Gempa Besar Beruntun Hantam Venezuela-Sangihe, Ring of Fire Ngamuk?
Jakarta, CNBC Indonesia - Rentetan gempa mengguncang berbagai wilayah bumi secara beruntun, setidaknya dalam 2 bulan terakhir. Tidak hanya di luar negeri, gempa-gempa skala besar di atas M5,0 itu juga mengguncang wilayah di Indonesia.
Lantas, apa pemicu gempa-gempa tersebut? Apakah terjadi saling berkaitan dan memengaruhi? Benarkan dipicu peningkatan aktivitas Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik? Sebagai catatan, Venezuela sendiri tidak masuk dalam lintasan Samudra Pasifik.
Merespons hal itu, Daryono dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) mengatakan, secara psikologis, wajar jika rentetan gempa beruntun itu memicu kekhawatiran dan memunculkan asumsi peristiwa itu sebagai fenomena tersebut saling berkaitan. Hanya saja, imbuh dia, persepsi itu lebih dipicu kecepatan penyebaran informasi digital saat ini.
"Namun, dari sudut pandang seismologi, rentetan gempa di lokasi yang berjauhan ini sebenarnya merupakan aktivitas pelepasan energi lempeng tektonik yang berjalan mandiri, lokal dan normal," kata Daryono dalam keterangannya, Rabu (15/7/2026).
"Secara ilmiah, sebenarnya tidak ada peningkatan aktivitas gempa yang tidak biasa di Cincin Api Pasifik (Ring of Fire). Wilayah ini memang rumah bagi sekitar 90% gempa bumi di dunia. Jadi guncangan demi guncangan adalah aktivitas wajar dan normal sehari-hari di sana," tambahnya.
Daryono mengacu ke data lembaga pemerintah federal Amerika Serikat (AS), United States Geological Survey (USGS) yang menyebutkan, total ada sekitar 500.000 gempa gempa yang terjadi (termasuk yang sangat kecil dan tidak bisa dirasakan manusia tetapi tercatat oleh instrumen) dan terdeteksi di seluruh belahan bumi setiap tahunnya.
"Karena Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire) menyumbang sekitar 90% dari total seluruh gempa di bumi, berarti di wilayah ini saja terjadi sekitar 450.000 gempa per tahun. Jika dirata-rata, itu berarti ada sekitar 1.200 gempa yang terjadi di seputar Cincin Api Pasifik setiap harinya," ucapnya.
Karena itu, ujarnya, jika melihat data tersebut, Cincin Api Pasifik sebenarnya tidak pernah "tidur".
"Di saat kita merasa kondisi sedang tenang, instrumen seismik di berbagai belahan dunia sebenarnya terus mencatat ribuan getaran kecil setiap harinya sebagai bagian dari aktivitas rutin planet bumi," terang Daryono.
"Ketika publik merasa gempa seolah sedang bertambah banyak, fenomena ini biasanya dipicu oleh beberapa faktor psikologis dan teknologi, bukan karena buminya yang tiba-tiba makin bergejolak lebih hebat," tegasnya.
Dalam hal ini, lanjutnya, adanya dugaan yang menyebut Cincin Api sedang lebih aktif, biasanya dipicu efek klasterisasi waktu. Yaitu, katanya, kondisi ketika beberapa gempa signifikan kebetulan terjadi dalam waktu yang berdekatan, serta kecepatan penyebaran informasi di media sosial yang membuat gempa di wilayah terpencil kini bisa langsung diketahui publik dalam hitungan menit.
"Dahulu, gempa berkekuatan magnitudo 6,0 di pelosok Tonga, Kamchatka, Chili, atau lepas pantai Jepang mungkin hanya menjadi catatan internal para ahli gempa (seismolog). Sekarang, begitu ada gempa signifikan, notifikasi dari aplikasi pemantau gempa langsung berbunyi dan informasinya menyebar via grup WhatsApp serta platform media sosial seperti X, Facebook, Instagram termasuk platform lain dalam hitungan menit," tukasnya.
"Kecepatan informasi ini menciptakan ilusi optik seolah-olah frekuensi gempa sedang meningkat tajam, padahal yang meningkat adalah intensitas pemberitaannya," ucap Daryono.
Catatan gempa besar di lintasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. (Dok. Daryono-anggota IABI) Foto: Catatan gempa besar di lintasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. (Dok. Daryono-anggota IABI) |
Fase Sibuk
Dia mengungkapkan, dalam ilmu statistik dan ilmu gempa (seismologi), ada fase di mana beberapa gempa kuat terjadi dalam waktu yang berdekatan secara kebetulan.
