Internasional

Terungkap Akal Bulus Netanyahu Seret Trump ke Perang AS-Iran Jilid 2

sef, CNBC Indonesia
Selasa, 09/06/2026 09:40 WIB
Foto: REUTERS/Evelyn Hockstein

Jakarta, CNBC Indonesia - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu berusaha menarik Presiden Donald Trump untuk kembali ke perang Amerika Serikat (AS) dan Iran jilid II. Hal ini dimulai sejak Minggu pagi, saat Israel menyerang sasaran Hizbullah di Beirut.

Sebagaimana dimuat laman AS Axios, sumber Israel mengatakan bagaimana Pasukan Pertahanan Israel memberi tahu Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) sebelum serangan di Beirut, Lebanon dimulai. Hal ini menjadi garis merah Iran, di mana perdamaian sekutunya itu menjadi mutlak.

"Seorang pejabat AS mengatakan Trump- yang menghentikan rencana serangan Israel serupa dalam percakapan telepon yang menegangkan beberapa hari sebelumnya- tidak senang dengan serangan tersebut," muat laman itu dikutip Selasa (9/6/2026).


"Iran kemudian meluncurkan rudal ke arah Israel, seperti yang telah mereka janjikan jika Israel menyerang ibu kota Lebanon. (Tapi sebelumnya) beberapa orang di IDF (militer Israel) percaya bahwa itu hanyalah ancaman kosong," tambahnya.

Sebenarnya dilaporkan bagaimana Trump sempat menelepon Netanyahu, Minggu malam. Ia meminta Netanyahu untuk tak membalas serangan Iran, balasan serangan Israel ke Lebanon.

Trump berargumentasi bahwa dia akan membuat kesepakatan dengan Iran dalam beberapa hari ke depan. Sehingga serangan balasan Israel tidak diperlukan atau malah membahayakan, membuatnya tidak akan mencapai kesepakatan tersebut.

Memang tidak ada emosi dibanding kemarahan Trump sebelumnya. Pekan lalu dikatakan bagaimana Trump marah ke Netanyahu dan menyebutnya "gila dan tak tahu terima kasih" karena eskalasi Israel ke Lebanon yang mengganggu negosiasi damai dengan Iran.

Namun sumber Israel mengatakan Netanyahu berpendapat bahwa tidak menanggapi serangan Iran akan berdampak buruk bagi Israel, buruk bagi AS, dan buruk bagi kesepakatan yang coba dinegosiasikan oleh Trump. Argumennya adalah bahwa tidak adanya tindakan akan memberikan pesan bahwa Iran lebih unggul dan dapat menghalangi AS dan Israel untuk mengambil tindakan militer.

"Percakapan berakhir tanpa keputusan jelas dari Netanyahu. Beberapa pejabat AS yang menerima telepon tersebut merasa bahwa presiden telah berhasil mengulur lebih banyak waktu," tulis Axios.

"Netanyahu, di sisi lain, merasa bahwa meskipun Trump menentang serangan balasan, tindakannya bukanlah sebuah pernyataan tegas 'jangan'," muatnya lagi merujuk sumber Israel.

"Bibi tidak mungkin menafsirkan apa yang dikatakan presiden (Trump) kepadanya sebagai sebuah perjanjian. Dia secara tegas diberitahu bahwa presiden tidak mendukungnya, namun dia melakukan apa yang dia lakukan," kata seorang pejabat AS dikutip laman itu lagi.

Akhirnya Melakukan Serangan

Setelah pembicaraan telepon dengan Trump, diketahui Netanyahu bertemu dengan kepala keamanan dan komandan IDF. Ia pun memberi tahu Gedung Putih bahwa dia memutuskan untuk melanjutkan serangan.

Trump menyebut bahwa Israel "sangat terlambat memberi kami pemberitahuan" tentang serangan hari Minggu. "Mereka sudah dalam perjalanan. Namun pada akhirnya saya membatasi (serangan Israel)," kata Trump dalam sebuah wawancara.

Meski begitu, seorang pejabat Israel mengatakan Netanyahu dan pejabat Israel lainnya telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Marco Rubio pada Minggu malam. Isinya yakni keduanya telah "mencapai kesepahaman mengenai target yang akan diserang".

Telepon dari 5 Negara

Sementara itu, usai serangan Netanyahu ke Iran, dilaporkan bagaimana Teheran kembali melakukan balasan. Bahkan rentetan rudal juga ditembakkan sekutu pemerintah Iran, kelompok Houthi di Yaman, Senin.

Hal ini membuat lima negara dari kawasan berbeda menelepon Trump. Mereka meminta Trump menekan Netanyahu.

"Negara-negara ini sangat prihatin. Mereka menyukai kesepakatan yang telah kami negosiasikan," kata Trump.

Trump juga mengklaim pemerintahannya menerima pesan dari Iran pada Senin pagi yang menyatakan kesediaan untuk menghentikan penembakan. Syaratnya satu, Israel harus melakukan hal yang sama.

"Mereka menelepon kami dan mengatakan bahwa mereka tidak melakukan serangan lagi dan meminta kami memberitahu Israel untuk tidak melakukan serangan lagi," kata Trump.

Sudah Siapkan Serangan Sejak April

Sebenarnya, Israel sedang mempersiapkan gelombang serangan terbesar terhadap Iran sejak April, dengan puluhan sasaran sensitif. Hal ini dikatakan dua pejabat Israel.

Namun Trump menelepon Netanyahu dan memintanya untuk menghentikan serangan tersebut. "Saya berkata, 'Bibi, sebaiknya kamu berhati-hati, atau kamu akan segera sendirian,'" kata Trump kepada Axios.

Sumber Israel mengatakan ada perbedaan pendapat mengenai seruan tersebut ,namun berakhir dengan Netanyahu setuju untuk mundur jika Iran tidak menyerang. Setelah panggilan telepon tersebut, Netanyahu meminta komandan senior militernya untuk membatalkan serangan tersebut.


(sef/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Israel Serang Lebanon Lagi, 2 Orang Tewas dan 11 Luka-Luka