MARKET DATA

SKK Migas Ramal Lifting Minyak Hingga Akhir Tahun Capai 610 Ribu Barel

Verda Nano Setiawan,  CNBC Indonesia
03 June 2026 14:30
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto saat mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta, Rabu (3/6/2026). (Tangkapan Layar Youtube/TVR Parlemen)
Foto: Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto saat mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta, Rabu (3/6/2026). (Tangkapan Layar Youtube/TVR Parlemen)

Jakarta, CNBC Indonesia - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memproyeksikan lifting minyak Indonesia hingga akhir 2026 berada di kisaran 600 ribu hingga 610 ribu barel per hari (bph).

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto memaparkan realisasi produksi terangkut (lifting) minyak, kondensat, dan NGL hingga akhir Mei 2026 mencapai 576,2 ribu barel per hari. Jumlah tersebut terdiri dari produksi minyak sebesar 491,3 ribu bph, kondensat 55,8 ribu bph, dan NGL 29,1 ribu bph.

"Untuk lifting minyak, untuk 2026, kami saat ini realisasinya 576 ribu bopd (barrels oil per day/ bph), outlooknya sampai dengan akhir tahun sekitar 600-610 ribu bopd. Untuk 2027, sekitar 602-615 ribu bopd, dan dapat ditetapkan diantaranya itu," papar Djoko dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (3/6/2026).

Sedangkan untuk lifting atau salur gas, hingga 31 Mei 2026, produksi gas mencapai 6.550 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) dan salur gas mencapai 5.207 MMSCFD. Adapun target lifting/salur gas pada APBN 2026 ini sebesar 5.508 MMSCFD. Artinya, realisasi lifting gas baru mencapai 94,5% dari target tahun ini.

Adapun untuk Outlook 2026, produksi gas diperkirakan mencapai sekitar 6.787 MMSCFD dan salur gas sebesar 5.400 MMSCFD.

Djoko menyampaikan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) tahun 2026 diperkirakan mencapai US$ 86 per barel, sedangkan untuk 2027 diproyeksikan turun menjadi US$ 80 per barel.

Di sisi lain, ia juga membeberkan rendahnya realisasi produksi minyak pada awal tahun dipengaruhi sejumlah gangguan operasional.

Pada kuartal pertama misalnya, terjadi kebocoran pipa milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) yang berdampak pada tujuh kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) di Terminal Dumai serta dua pemasok gas.

Setelah gangguan tersebut teratasi, produksi sempat meningkat. Namun pada kuartal kedua muncul kendala baru berupa gangguan kelistrikan di wilayah kerja PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) dan penurunan produksi di Lapangan Banyu Urip.

"Kemudian setelah teratasi kembali naik dan seperti begini, setelah itu ada problem kelistrikan di PHR dan dilanjutkan dengan penurunan produksi di Banyu Urip, di mana dua blok migas ini yang merupakan penopang terbesar produksi nasional kita," katanya.

(wia) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Hingga Mei 2026, Produksi Minyak RI Tembus 576,2 Ribu Barel/Hari


Most Popular
Features