MARKET DATA

Pengakuan Mengejutkan Pedagang Tanah Abang: Tahun Ini Paling Berat!

Chandra,  CNBC Indonesia
12 May 2026 14:15
Suasana di Pasar Tanah Abang saat masa libur lebaran, Jakarta, Rabu (25/3/2026). Pasar Tanah Abang masih ditutup sementara sebagai bagian dari masa libur Lebaran 2026. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Suasana di Pasar Tanah Abang saat masa libur lebaran, Jakarta, Rabu (25/3/2026). Pasar Tanah Abang masih ditutup sementara sebagai bagian dari masa libur Lebaran 2026. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Geliat pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat tampak sepi, Selasa siang (12/5/2026). Para pedagang di sana mengungkapkan fakta yang mengejutkan, situasi global ternyata sangat berdampak bagi mereka.

Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia, di Blok B lantai LG, yang sebelumnya sempat ramai saat lebaran, kini tampak mulai sepi. Para pedagang pun berteriak untuk mempromosikan dagangannya kepada pengunjung yang berlalu lalang. Namun kali ini, teriakannya cenderung lebih kencang.

Di Blok B lantai LG, terdapat cukup banyak pedagang yang menjual pakaian Muslim, di mana saat lebaran, cukup ramai pengunjung yang memburu pakaian seperti gamis "bini orang" dan lain-lainnya.

Bergeser ke lantai ground Blok B Tanah Abang, suasananya lebih sepi dibandingkan dengan lantai LG. Padahal di lantai ini, beberapa toko juga menjual pakaian Muslim yang sempat ramai saat lebaran 2026.

Namun yang lebih parah, kondisi sepi sudah cukup lama terjadi di Blok A dan B lantai B1, di mana toko-toko yang menjual aneka pakaian pengantin, perlengkapan tidur, dan lain-lainnya dijual di sini.

Di lantai ini, pedagang sudah cukup banyak yang menjual dagangannya dengan cara melakukan live melalui TikTok atau Shoppee Live.

Salah satu pedagang pakaian anak-anak di lantai ground Blok A Tanah Abang, yakni Limei mengaku kondisi tahun ini cukup berat. Bahkan beberapa hari terakhir, kondisinya makin berat dampak dari kenaikan harga barang-barang akibat perang di Timur Tengah.

"Tahun ini sih paling berat, tapi sejak adanya perang di Timur Tengah, makin berat kondisinya," kata Limei saat ditemui CNBC Indonesia, Selasa (12/5/2026).

Kondisi makin berat dirasakannya karena pembeli mulai mengurangi pembeliannya. Seperti contoh, ada pembeli yang biasanya membeli dalam satu lusin pakaian anak-anak, kini hanya mampu membeli setengah lusin, bahkan hanya tiga buah pakaian.

"Dulu waktu masih ramai, langganan saya sering beli 1 lusin, sekarang ya cuma setengah lusin, bahkan cuma 3 pakaian saja. Dulu juga ada yang beli sekarung, sekarang ya setengah karung," lanjutnya.

Kondisi makin berat terjadi karena harga barang-barang mengalami kenaikan, terutama harga plastik, karena plastik sangat dibutuhkan untuk membungkus pakaian grosir.

"Ya sejak harga-harga mulai pada naik, kami makin gigit jari, plastik paling utama sih," terangnya.

Meski harga-harga mulai mengalami kenaikan, tetapi dirinya belum berani untuk menaikkan harga, di mana harga pakaian anak-anak di tokonya dibanderol mulai dari Rp30.000 hingga Rp80.000.

"Harga masih sama sih, paling murah Rp30.000, paling mahal ya Rp80.000," ujarnya.

Senada dengan Limei, Surono, pedagang batik dan Muslim mengungkapkan tahun ini lebih berat dibandingkan tahun lalu. Bahkan, kini kondisinya makin berat karena kenaikan harga barang-barang.

"Wah, tahun ini berat sih. Bahkan dibandingkan tahun lalu, tahun ini mungkin lebih parah, karena kan ada perang, terus harga-harga pada naik, ya makin berat lah," kata Surono.

Apalagi, pakaian batik dan pakaian Muslim cenderung kurang diminati saat ini, sehingga pengunjung pun makin berkurang.

"Apalagi habis lebaran, makin sepi Tanah Abang biasanya, kemarin pas beberapa hari sebelum lebaran saja di sini sepi, apalagi setelah lebaran," tambahnya.

Surono melanjutkan, Tanah Abang kini sudah meninggalkan kejayaannya, di mana saat lebaran pun hanya di lantai tertentu yang masih ramai.

"Kejayaan Tanah Abang sebenarnya sudah berakhir, banyak pedagang yang mungkin ada di lantai atas-atas sudah beralih berjualan lain di tempat asalnya, entah jadi jualan sayuran atau apalah, tapi kalau di lantai ini sih masih pada bertahan, cuma ya kalau kondisinya begini, bisa makin berkurang pedagangnya," jelasnya.

Sementara itu Asna, pedagang pakaian pengantin mengungkapkan kini hanya bermodalkan jualan melalui live TikTok agar bisa tetap berjualan.

"Sekarang sih andalkan TikTok ya, kalau enggak, ya kami enggak sanggup lagi, yang datang ke sini sudah enggak sebanyak dahulu," kata Asna.

Bahkan, kini pun di live TikTok, pembeli juga mulai berkurang karena kondisi daya beli masyarakat yang kembali menurun.

"Biasanya kan syawalan itu baju-baju pengantin ramai dicari, tapi tahun ini enggak banyak sih, ya mungkin juga karena daya beli turun lagi," ucapnya.

(hoi/hoi) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bak Makan Buah Simalakama, Penjual Kain Tanah Abang Curhat Efek Perang


Most Popular
Features