokars Motor Indonesia sekaligus Presiden Direktur Mazda Indonesia Ricky Thio dalam Mazda Media Dialogue di Mazda Simprug, Jaksel, Rabu (15/7/2026).
Meski demikian, Ricky mengingatkan konsumen tetap dapat memastikan spesifikasi tersebut melalui buku panduan kendaraan maupun informasi yang tertera pada tutup tangki bahan bakar masing-masing model.
"Kita punya CX-60 bisa ethanol 10," sebut Ricky.
Menurut Ricky, informasi mengenai kompatibilitas bahan bakar sebenarnya sudah tersedia pada setiap kendaraan sehingga konsumen dapat mengeceknya secara langsung sebelum melakukan pengisian BBM.
"Di buku panduan biasanya juga ada. Ya tapi paling gampang buka tempat fuel-nya itu ada ya, bisa dilihat," kata Ricky.
Pemerintah Indonesia secara bertahap menerapkan pencampuran bensin dengan bioetanol, dari kadar 5% (E5) yang diluncurkan pada 2026 hingga mencapai target 10% (E10) yang diwajibkan secara nasional pada 2028.
Untuk jenis BBM bensin umum atau non subsidi, pencampuran bioetanol pada 2026 ditargetkan sebesar 5% (E5) untuk enam wilayah di Tanah Air, yakni Jawa Timur, Daerah Khusus Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sementara pada 2027 juga ditargetkan pencampuran bioetanol sebesar 5% (E5) namun dengan satu tambahan implementasi, yakni Bali. Dengan demikian, pada 2027 target wilayah implementasi E5 ada di tujuh wilayah RI.
Pada 2028, pencampuran bioetanol ditargetkan naik menjadi 10% (E10) dengan wilayah implementasi tetap pada tujuh wilayah RI seperti target pada 2027.
Sementara untuk 2029 dan 2030, target pencampuran bioetanol ditargetkan tetap 10% (E10), namun dengan wilayah implementasi bertambah satu lagi, yakni Lampung. Total wilayah implementasi E10 pada 2029 dan 2030 mencapai delapan daerah.
source on Google [Gambas:Video CNBC]