Produksi Beras Dunia Diprediksi Turun 1,6%, Ini Penyebabnya Kata FAO
Jakarta, CNBC Indonesia - Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) memperkirakan produksi beras dunia akan menurun pada musim tanam 2026/2027, setelah mencapai level tinggi pada musim sebelumnya. Ketidakpastian cuaca yang berkaitan dengan potensi kemunculan fenomena El Nino menjadi salah satu faktor utama yang membayangi prospek produksi beras global tahun depan.
Dalam laporan Food Outlook edisi Juni 2026, FAO memperkirakan produksi beras dunia pada musim tanam 2026/2027 mencapai 552,4 juta ton. Angka tersebut turun 1,6% dibandingkan produksi musim tanam 2025/2026 yang diperkirakan mencapai 561,6 juta ton.
"Prospek produksi untuk musim 2026/27 terhambat oleh ketidakpastian cuaca yang terkait dengan prediksi munculnya fenomena El Nino dan kendala profitabilitas sektor tersebut," tulis laporan tersebut, dikutip Jumat (19/6/2026).
FAO menyebut hampir seluruh kawasan dunia diperkirakan memanen beras lebih sedikit dibandingkan musim sebelumnya. Sementara Afrika menjadi satu-satunya wilayah yang diperkirakan tidak mengalami penurunan produksi.
Meski demikian, lembaga tersebut menilai kondisi pasokan global masih relatif aman karena ditopang cadangan beras yang besar dari musim-musim sebelumnya. Di Asia, ketersediaan air irigasi yang baik, berbagai program bantuan, serta dukungan input produksi diperkirakan mampu meredam dampak penurunan produksi.
"Di Asia, kombinasi antara pasokan air yang baik untuk irigasi, skema bantuan yang ada, dan langkah-langkah dukungan input yang lebih intensif dapat meredam penurunan, sehingga produksi secara keseluruhan tetap melimpah," tulisnya.
Di saat bersamaan, FAO juga memperkirakan konsumsi beras dunia akan terus meningkat. Total pemanfaatan beras global pada 2026/2027 diproyeksikan mencapai hampir 558,1 juta ton, naik dibandingkan tahun sebelumnya.
Kendati produksi diperkirakan menurun, stok beras dunia masih berada pada level yang sangat tinggi. Pada akhir 2026/2027, cadangan beras global diperkirakan mencapai 213,8 juta ton.
"Meskipun diperkirakan terjadi pengurangan tahunan sebesar 2,7 persen, stok beras dunia pada akhir 2026/2027 dapat tetap berada pada level tertinggi kedua dalam sejarah, yaitu 213,8 juta ton," jelas FAO.
Dari sisi perdagangan, FAO memperkirakan volume perdagangan beras dunia pada 2026 mencapai 59,8 juta ton. Permintaan impor diperkirakan melemah di sejumlah negara karena adanya panen besar dan stok yang masih melimpah dari periode sebelumnya.
"Perdagangan beras internasional diperkirakan akan menurun sebesar 2,1 persen pada tahun 2026 (Januari-Desember) menjadi 59,8 juta ton, karena peningkatan pasokan dari panen raya atau dari impor besar sebelumnya, dapat mengurangi permintaan dari negara-negara pengimpor tradisional," terangnya.
FAO juga mencatat harga beras internasional mulai pulih setelah sempat menyentuh level terendah dalam delapan setengah tahun pada November 2025. Kenaikan harga didorong oleh berkurangnya tekanan panen, permintaan yang tetap kuat untuk beras aromatik dan Japonica, serta meningkatnya biaya produksi di negara-negara eksportir.
Namun demikian, pemulihan harga masih terbatas karena pasokan ekspor yang tetap melimpah dan adanya gangguan perdagangan di kawasan Teluk Persia.
"Namun, melimpahnya pasokan ekspor dan gangguan perdagangan di Teluk Persia membuat pemulihan harga hanya bersifat parsial," tulis laporan tersebut.
FAO mencatat Indeks Harga Beras FAO pada Mei 2026 berada di level 104,8 poin. Meski naik 6,6% dibandingkan Oktober 2025, angka tersebut masih 1,4% lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Mentan Beras RI Aman
Terpisah, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengungkapkan, pemerintah sudah mengantisipasi dampak fenomena cuaca El Nino Godzilla. Dari sisi ketersediaan pangan, saat ini stok beras aman masih hingga 11 bulan ke depan.
Amran menjelaskan, hingga bulan Juni stok beras cadangan pemerintah mencapai 5,2 juta ton. Standing crop beras atau tanaman yang ada di lahan sawah diestimasikan mencapai 10 - 11 juta ton, sedangkan stok yang berada di hotel, rumah hingga restoran mencapai 12,5 juta ton.
"Artinya dengan cadangan ini tiga-tiganya itu bisa 10 - 11 bulan ke depan. Kalau anggaplah yang terendah adalah 10 bulan ke depan artinya sampai dengan bulan April (2027)," kata Amran, usai Rapat Terbatas di Istana Kepresidenan, Kamis (18/6/2026).
Amran juga tidak khawatir atas kekeringan ini, pasalnya diproyeksikan pada Maret 2027 mendatang stok beras juga akan kembali bertambah, karena periode masa panen.
Sementara itu, Melansir dari FAO Food Price Index, indeks harga pangan dunia berada di level 130,8 poin pada Mei 2026. Angka tersebut turun tipis 0,2% dibandingkan April. Secara tahunan, indeks masih lebih tinggi 2,9%.
Memang, posisi saat ini masih berada 18,4% di bawah rekor tertinggi yang tercapai pada Maret 2022 saat pasar pangan global terguncang oleh perang Rusia-Ukraina.
Indeks harga beras FAO naik 2,7% pada Mei 2026. Kekhawatiran terhadap kondisi cuaca di sejumlah negara eksportir Asia muncul bersamaan dengan kenaikan harga minyak mentah dan produk turunannya. Kombinasi tersebut meningkatkan biaya produksi sekaligus biaya distribusi sehingga mendukung kenaikan harga.
source on Google [Gambas:Video CNBC]