Fenomena Baru Muncul di Rumah Makan Padang, Ada Apa dengan Ekonomi RI?

Elga Nurmutia, CNBC Indonesia
Selasa, 09/06/2026 12:05 WIB
Foto: Elga Nurmutia

Jakarta, CNBC Indonesia - Para pelaku usaha Rumah Makan Padang tengah dihadapkan sejumlah tantangan baik dari kenaikan harga bahan baku hingga penurunan daya beli masyarakat. Mereka pun berharap ada upaya-upaya perbaikan kondisi ekonomi yang mampu memulihkan penjualannya.

Beberapa pengelola Rumah Makan Padang di kawasan Tebet, Jakarta Selatan menyatakan bahwa kondisi penjualan Nasi Padang mengalami penurunan dibandingkan pada saat pandemi Covid-19.

Ridwan contohnya, ia mengaku omzet yang didapatkan berkurang sekitar 20% pada tahun 2026. Pasalnya, beberapa pengunjung cenderung memilih menu yang irit ketika pertengahan hingga akhir bulan. Pada periode tersebut, biasanya para pembeli Nasi Padang lebih memilih menu seperti nasi telur, nasi perkedel, dan nasi terong seharga Rp 18.000.


"Sejauh ini sih tengah bulan biasanya ya sampai ke akhir sepi, biasanya ngirit mereka," ungkap Ridwan saat ditemui CNBC Indonesia, Selasa (8/6/2026).

Saking iritnya, lanjut Ridwan, kerap kali ia mendapatkan pengunjung yang hanya membeli sayur dan sambal tanpa nasi untuk dibawa pulang. Di sisi lain, ada juga pembeli yang hanya ingin membeli lauknya saja untuk dibagi-bagi dengan keluarganya di rumah.

"Kalau di Nasi Padang kan dia akumulasinya sayur tuh free dan dia udah di-include dari orang beli lauk," jelasnya.

Sebaliknya, pada awal bulan atau periode gajian, para pengunjung Rumah Makan Padang banyak yang membeli paket nasi ikan, daging cincang, rendang hingga tunjang. Menu-menu premium tersebut biasanya dibanderol sekitar Rp 20.000-an ke atas.

Sebagian pengunjung juga membeli menu paket lengkap seharga Rp 27.000 yang berisi nasi, satu jenis lauk, sayur dan sambal. Sayangnya, penjualan menu-menu paket tersebut mulai berkurang saat pertengahan hingga akhir bulan.

Di samping itu, Ridwan juga mengeluhkan harga sejumlah bahan baku yang melonjak tinggi di pasar seperti daging sapi, ayam, telur, cabai, dan lainnya. Kenaikan harga tersebut menjadi tantangan sendiri bagi pelaku usaha untuk bisa mempertahankan eksistensi rumah makannya.

Kondisi Rumah Makan Padang di Cikini, Jakarta Pusat pada Jumat (5/6/2026). (CNBC Indonesia/Elga Nurmutia) Foto: Kondisi Rumah Makan Padang di Cikini, Jakarta Pusat pada Jumat (5/6/2026). (CNBC Indonesia/Elga Nurmutia)

Pengelola Rumah Makan Padang lainnya di Tebet, Aldi juga mengaku masakan Padang yang dijualnya sepanjang 2026 cenderung menurun. Bahkan, tren penjualannya diklaim tidak lebih baik dibandingkan saat pandemi Covid-19 lalu. Padahal, ketika pandemi berlangsung, mobilitas masyarakat di luar rumah cukup terbatas.

Saat pandemi, Rumah Makan Padang yang dikelola Aldi kerap mendapat pesanan dalam jumlah besar. Namun, capaian tersebut justru tidak berlanjut akhir-akhir ini.

Pelemahan daya beli seiring kondisi ekonomi yang kurang stabil dipandang Aldi sebagai penyebab penurunan penjualan Rumah Makan Padang yang dikelolanya. Dia juga melihat masalah serupa juga dialami oleh berbagai pelaku usaha lainnya di bidang Rumah Makan Padang.

"Kita ada di forumnya kan, di Facebook itu. Itu malah daerah Bogor, daerah Depok itu sampai nurunin harga malah," ungkapnya kepada CNBC Indonesia.

Selain lesunya permintaan dari konsumen, tantangan juga muncul seiring ketersediaan bahan baku yang cenderung terbatas. Aldi memberi contoh, pihak supplier seperti daging ayam belakangan ini turut mengalami penurunan penjualan yang kemudian berdampak pada kemampuan mereka untuk memasok produk tersebut ke Rumah Makan Padang.

Tantangan lain juga muncul dari kenaikan harga sejumlah bahan baku dalam beberapa waktu terakhir, seperti daging, cabai, hingga sayuran. Padahal, bahan baku tersebut cukup penting untuk berbagai menu masakan Padang.

"Yang saya bingung soal daging. Daging kenapa? Itu dia naik, nggak turun-turun. Biasanya tahun kemarin naik terus turun. Ini malah tetap stagnant, udah gitu kalau cabai sama bawang merah itu,yang sekarang lagi 1 kilo Rp 60.000, biasanya cuma Rp 40.000-Rp 45.000 per kilo," jelasnya.

Kondisi tersebut membuat Aldi mesti mengerek harga jual masakan Padang secara bertahap yakni Rp 1.000 di tiap tahun. Lantas, Aldi berharap ada upaya konkret dari pemerintah untuk mengendalikan harga bahan baku masakan Padang, misalnya melalui operasi pasar.

