MARKET DATA

Hingga Mei 2026, Produksi Minyak RI Tembus 576,2 Ribu Barel/Hari

Verda Nano Setiawan,  CNBC Indonesia
03 June 2026 12:57
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto saat mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta, Rabu (3/6/2026). (Tangkapan Layar Youtube/TVR Parlemen)
Foto: Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto saat mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta, Rabu (3/6/2026). (Tangkapan Layar Youtube/TVR Parlemen)

Jakarta, CNBC Indonesia - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat realisasi produksi minyak siap jual atau lifting minyak nasional hingga 31 Mei 2026 mencapai 576,2 ribu barel per hari (bph).

Angka ini masih lebih rendah dari target lifting minyak tahun ini yang dipatok sebesar 610 ribu bph.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto memaparkan realisasi produksi minyak, kondensat, dan NGL hingga 31 Mei 2026 tercatat mencapai 576,2 ribu barel per hari.

Jumlah tersebut terdiri dari produksi minyak sebesar 491,3 ribu bph, kondensat 55,8 ribu bph, dan NGL 29,1 ribu bph.

"Untuk lifting minyak, untuk 2026, kami saat ini realisasinya 576 ribu bopd (barrels oil per day/ bph), outlooknya sampai dengan akhir tahun sekitar 600-610 ribu bopd. Untuk 2027, sekitar 602-615 ribu bopd, dan dapat ditetapkan di antaranya itu," tutur Djoko dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (3/6/2026).

Sementara itu, untuk realisasi produksi gas, hingga 31 Mei 2026, produksi gas tercatat mencapai 6.550 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) dan salur gas mencapai 5.207 MMSCFD. Adapun target lifting/salur gas pada APBN 2026 ini sebesar 5.508 MMSCFD. Artinya, realisasi lifting gas baru mencapai 94,5% dari target tahun ini.

Adapun untuk Outlook 2026 produksi gas sekitar 6.787 MMSCFD dan salur gas sebesar 5.400 MMSCFD.

Di sisi lain, Djoko juga menyampaikan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) tahun 2026 diperkirakan mencapai US$ 86 per barel, sedangkan untuk 2027 diproyeksikan turun menjadi US$ 80 per barel.

"Untuk ICP realisasi 2026, sampai bulan Mei US$ 86 per barel, nah ini yang menyebabkan harga Pertalite dan seolah-olah subsidi tetap tidak naik sampai akhir tahun karena targetnya dananya cukup sampai bila ICP ini mencapai 100," kata Djoko.

(wia) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article SKK Migas Bidik Tambahan Pengeboran 100 Sumur Eksplorasi Tahun Ini


Most Popular
Features