Muncul Fenomena Aneh di Bengkel Motor, Ada Apa dengan Ekonomi RI?
Jakarta, CNBC Indonesia - Lesunya daya beli masyarakat tampaknya mulai terlihat dari tempat yang mungkin jarang diperhatikan banyak orang, ayaitu bengkel motor pinggir jalan. Di sejumlah bengkel kawasan Mampang, Jakarta Selatan, para montir dan pemilik usaha mengaku merasakan penurunan jumlah pelanggan dalam beberapa bulan terakhir, seiring kenaikan harga oli dan sparepart lainnya.
Fenomena yang mereka temui pun serupa. Masyarakat mulai menunda perawatan kendaraan, memperpanjang jadwal ganti oli, hingga menunggu komponen benar-benar rusak sebelum diganti.
Pemandangan itu terlihat di salah satu bengkel di kawasan Mampang. Saat ditemui CNBC Indonesia, seorang montir bernama Ilyas (nama samaran), tampak tertidur di balik kabinet bengkel. Namun begitu mendengar panggilan pelanggan yang hendak mengisi angin ban motor, ia langsung bergegas bangun dan melayani.
Menurut Ilyas, kondisi bengkel memang sedang sepi dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
"Iya lumayan sepi belakangan ini. Kayaknya jalan dua bulan bengkel makin sepi," kata Ilyas kepada CNBC Indonesia, saat ditemui di lokasi, Jumat (5/6/2026).
Ia menduga masyarakat mulai menahan pengeluaran karena tekanan ekonomi dan kenaikan harga berbagai kebutuhan, termasuk oli kendaraan.
"Mungkin orang mulai ngerem pengeluaran ya, karena kan kita tahu sekarang ekonomi kacau, ditambah harga barang pada naik, paling terasa di oli, naiknya lumayan," sebutnya.
Kenaikan harga oli, kata dia, membuat biaya servis ikut meningkat. Jika beberapa bulan lalu pelanggan masih bisa mengganti oli beserta jasa pemasangan dengan biaya sekitar Rp60 ribu, kini angka tersebut sudah tidak lagi memungkinkan.
"Biasanya ya, kayak 3-4 bulan lalu sudah sama jasa itu (ganti oli) cuma Rp60 ribu. Sekarang Rp60 ribu cuma harga beli oli dari tokonya, masa saya beli Rp60 ribu saya jual segitu juga, kan ada biaya jasanya. Jadi sekarang saya patokkan Rp75 ribu," ungkap dia.
Kenaikan harga itu kerap memicu keluhan pelanggan. Namun menurut Ilyas, dirinya tidak memiliki banyak pilihan karena harga dari pemasok juga sudah naik.
"Wah banyak kalau protes, (mereka nanya) 'kok naik?', 'kok jadi mahal?', gitu-gitu, saya bilang saja dari sananya memang naik, mau atau nggak ganti oli, wong dia cek ke bengkel lain pun harganya bakal sama kok," ujarnya.
Ia juga melihat perubahan perilaku masyarakat dalam merawat kendaraan.
"Iya. Sejak 2 bulan ini lah. Mungkin karena perang, terus dolar juga katanya makin mahal ya. Itu sih paling, jadi orang mungkin lebih hemat, jadi naik transportasi umum atau lebih banyak jalan, kan bisa gitu," kata Ilyas.
Bengkel motor di daerah Mampang, Jakarta Selatan, Jumat (5/6/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Bengkel motor di daerah Mampang, Jakarta Selatan, Jumat (5/6/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) |
Pelanggan Bengkel Turun hingga 50%
Keluhan serupa disampaikan Johan, pemilik salah satu bengkel motor di kawasan yang sama. Menurutnya, kenaikan harga oli dan sparepart yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir mulai berdampak langsung terhadap omzet usaha.
"Iya, benar," kata Johan, saat ditanya mengenai fenomena masyarakat yang mulai jarang datang ke bengkel hanya untuk sekedar mengganti oli.
Menurut dia, harga oli yang sebelumnya berada di kisaran Rp50 ribu kini sudah menembus Rp70 ribuan.
"Pasti orang jadi ngirit, dolar ini kan naik, pasti harga oli naik ya jauh. Yang biasanya oli itu Rp50 ribu bisa, sekarang jadi harga Rp70 ribu," ujarnya.
Ia mengaku kenaikan harga tidak hanya terjadi pada oli, tetapi juga berbagai komponen kendaraan lainnya.
"Naik terus. Setiap bulan ini ada kenaikan terus untuk harga oli sendiri, dan untuk harga sparepart sendiri," ucap dia.
Akibatnya, omzet bengkel mengalami penurunan dalam tiga bulan terakhir.
"Kalau omzet, sejak 3 bulan ini ada lah 20 sampai 30% turunnya," ujar Johan.
Bahkan, menurutnya, banyak pelanggan yang kini menunda penggantian oli hingga kondisinya benar-benar habis.
"Ada loh, sampai orang mau ganti oli, dia tunda-tunda sampai olinya kering. Oli kering, jadi baru, bukan ganti ngisi. Sampai kering baru ganti," katanya.
Tak hanya oli, penggantian komponen lain juga kerap ditunda hingga benar-benar rusak.
"Ini kayak Mas ini nih, vanbelt sampe putus baru ganti," ujarnya.
Padahal, menurut Johan, idealnya oli motor diganti setiap bulan. Namun kini banyak pelanggan baru datang setelah dua bulan atau bahkan lebih.
"Harusnya kan sebulan sekali ganti oli, yang motor matic khususnya ya, sekarang dua bulan sekali dia baru ganti oli," jelas dia.
Ia menilai perubahan perilaku tersebut tidak lepas dari melemahnya daya beli masyarakat. "Kemunduran, daya beli ya turun," ujarnya.
Penurunan pelanggan juga cukup terasa di bengkelnya.
"Pelanggan sudah turunnya 50 persenan ada lah. Biasanya yang misalnya datang 10 orang, ini 3 bulan ke sini ya paling 5 orang saja," kata Johan.
Meski harga barang naik, Johan mengaku masih menahan kenaikan tarif jasa servis karena khawatir semakin memberatkan pelanggan.
"Jasa belum sih selama ini. Kalau naikin harga jasa ya orang kasihan sih, nanti pada teriak, kasihan orang... sudah mahal banget gitu loh. Sudah barangnya mahal, tambah jasa yang dinaikin, berarti naikin dua kali momentum," ujarnya.
(wur) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]