"Setelah fase sibuk itu lewat, bumi akan memasuki fase yang lebih tenang. Perubahan ritme yang naik-turun ini adalah fluktuasi yang sepenuhnya normal dalam siklus pelepasan energi lempeng tektonik, bukan pertanda bahwa Cincin Api sedang "terbangun" atau menjadi lebih aktif dari biasanya," tegas Daryono.
Tak hanya itu. Ketersediaan alat deteksi yang jumlahnya semakin bertambah juga jadi salah atu faktor penyebab.
"Jumlah stasiun seismik di seluruh dunia terus bertambah setiap tahun, dan teknologinya semakin sensitif. Akibatnya, gempa-gempa kecil atau gempa di area terpencil yang puluhan tahun lalu tidak terdeteksi, kini bisa tercatat dengan sangat akurat oleh lembaga atau institusi pemantau gempas eperti USGS, GFZ, EMSC, atau BMKG," bebernya.
"Data yang terkumpul memang terlihat membengkak, tetapi itu terjadi karena kemampuan manusia dalam mendeteksi yang semakin baik, bukan karena buminya yang semakin aktif," kata Daryono.
Dengan begitu, tegas Daryono, rentetan gempa yang kerap masuk dalam pemberitaan belakangan ini sebenarnya adalah aktivitas rutin Cincin Api Pasifik yang sedang melepaskan energinya secara alami.
"Saya buktikan by data, memang tidak ada peningkatan gempa kuat di Pasifik ini. Visi yang saya bangun adalah informasi yang valid, teliti, berbasis sains yang sahih-berintegritas, bukan asumsi dan menduga-duga," pungkas Daryono.
Rentetan Gempa Besar Beruntun
Seperti diketahui, Venezuela, Jepang, dan Amerika Serikat (California Utara) diguncang gempa besar secara beruntun dalam rentang waktu kurang dari 12 jam, sejak hari Rabu sore Waktu Indonesia Barat (WIB) hingga Kamis pagi WIB (25-25 Juni 2026).
Gempa kembar M7,2 dan M7,5 berselang 40 detik mengguncang Venezuela pada Rabu sore waktu setempat, lalu gempa M5,6 mengguncang California Utara, dan gempa M7,2 menghantam wilayah timur laut Jepang pada Kamis pagi waktu setempat.
Sebelumnya, mengutip BMKG, pada 8 Juni 2026 pukul 06:37:42 WIB, gempa M7,7 mengguncang wilayah Sulawesi Utara dengan lokasi di 244 km Barat laut Pulau Karatung, 5,79 LU-125,14 BT, di kedalaman laut 47 km. Gempa ini memicu BMKG mengeluarkan peringatan Siaga Tsunami di wilayah Kepulauan Sangihe, Talaud, hingga Buol (Sulawaesi Tengah).
Lalu, pada hari Kamis, 25 Juni 2026, pukul 11.03.35 WIB wilayah Laut Sulawesi, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara diguncang gempa bumi tektonik M5,1. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 5,3 LU-125,29 BT, atau tepatnya di laut 191 km barat laut Tahuna, Kepulauan Sangihe pada kedalaman 51 km. Gempa ini tidak memicu potensi tsunami.
Keesokan harinya, BMKGÂ melaporkan, hari Jumat (26/6/2026) pada pukul 18.34.42 WIB, gempa M6,5 mengguncang wilayah Mindanao, Filipina, dengan episenter terletak di koordinat 5,40 LU-125,23 BT, atau tepatnya di laut 200 km Barat Laut Tahuna, Sulawesi Utara pada kedalaman 31 km. Gempa ini tidak berpotensi Tsunami.
Terbaru, Selasa (14/7/2026) pukul 22.49.37 WIB wilayah Mindanao, Filipina diguncang gempa bumi tektonik M6,2 pada kedalaman 35 km. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 5,26 LU-125,18 BT, atau tepatnya di laut 198 km Barat Laut Tahuna, Kep. Sangihe, Sulawesi Utara. Hasil pemodelan menunjukkan gempa ini tidak berpotensi Tsunami.
Gempa bumi dengan kekuatan 6,2 Magnitudo mengguncang kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Selasa (14/7/2026). (Dok. BMKG) Foto: Gempa bumi dengan kekuatan 6,2 Magnitudo mengguncang kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Selasa (14/7/2026). (Dok. BMKG) |
source on Google [Gambas:Video CNBC]