Sementara itu, Ijan, pelaku usaha Rumah Makan Padang lainnya di kawasan Tebet juga mengaku kondisi daya beli masyarakat tampak bermasalah. Hal ini tercermin dari adanya penurunan penjualan nasi Padang lebih dari 10% dalam beberapa waktu terakhir.

Ijan menjelaskan, biasanya menu-menu masakan Padang di tempatnya sudah habis sekitar pukul 14.00 sore. Dahulu Rumah Makan Padang yang dikelolanya juga kerap diramaikan pengunjung saat jam makan siang. Namun, sekarang kondisinya tampak biasa saja.

Selain itu, Ijan juga melihat adanya perubahan perilaku konsumen seiring melemahnya daya beli. Dalam hal ini, sebagian konsumen cenderung membeli menu masakan Padang dengan harga sekitar Rp 15.000 sampai Rp 20.000. Biasanya, menu di kisaran harga tersebut berisi nasi, telur dadar, ayam dan sayur.

"Orang-orang sekarang kan cari uangnya juga jadi lebih susah, karena kan semua kebutuhan makan. Iya kadang-kadang sih nyari yang paketan Rp 15.000 gitu," imbuh dia..

Seperti pelaku usaha lainnya, Ijan turut melakukan penyesuaian harga sebesar Rp 1.000 pada sejumlah menu masakan Padang di rumah makannya, khususnya yang terkait daging. Langkah ini ditempuh Ijan sejak awal tahun 2026 lantaran adanya kenaikan harga bahan baku.

Beralih ke kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Taufik seorang pelaku usaha Rumah Makan Padang turut merasakan adanya penurunan penjualan Nasi Padang di tempatnya. Ia melihat ada pergeseran menu paket yang dipilih oleh masyarakat. Sebelumnya, kebanyakan pelanggan datang membeli nasi rendang, nasi ayam hingga lauk-lauk mewah lainnya.

Akan tetapi, saat ini banyak pelanggan cenderung memilih membeli menu yang murah seperti nasi telur, nasi perkedel, hingga nasi kentang balado. Bahkan, ada juga yang biasanya membeli rendang mulai beralih ke menu ayam.

Tak jarang juga ia menemukan pelanggan yang meminta porsi sayur lebih banyak. Beruntung, kemurahan hati Taufik dan teman-temannya selalu memberikan porsi banyak kepada anak-anak kost.

Dia juga menjelaskan, saat ini makanan-makanan seperti Kepala Kakap, Cumi, dan menu yang bahan dasarnya mahal agak sulit dijual. Melihat kondisi itu, Taufik pun mengurangi porsi penyajian. Misalnya, tadinya menjual 6-7 kepala kakap sekarang hanya setengahnya alias hanya tiga kepala kakap. Untuk Nasi Padang dengan menu kepala kakap sendiri dibanderol seharga Rp 50.000.

Di sisi lain, Taufik juga menyadari harga bahan baku untuk masakan Padang melonjak tinggi setelah lebaran 2026. Mulai dari harga daging hingga cabai. Bahkan, plastik penunjang membungkus makanan pun ikutan naik.

"Akhir puasa, lebaran itu langsung meledak harganya, terutama itu dari plastik. Plastik itu malah pertama, kalau harga satu pack itu biasanya Rp 28.000 itu, sekarang bisa sampai Rp 50.000," jelasnya.

Meskipun kondisi harga bahan baku sudah mulai meningkat, Taufik mengaku belum menaikan harga masakannya. Sebab, ia ingin menjaga daya beli masyarakat agar tetap bisa menjangkau Nasi Padang di rumah makan tempat ia bekerja.

Dia berharap, harga pangan maupun plastik bisa menjadi lebih stabil dibandingkan saat ini. Sehingga, penghasilan yang didapatkan pun bisa mengalami perbaikan.

Sebagai pembeli, Triyo mengaku, membeli Nasi Padang dalam kondisi ekonomi saat ini masih tergolong untung. Selain masakannya enak, porsinya juga tergolong banyak dan harganya belum naik secara signifikan.

"Ya masih standar sih harganya, masih normal lah. Enak ya kalau di sini (Rumah Makan Padang) dan porsinya banyak," ungkap Triyo.

Di sisi lain, Andi, seorang pelanggan Rumah Makan Padang mengaku masih membeli Nasi Padang lantaran menunya relatif beragam dan porsinya banyak. Meski demikian, dalam kondisi ekonomi saat ini, ia mulai berhemat saat membeli makanan, mengingat harga kebutuhan hidup lainnya sudah semakin tinggi.

"Kalau sekarang sih udah mulai diirit-irit ya. Mungkin nasi sama telur udah cukuplah itu," jelasnya.

Dirinya bilang, beberapa menu makanan di Rumah Makan Padang yang pernah dikunjunginya memang sudah ada yang mengalami kenaikan harga. Dari situ, ia senantiasa memperhatikan anggaran yang tersedia sebelum memutuskan membeli Nasi Padang.

"Karena kan porsinya juga besar, dapat sayurnya gratis. Minumnya juga gratis. Iya masih worth it sampai sekarang. Tinggal menunya aja yang disesuaikan," tandasnya.


(wur/wur) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Pengusaha ungkap daya beli warga RI di tengah ketidakpastian global