MARKET DATA
Internasional

Reaksi Dunia AS-Iran Resmi Deal Damai Perang, Apa Kata Israel?

sef,  CNBC Indonesia
15 June 2026 12:40
Seorang wanita memegang bendera Iran di jalanan Teheran, Iran, 10 Juni 2026. (Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS)
Foto: (via REUTERS/Majid Asgaripour)

Jakarta, CNBC Indonesia -Para pejabat Amerika Serikat (AS) dan Iran mengatakan bahwa mereka telah menyepakati kesepakatan untuk mengakhiri perang. Mereka juga setuju menghentikan blokade AS terhadap Iran dan membuka kembali Selat Hormuz setelah perjanjian ditandatangani Jumat, di sela-sela KTT tahunan Kelompok Tujuh Negara (G7) di Évians-les-Bains, Prancis.

Presiden AS Donald Trump mengatakan perjanjian tersebut akan memastikan bahwa Selat Hormuz "secara permanen bebas biaya". Iran mengatakan perundingan nuklir selama 60 hari akan dimulai setelah AS mengeluarkan miliaran dana Teheran yang dibekukan sebelumnya.

Lalu bagaimana reaksi pemimpin dunia dengan kesepakatan ini? Berikut rangkuman CNBC Indonesia, Senin (15/6/2026).

PBB

Merujuk Reuters, Sekjen PBB Antonio Guterres menyambut baik pengumuman bahwa AS dan Iran telah menyepakati perjanjian damai. Ini, kata dia, merupakan langkah penting menuju penyelesaian konflik secara damai.

Pernyataan Bersama Pemimpin E4

Negara-negara E4, Inggris, Prancis, Jerman dan Italia memberi pernyataan bersama setelah pengumuman deal damai AS-Iran. Intinya Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

"Kami siap bekerja sama dengan AS, Iran, dan IAEA untuk mencapai tujuan ini," ujarnya menyebut lembaga nuklir PBB.

Australia

Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese menyambut baik perjanjian AS dan Iran. Australia telah lama menyerukan deeskalasi dan diakhirinya konflik, termasuk di Lebanon.

Inggris

PM Inggris Keir Starmer menyebut sangat memahami pentingnya kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Inggris juga menegaskan bahwa Iran tak boleh memiliki senjata nuklir.

Prancis

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyambut baik perjanjian yang dicapai antara AS dan Iran. Ia mengatakan ini merupakan hasil dari upaya diplomatik yang disumbangkan oleh beberapa mitra.

"Saya menyerukan implementasi yang cepat dan penuh oleh semua pihak yang berperang. Perjanjian ini harus memungkinkan pembukaan kembali Selat Hormuz secara mendesak dan tanpa syarat, yang siap didukung oleh misi internasional yang didirikan bersama Inggris," tegasnya.

Jerman



Kanselir Jerman Friedrich Merz menyambut baik perjanjian antara AS dan Iran dan mengucapkan selamat kepada Presiden Trump dan pihak Iran atas terobosan diplomatik ini. Hal ini, kata dia, dapat membuka jalan menuju kebangkitan ekonomi global dan Timur Tengah yang lebih aman.

"Sangat penting untuk menerapkannya dengan tekad yang kuat," tambahnya.

Jepang

PM Jepang Sanae Takaici menyebut "sangat berharap" bahwa "navigasi yang bebas dan aman melalui Selat Hormuz akan terjamin dalam praktiknya". Ia mengatakan kesepakatan akhir mengenai masalah nuklir Iran dan masalah lainnya harus dicapai sesegera mungkin.

Selandia Baru

Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters mengatakan kesepakatan yang penting dan konstruktif ini merupakan langkah menuju pengurangan ketegangan dan mendorong stabilitas di kawasan. Di mana hal itu, tambahnya, sangat penting bagi keamanan ekonomi global.

"Dialog dan diplomasi tetap menjadi cara paling efektif untuk menyelesaikan masalah yang sudah berlangsung lama," jelasnya.

Turki

Presiden Turki Recep Tayyip ErdoÄŸan menyambut baik kerangka perjanjian tersebut. Namun ia menekankan pentingnya menahan diri dari retorika, provokasi dan tindakan yang dapat meningkatkan ketegangan, dan tetap waspada terhadap kemungkinan tindakan sabotase sampai hari penandatanganan perjanjian tersebut.

Qatar

Kementerian Luar Negeri Qatar menyatakan dukungan penuh untuk semua upaya dan inisiatif yang bertujuan meningkatkan keamanan dan stabilitas regional.

Lalu apa kata Israel?

Halaman 2>>>

Add logo_svg as a preferred
source on Google

Pejabat senior Israel dilaporkan kecewa dan marah terhadap Trump terkait rancangan kesepakatan damai yang tengah disusun antara Washington dan Iran. Mereka menilai perjanjian tersebut gagal memenuhi tujuan utama Israel dalam konflik dengan Teheran.

Mengutip media Israel, Ynet, sejumlah pejabat bahkan menyebut kesepakatan itu sebagai sebuah "bencana". Pejabat lainnya menilai perjanjian tersebut "sangat buruk" karena tidak memenuhi prinsip-prinsip yang menjadi dasar perang sejak awal.

"Trump telah mengkhianati kami," katanya.

Sumber Ynet lagi menyebut Israel menilai rancangan tersebut gagal memenuhi tiga tuntutan utamanya, yakni penghentian program nuklir Iran, pembatasan rudal balistik, dan pengurangan pengaruh kelompok-kelompok sekutu Iran di kawasan. Sementara itu, Teheran berulang kali menegaskan program nuklirnya hanya ditujukan untuk kepentingan damai.

Seorang pejabat Israel juga memperingatkan bahwa kesepakatan tersebut akan dipandang sebagai bentuk kemunduran AS. Menurutnya, banyak pihak di kawasan akan menilai Washington menyetujui perjanjian itu karena tekanan Iran, bukan karena keberhasilan diplomasi Amerika.

Meski demikian, PM Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka tetap menyampaikan apresiasi atas komitmen Trump untuk memastikan material uranium yang telah diperkaya ditarik dari Iran sebagai bagian dari kesepakatan. Netanyahu juga menegaskan Israel bukan pihak yang terlibat langsung dalam perjanjian tersebut.

Next Page
Israel


Most Popular
Features