Muncul Fenomena Aneh di Warteg, Sinyal Ekonomi RI Tak Baik-Baik Saja?
Jakarta, CNBC Indonesia - Pedagang warteg makin resah dengan dampak dari kenaikan harga bahan makanan serta menurunnya daya beli masyarakat. Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia di kawasan Senen, Jakarta Pusat, beberapa pedagang warteg mulai mengeluhkan pembeli mengurangi lauk pauk efek harga bahan makanan makin mahal.
Salah satunya Amirah, di mana dia membenarkan fenomena tersebut. Kini makin banyak pembelinya yang hanya membeli lauk pauk di bawah Rp15.000 hingga Rp20.000, seperti tempe-tahu, telur balado, dan aneka gorengan. Pembeli juga menyiasati lebih banyak menggunakan sayuran.
Sedangkan lauk seperti ayam goreng, rendang daging sapi, semur sapi, cumi-cumi hitam, dan udang (goreng dan balado) pun mulai jarang dibeli.
"Iya betul, sekarang pembeli sudah mulai kurangi beli lauk seperti ayam goreng atau daging sapi, mereka belinya telur balado, tempe-tahu, sayuran, dan gorengan," kata Amirah saat ditemui CNBC Indonesia, Sabtu (30/5/2026).
Pembeli kini membeli menu warteg seharga Rp10.000-an, dan sudah mulai jarang ditemui yang membeli lebih dari Rp20.000. Alhasil, kini Ia mulai tidak menjual lauk yang di atas harga Rp20.000.
"Sekarang banyak yang beli lauk agar harga makanannya cuma Rp10.000-an, ya ada sih yang Rp15.000, cuma yang di atas Rp20.000 sudah mulai jarang," terangnya.
Senada dengan Amriah, Kusuma, pedagang warteg lain juga mengungkapkan adanya perubahan pemesanan lauk dari pembeli, di mana untuk lauk rendang dan udang makin kurang diminati.
Kondisi Warteg di Kawasan Senen, Jakarta Pusat, Jumat (29/5/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi) Foto: Kondisi Warteg di Kawasan Senen, Jakarta Pusat, Jumat (29/5/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi) |
"Benar, sekarang kebanyakan beli lauknya ya sayur tempe, tempe-tahu goreng, perkedel, kentang goreng, ya pokoknya yang masih sekitar Rp10.000," kata Kusuma.
Bahkan, kini Ia tidak menjual lagi aneka lauk udang, karena peminatnya sudah berkurang. Meski begitu, pihaknya masih menjual ayam goreng.
"Udang kan agak mahal ya, kalau udang sama nasi memang enggak sampai Rp20.000, cuma kan kadang orang-orang enggak pakai sayur sama sambal, itu kurang sedap, jadi pun udang-nasi-sayur itu bisa hampir Rp20.000, ya orang-orang kurangin pakai udang," jelasnya.
Sementara itu Surono, pedagang warteg lainnya juga mengungkapkan kini banyak pembeli yang membeli menu warteg sekitar Rp10.000 hingga Rp15.000
"Gara-gara harga pada naik, sekarang orang-orang makin selektif beli lauk di warteg, biasanya kami siapin daging kikil cepet ludes, ini kadang sampai sore masih sisa. Apalagi yang daging rendang gitu-gitu," kata Surono.
Surono menambahkan, lauk seperti perkedel, kentang goreng, tempe-tahu, dan aneka sayuran lebih diminati. Sedangkan ikan goreng, daging sapi, dan udang mulai dikurangi.
"Orang-orang cari yang menu praktis, tapi nasi tetap, karena kami enggak kurangin porsi nasinya, jadi orang-orang lebih selektif ke lauknya, bukan nasi, yang penting sudah kenyang," ujarnya.
(chd/wur) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]
