Kabar Buruk Xi Jinping! Pertumbuhan China Anjlok & Terendah Sejak 2022
Jakarta, CNBC Indonesia - Pertumbuhan ekonomi China dilaporkan melambat tajam pada kuartal kedua (Q2) tahun ini. Lemahnya permintaan domestik menjadi salah satu pemicu utama lesunya perekonomian tirai bambu tersebut.
Selain itu, dampak perang Iran yang memicu lonjakan harga minyak dunia turut membayangi kinerja ekonomi mereka. Faktor-faktor eksternal dan internal ini pada akhirnya membayangi kuatnya performa ekspor China.
Berdasarkan data produk domestik bruto (PDB) resmi, ekonomi terbesar kedua di dunia ini hanya tumbuh sebesar 4,3% pada periode April hingga Juni. Angka pencapaian tersebut secara nyata berada di bawah target tahunan yang telah ditetapkan oleh Beijing.
Kondisi ini juga menandakan adanya penurunan performa yang cukup signifikan. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi China pada kuartal pertama (Q1) sebelumnya masih mampu mencapai angka 5%.
Mengutip laporan BBC International, Rabu (15/07/2026), kemerosotan ini tetap terjadi di tengah lonjakan ekspor yang masif. Sehari sebelumnya, data pemerintah menunjukkan nilai ekspor China melonjak drastis hingga 27% pada bulan Juni dibandingkan tahun lalu.
Laporan PDB teranyar ini juga menjadi catatan kuartalan penuh pertama sejak perang Iran meletus pada 28 Februari lalu. Ini menjadi ekspansi kuartalan terendah bagi perekonomian China sejak akhir tahun 2022 saat mereka baru keluar dari pembatasan ketat Covid-19.
Sebelumnya pada bulan Maret, pemerintah China telah memangkas target pertumbuhan ekonominya ke kisaran 4,5% hingga 5%. Target tersebut merupakan tujuan ekspansi ekonomi paling rendah yang pernah ditetapkan oleh Beijing sejak tahun 1991.
Sejumlah analis menilai bahwa langkah pemotongan target ini sengaja diambil oleh pemerintah. Hal tersebut dilakukan guna memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi para pejabat dalam mengelola dinamika perekonomian negara.
"Ada lebih banyak faktor ketidakstabilan dan ketidakpastian eksternal. Ketidakseimbangan antara pasokan yang kuat dan permintaan yang lemah di dalam ekonomi domestik," ujar catatan terkait ekonomi Biro Statistik China.
Data terpisah yang dirilis pada hari Rabu ini semakin mempertegas beratnya tantangan domestik yang dihadapi Beijing. Tantangan utama tersebut mencakup kemerosotan pasar properti yang berlangsung lama serta lemahnya belanja konsumen.
Harga rumah baru tercatat kembali mengalami kontraksi pada bulan Juni. Walau demikian, penurunan sebesar 0,1% tersebut berjalan dengan laju yang sedikit lebih lambat dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Di sisi lain, sektor penjualan ritel China mulai menunjukkan adanya tanda-tanda perbaikan. Angka penjualan ritel dilaporkan tumbuh sebesar 1% pada bulan Juni. Performa ini membaik dan membalikkan keadaan dari bulan Mei yang sempat mengalami penurunan sebesar 0,6%.
Sementara itu, sektor ekspor teknologi China mendapatkan berkah dari melonjaknya permintaan global. Permintaan komoditas semikonduktor melonjak tajam untuk memenuhi kebutuhan pusat data kecerdasan buatan (AI).
Lonjakan permintaan global terhadap kendaraan listrik (EV) juga memberikan kontribusi masif bagi kinerja perdagangan luar negeri mereka. Bahkan, angka ekspor mobil bulanan China berhasil menembus angka satu juta unit untuk pertama kalinya dalam sejarah.
(tps/sef) Add
source on Google