Fenomena Baru China, Ramai Warga Lelehkan Emas di Mesin Otomatis
Daftar Isi
Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan harga emas ke level tertinggi sepanjang sejarah memicu fenomena unik di China. Sebuah pusat perbelanjaan di Shanghai dipadati warga yang antre untuk menjual dan melelehkan perhiasan emas mereka melalui mesin daur ulang otomatis.
Harga emas global yang diprediksi terus naik, membuat banyak warga memanfaatkan momentum untuk mencairkan aset lama menjadi uang tunai. China sendiri merupakan konsumen emas terbesar di dunia.
Logam mulia ini secara tradisional dibeli keluarga untuk menandai momen penting seperti kelahiran dan pernikahan. Namun ketika harga melonjak tajam, sebagian warga memilih menjual kembali koleksi lama mereka.
Ramai-Ramai Antre
Di sebuah mal Shanghai akhir Januari lalu misalnya, mengutip AFP Minggu (22/2/2026), puluhan orang mengerumuni mesin berwarna kuning terang milik perusahaan perdagangan emas Kinghood Group. Mesin tersebut menampilkan harga emas terkini dari Shanghai Gold Exchange, lengkap dengan layar yang memperlihatkan proses uji kemurnian dan peleburan secara real-time menggunakan lengan robotik.
Beberapa warga mengaku harus menunggu lebih dari satu jam untuk mendapat giliran. Wu (54), salah satu warga mengatakan ia ingin menjual koin emas bertema panda yang dibelinya saat kelahiran putrinya pada 2002.
"Saya tidak pernah menyangka harga akan naik sedramatis ini," ujarnya.
Sebelumnya, ia juga telah menjual cincin warisan almarhum ayahnya melalui mesin tersebut dan memperoleh sekitar 10.000 yuan (Rp 24 juta). Angka itu melonjak tajam dibandingkan harga beli awal yang hanya 1.000 yuan (Rp 2,4) beberapa dekade lalu.
Langsung Cair
Mesin "Smart Gold Store" tersebut menguji kemurnian emas menggunakan gelombang cahaya. Ini berbeda dengan metode tradisional yang biasanya membakar sebagian kecil emas untuk pengujian.
Setelah kadar dan berat ditentukan, layar akan menampilkan nilai pembelian. Jika penjual menyetujui, mereka cukup memasukkan data diri dan rekening bank, di mana dana ditransfer pada hari yang sama.
Seorang wanita bermarga Zhao membawa cincin mendiang kakeknya yang diperkirakan dibeli antara era 1950-1980-an. Cincin itu dihiasi karakter Tiongkok untuk "keberuntungan" serta motif emas batangan tradisional.
Beberapa menit setelah dimasukkan ke mesin, layar menampilkan penawaran lebih dari 12.000 yuan (Rp 29 juta) untuk cincin berkadar emas tinggi tersebut. Zhao langsung menyetujui transaksi.
"Di sini pengujiannya terbuka dan transparan. Saya lebih percaya mesin otomatis dibanding pembeli tradisional," ujarnya.
Transaksi Fantastis
Fenomena ini juga menarik perhatian pengunjung mal. Seorang pejalan kaki terkejut melihat seseorang menjual perhiasan lama dengan nilai lebih dari 75.000 yuan (sekitar Rp 183 juta), bahkan sepasang lansia disebut bisa mendapatkan lebih dari 122.000 yuan (Rp 297 juta) dari satu batang emas kecil seukuran jari.
Lonjakan harga emas yang stabil di level historis membuat banyak keluarga melihat momen ini sebagai kesempatan memperkuat kondisi keuangan, termasuk untuk menambah dana pensiun. Dengan volatilitas pasar global yang masih tinggi dan ketidakpastian ekonomi, emas kembali menegaskan posisinya bukan hanya sebagai simbol tradisi dan warisan keluarga di China, tetapi juga sebagai instrumen lindung nilai yang likuid dan cepat dicairkan di era digital.
(sef/sef) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]