Impor Naik Tanda Ekonomi RI Mau Ngebut, Tapi Awas Rupiah Jadi Korban!

Arrijal Rachman, CNBC Indonesia
Kamis, 02/07/2026 07:35 WIB
Foto: Ilustrasi Ekspor- Impor (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja impor Indonesia mengalami peningkatan pesat pada Mei 2026 dengan pertumbuhan mencapai 22,16% secara tahunan atau dari US$20,31 miliar pada Mei 2025 menjadi US$24,81 miliar. Sementara itu, ekspor justru melorot sebesar 5,73% dari US$24,61 miliar menjadi US$23,20 miliar.

Kondisi itu menyebabkan neraca perdagangan Indonesia defisit alias tekor senilai US$1,61 miliar pada Mei 2026. Catatan ini menjadi defisit pertama sejak April 2020, dan mematahkan tren surplus neraca ekspor-impor yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut.


Meski begitu, tingginya pertumbuhan laju impor memberikan sinyal akan tumbuh kencangnya laju ekonomi Indonesia, yang tengah didorong pemerintah hingga bisa tembus 6% pada 2026. Terlihat dari komponen impor menurut golongan penggunaan barang yang mengalami peningkatan pesat.

Pertumbuhan impor terbesar berasal dari kelompok penggunaan bahan baku atau penolong mencapai 25,17% dengan porsi terhadap total impor mencapai 71,32%, selanjutnya barang konsumsi 21,99% dengan porsi hanya 8,81% dan terakhir ialah barang modal yang mengalami pertumbuhan sebesar 12,70% dengan porsi terhadap total impor 19,87%.

"Struktur impor kita sekitar 70% adalah raw materials. 20% capital goods. Sisanya baru consumer goods. Jadi mostly impor kita itu barang input," kata Kepala Riset Ekonomi Makro dan Pasar PermataBank, Faisal Rachman, kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (2/7/2026).

Ketika pemerintahan cenderung pro-growth maka kebutuhan barang input menurut Faisal akan naik yang ditandai dengan laju pertumbuhan impor naik. Walaupun, kondisi ini jugamendapatkan tambahan dari harga minyak yang melonjak.

"Dampaknya memang cukup bisa mendorong pertumbuhan karena yang diimpor mostly adalah barang produktif untuk diolah lebih lanjut di dalam negeri," paparnya.

Kendati begitu, Faisal mengingatkan, bila pertumbuhan impor terus membesar, otomatis akan memperlebar defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) karena ekspor Indonesia justru sedang ada tekanan dari ketidakpastian global. Akibatnya, bisa berujung pada terus tertekannya kurs rupiah.

Pada penutupan perdagangan 1 Juli 2026 saja, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bahkan masih bertengger di zona merah. Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda berakhir di zona merah dengan pelemahan 0,31% ke posisi Rp17.930/US$. Koreksi ini melanjutkan pelemahan rupiah pada perdagangan sebelumnya.

"Ini bisa berdampak negatif pada stabilitas. Pelebaran CAD tanpa adanya capital inflow akan mengurangi cadev (cadangan devisa) kita. Alhasil Rupiah melemah, yang mana semakin membuat harga barang input yang diiimpor relatif jadi lebih mahal," tegasnya.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal. Ia mengatakan, bila laju impor yang banyak digunakan sebagai bahan baku sektor manufaktur tidak diimbangi dengan kinerja ekspor, yang ada justru bisa menekan laju pertumbuhan ke depannya, karena porsi net ekspor yang menjadi salah satu komponen pembentuk PDB tergerus.

"Maka pertumbuhan ekonomi jadinya di triwulan kedua, ini akan mengalami pelemahan yang sangat signifikan dibandingkan dengan triwulan pertama. Nah, ini salah satunya karena kontribusi daripada net ekspornya sekarang jadi menurun signifikan," ungkap Faisal.

Di sisi lain, tekanan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga masih akan terjadi, mengingat kebutuhan dolar ikut terkerek akibat porsi impor menjadi lebih tinggi dibanding ekspor. Pertumbuhan ekspor biasanya menjadi salah satu penopang pasokan dolar di dalam negeri, dalam bentuk devisa hasil ekspor (DHE).

"Kalau nilai tukar rupiah kita melemah, otomatis impor menjadi lebih mahal. Nah, sementara ekspor dengan pelemahan rupiah tidak necessarily dia makin menguat," tegas Faisal

Makanya, ia mengatakan, saat laju impor bahan baku atau barang modal deras masuk ke Indonesia, ekspor Indonesia jangan melulu didodorong oleh ekspor bahan mentah, melainkan harus didorong untuk ekspor bernilai tambah tinggi yang selama ini telah dijalankan melalui program hilirisasi untuk menciptakan pertumbuhan yang sehat.

"Bagaimana mendorong ekspor lebih kuat di tengah kondisi geopolitik seperti sekarang, dan tentu saja adalah bagaimana kita memaksimalkan juga potensi ekspor kita terutama yang kaitannya dengan program sekarang hilirisasi. Kita harapkan berorientasi ekspor, bukan hanya berorientasi dalam negeri," ujar Faisal.


(arj/arj) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Airlangga Ungkap Tujuan Stimulus Bebas Bea Impor Plastik & LPG