Internasional

Negara di Ujung Tanduk, 500 Ribu Warga Bangkrut-Bank Terancam Krisis

tfa, CNBC Indonesia
Selasa, 07/07/2026 15:40 WIB
Foto: Orang-orang berjalan melewati kantor pusat Bank Sentral di Moskow, Rusia (11/2/2019). (REUTERS/Maxim Shemetov)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rusia menghadapi ancaman krisis serius. Bahkan negara ini diyakini hampir masuk jurang resesi.

Hal ini terkait laporan intelijen baru berjudul "Catatan tentang kemungkinan krisis perbankan di Rusia pada tahun 2026", yang dilihat laman Reuters dan dipublikasikan Selasa (7/7/2026). Disebut bagaimana setengah juta warga Rusia, alias 500.000, bangkrut tahun lalu sementara bank-bank menghadapi risiko krisis.


Kebangkrutan tersebut dikatakan membuat memburuknya pinjaman usaha dan meningkatkan utang rumah tangga Rusia. Moskow, tulis catatan itu, mendekati potensi kehancuran keuangan.

"Dokumen tersebut disiapkan oleh negara Eropa yang tidak disebutkan namanya," tulis laman tersebut, dimuat juga beberapa media asing lain seperti Telegraph.

"Bank-bank Rusia berada di bawah tekanan yang semakin besar karena Kremlin mendorong mereka untuk tidak melakukan pemeriksaan kredit normal dan mengeluarkan pinjaman bersubsidi kepada perusahaan pertahanan dan pembeli rumah untuk meningkatkan perekonomian dan mendanai perang," tambahnya.

"Artinya, mereka kini terbebani dengan utang macet ketika perekonomian sedang ambruk," muat catatan tersebut.

"Situasi ini menciptakan ilusi ekonomi dinamis yang, pada kenyataannya, menyembunyikan situasi eksplosif yang dapat dipicu oleh guncangan ekonomi, seperti paket sanksi ambisius terhadap bank."

Meski demikian, diakui pemerintah melakukan sejumlah hal untuk "menutupi" kenyataan tersebut. Ada sejumlah program seperti kredit negara, restrukturisasi pinjaman, dan dukungan pemerintah, meski ditegaskan bahwa kelanjutan jangka panjang kebijakan dipertanyakan.

"Porsi pinjaman korporasi yang mungkin tidak akan pernah dilunasi, melonjak menjadi 10%... Ban besar telah memperingatkan bahwa sebanyak 15% pinjaman konsumen mereka bermasalah," katanya.

"Lebih dari 13 juta orang Rusia mengambil setidaknya tiga pinjaman simultan tahun lalu atas dorongan dari program negara," tambahnya.

Perlu diketahui, pada bulan Mei, Kementerian Ekonomi Rusia memangkas perkiraan resmi pertumbuhan PDB tahun ini dari 1,3% menjadi 0,4% dan dari 2,8% menjadi 1,4% pada tahun 2027. Banyak analis berpendapat bahwa situasinya jauh lebih buruk daripada data resmi dan negara ini mungkin sudah berada dalam resesi.

Sementara itu, laporan datang saat para pejabat Uni Eropa (UE) sedang berdiskusi menargetkan 90 bank Rusia baru untuk disanksi. Akan ada total 100 bank yang masuk daftar hitam.

Hal ini berarti berdampak pada lebih dari separuh bank-bank Rusia yang terhubung secara internasional. UE juga berencana untuk menargetkan jaringan mata uang kripto, penyulingan dan pedagang minyak, serta produsen drone.

Sebelumnya, Pusat Analisis Makroekonomi dan Peramalan Jangka Pendek (CMASF) Rusia, yang bekerja sama dengan Kremlin, menerbitkan sebuah laporan pada bulan Februari yang memperingatkan bahwa "krisis perbankan kini telah terkonfirmasi". Hal ini didasarkan pada definisi teknis CMASF bahwa lebih dari sepersepuluh buku pinjaman bank tidak mungkin dilunasi.

The Moscow Times melaporkan pada bulan Mei bahwa jumlah bank yang merugi di Rusia telah melonjak dari 34 pada bulan Januari menjadi 60 pada awal Maret, setara dengan satu dari lima.

Angka ini merupakan yang tertinggi sejak tahun 2022, ketika Rusia pertama kali terkena gelombang sanksi Barat setelah invasi besar-besaran Putin ke Ukraina.

Data Bank Sentral Rusia juga mengungkapkan bahwa masyarakat Rusia menarik 381,2 miliar rubel (sekitar Rp 78,1 triliun0 dari sistem perbankan pada bulan Mei, yang merupakan penarikan tunai terbesar pada bulan Mei sejak data dimulai pada tahun 1995, yang menunjukkan bahwa rumah tangga menjadi gelisah.


(tfa/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rusia Lancarkan Serangan Mematikan ke Kyiv