Eropa Kacau Balau, Bandara Mendadak Chaos
Jakarta, CNBC Indonesia - Penerapan sistem pemeriksaan perbatasan digital baru Uni Eropa (UE) memicu kekacauan di bandara menjelang puncak musim liburan musim panas. Maskapai penerbangan dan operator bandara memperingatkan sistem tersebut telah menyebabkan gangguan serius terhadap arus perjalanan penumpang.
Akibatnya, penumpang harus menghadapi antrean hingga lima jam di pos pemeriksaan perbatasan. Bahkan, sejumlah pesawat dilaporkan terpaksa lepas landas dengan kursi yang masih kosong karena banyak calon penumpang belum berhasil menyelesaikan proses pemeriksaan imigrasi.
Dalam surat terbuka kepada Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Airports Council International Europe, Airlines for Europe, dan International Air Transport Association (IATA) menyatakan implementasi Entry/Exit System (EES) telah mencapai "titik kritis".
"Implementasi EES saat ini menciptakan konsekuensi operasional yang parah, mengganggu penumpang dan memberikan tekanan yang tidak berkelanjutan pada otoritas perbatasan, bandara, dan maskapai penerbangan," tulis ketiga organisasi tersebut, seperti dikutip Al Jazeera, Kamis (2/6/2026).
Mereka mendesak Komisi Eropa segera turun tangan sebelum kondisi semakin memburuk selama musim perjalanan tersibuk. Menurut mereka, tanpa langkah cepat, sistem transportasi udara Eropa akan menghadapi tekanan yang jauh lebih besar dalam beberapa pekan mendatang.
Kelompok industri itu memperkirakan bandara-bandara di Eropa akan melayani sekitar 40 juta penumpang tambahan sepanjang Juli dan Agustus dibandingkan dua bulan sebelumnya.
"Tanpa fleksibilitas tambahan, tantangan yang ada pasti akan semakin intensif," tulis mereka. Pihak tersebut juga mengingatkan bahwa penumpang akan menjadi pihak yang paling dirugikan jika situasi ini terus berlanjut.
Industri penerbangan juga menilai gangguan tersebut mulai merusak citra Uni Eropa sebagai destinasi wisata global. Mereka menyebut sejumlah wisatawan internasional kini mulai mempertimbangkan ulang rencana bepergian ke Eropa karena khawatir menghadapi penundaan panjang di perbatasan.
Karena itu, mereka meminta negara-negara anggota Uni Eropa diberi kewenangan untuk menangguhkan sementara penerapan EES ketika jumlah penumpang melampaui kapasitas operasional pemeriksaan perbatasan. Menurut mereka, kebijakan tersebut perlu diberlakukan hingga sistem benar-benar stabil dan jumlah petugas di lapangan memadai.
Seruan itu turut didukung oleh World Travel and Tourism Council (WTTC). Presiden sekaligus CEO WTTC Gloria Guevara memperingatkan gangguan berkepanjangan dapat mengancam hingga 41 juta kunjungan wisatawan serta potensi belanja wisatawan sebesar US$45,4 miliar atau sekitar Rp812,7 triliun (asumsi kurs Rp17.900 per US$).
"Jika penundaan yang lama menjadi praktik yang diterima, wisatawan akan mencari tempat lain. Eropa tidak mampu mengorbankan daya saingnya atau pengalaman yang ditawarkannya kepada jutaan pengunjung," ujar Guevara.
Sebagai informasi, Uni Eropa mulai menerapkan EES pada Oktober tahun lalu sebagai pengganti cap paspor manual. Sistem ini merekam identitas pelancong, data paspor, sidik jari, foto wajah, serta waktu dan lokasi masuk maupun keluar dari wilayah Schengen.
Meski Komisi Eropa menyatakan sistem telah beroperasi penuh sejak April, EES terus menuai kritik karena memicu antrean panjang, bahkan menyebabkan sejumlah penerbangan berangkat sebelum seluruh penumpang berhasil melewati pemeriksaan imigrasi.
(tfa/luc) Add
source on Google