MARKET DATA
Internasional

Presiden Ini Makin Tajir, Rakyatnya "Megap-megap" Harga Serba Mahal

tfa,  CNBC Indonesia
02 July 2026 14:45
Inflasi Amerika. (AP Photo/Matt York)
Foto: Inflasi Amerika. (AP/Matt York)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah laporan pengungkapan keuangan tahunannya menunjukkan lonjakan kekayaan pribadi selama menjabat.

Di tengah banyak warga AS yang masih bergulat dengan tingginya biaya hidup, Trump justru meraup pendapatan jumbo dari bisnis kripto, royalti, hingga properti, memicu kembali perdebatan soal potensi konflik kepentingan menjelang pemilu paruh waktu.

"Kita semua mendapat keuntungan. Saya mendapat keuntungan karena saya punya banyak uang dan banyak uang tunai," kata Trump kepada wartawan sebelum menaiki Air Force One pada Rabu (1/7/2026). Ia juga menegaskan bahwa asetnya dikelola oleh dana investasi dan dirinya tidak terlibat dalam operasional bisnis sehari-hari.

Berdasarkan dokumen tersebut, Trump memperoleh lebih dari US$526 juta atau sekitar Rp9,42 triliun (kurs Rp17.900/US$) dari penjualan token kripto yang terkait dengan World Liberty Financial LLC, perusahaan yang sebagian dikelola putra-putranya, Eric Trump dan Donald Trump Jr. Selain itu, perjanjian lisensi koin meme miliknya menghasilkan sekitar US$635 juta atau setara Rp11,37 triliun.

Tak hanya dari aset digital, Trump juga masih mengantongi pemasukan dari bisnis bermerek Trump, mulai dari royalti Alkitab, jam tangan, parfum, hingga sepatu. Laporan itu memperlihatkan kerajaan bisnis Trump tetap menghasilkan uang bahkan ketika ia kembali menduduki Gedung Putih.

Situasi tersebut memicu kritik dari kalangan pengawas etika. Penasihat senior bidang etika di Campaign Legal Center, Danielle Caputo, mempertanyakan apakah kebijakan pemerintah yang semakin ramah terhadap industri kripto dibuat demi kepentingan publik atau justru menguntungkan bisnis pribadi presiden.

"Menjadi tidak mungkin untuk mengetahui apakah presiden membuat regulasi kripto demi kepentingan rakyat Amerika atau demi kepentingan bisnisnya sendiri," ujarnya, seperti dikutip CNN International.

Pemerintahan Trump membantah adanya konflik kepentingan dan menegaskan seluruh kebijakan tetap mengutamakan kepentingan nasional. Namun para pengamat menilai persepsi publik tetap menjadi persoalan serius, terutama karena pemerintah juga melonggarkan sejumlah pengawasan terhadap industri aset kripto yang kini menjadi salah satu sumber kekayaan terbesar Trump.

Kontroversi lain datang dari penerimaan pesawat Boeing 747 senilai US$400 juta atau sekitar Rp7,16 triliun sebagai hadiah dari Qatar. Trump menyebut jet tersebut merupakan kontribusi pemerintah Qatar kepada Amerika Serikat, sementara Doha juga menegaskan transaksi itu merupakan kerja sama antarpemerintah.

Meski demikian, sejumlah pihak menilai langkah tersebut berpotensi menimbulkan kesan bahwa kebijakan luar negeri AS dapat dipengaruhi oleh kepentingan pihak asing.

Partai Demokrat mulai memanfaatkan isu tersebut sebagai amunisi politik menjelang pemilu paruh waktu. Anggota DPR dari Colorado, Jason Crow, menuding Trump memperoleh lebih dari US$1 miliar atau sekitar Rp17,9 triliun dari bisnis kripto selama menjabat dan menyebut penerimaan jet dari Qatar sebagai simbol korupsi politik, meski hingga kini tidak ada bukti bahwa Trump melakukan pelanggaran hukum.

Isu kekayaan Trump muncul di saat mayoritas warga Amerika masih mengeluhkan tingginya harga kebutuhan pokok. Sejumlah survei terbaru juga menunjukkan tingkat kepercayaan publik terhadap kebijakan ekonomi Trump melemah. Kondisi itu membuka peluang bagi Partai Demokrat untuk membangun narasi bahwa presiden semakin kaya, sementara banyak rakyat belum merasakan manfaat pemulihan ekonomi.

(tfa/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Survei Terbaru Warga AS: Trump bak "Macan Ompong", Diragukan Sana-sini


Most Popular
Features